If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
39. Kencan Pertama Failed


__ADS_3

Rindu? Apakah rindu itu ketika sedang sendirian dan mengharapkan kedatangan dan kehadiran seseorang di sisi kita? Emilia belum tahu apa itu rindu jika pada pria yang langsung menjadi suaminya karena mereka belum pernah pacaran sebelumnya.


"Dari ekspresimu sepertinya kamu …"


"I miss you too," Jawab Emilia tiba-tiba. Sontak kesunyian hadir diantara mereka berdua. Baik Julian maupun Emilia, tidak ada yang mengucapkan satu patah kata pun. Keduanya tampak diam membisu namun terlihat jelas Emilia menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya ke samping.


"Aku ingin pulang sekarang juga dan tidur di satu kasur yang sama denganmu." Suara Julian yang terdengar seperti orang yang sangat lelah dengan beban hidup yang berat, membuat Emilia tidak tega untuk menggodanya lebih jauh lagi.


"Apa yang bisa aku lakukan sebagai istri kontrak? Sial! Status istri kontrak ini benar-benar membuatku seperti tidak punya hak untuk melakukan hal seperti pasangan suami istri pada umumnya." Gumam Emilia dan dahinya berkerut. Hal itu terlihat jelas oleh Julian.


"Apa yang sedang kamu pikirkan di kepalamu yang kecil itu? Hehe," Julian terkekeh melihat ekspresi Emilia yang seperti sedang berpikir keras. "Oya, besok aku akan langsung ke Italy. Aku hanya dua hari disana, setelah itu aku akan pulang." Ucap Julian lagi.


"Okay. Hati-hati di jalan." Hanya itu yang Emilia bisa ucapkan pada pria yang selalu membuatnya seperti ratu. Pria yang berhasil membuatnya terlepas dari jeratan Dementor yang akan menghisap kebahagiaannya. (Dementor adalah makhluk imajinasi menyeramkan yang ada di film Harry Potter).


"Andaikan aku bisa membawamu." 


"Tapi itu tidak mungkin. Karena akan timbul banyak gosip yang tidak-tidak di kantor." Jawab Emilia.


"Maukah kamu pindah ke kantorku yang lain?" Julian seketika memiliki ide untuk memindahkan sang istri ke perusahaannya yang lain agar mereka bebas untuk antar jemput.


"Ah tidak tidak. Aku malas untuk beradaptasi lagi. Dan, aku akan kehilangan teman-teman terbaikku di kantor ini. Tidak, aku tidak mau pindah." Jawab Emilia spontan.


"Oh, baiklah."


"Ini sudah malam dan kamu juga besok harus terbang lagi. Tidurlah. Aku akan tidur sebentar lagi." Emilia mengingatkan pria yang wajahnya sudah tampak sangat kelelahan.


"Aku belum ngantuk."

__ADS_1


"Ya, kamu sudah mengantuk. Tidurlah cepat! Aku akan matikan panggilan ini." Ucap Emilia lagi.


"Okay okay, sampai bertemu lagi. Cepatlah tidur. Jangan tidur larut malam karena besok kamu harus berangkat pagi-pagi." Julian berkata dengan meninggalkan jejak berupa senyuman sebelum panggilan video berakhir.


Emilia pun segera menghabiskan makan malamnya dan langsung mematikan semua lampu yang menerangi dapur dan ruangan lainnya.


—--


Sementara itu di tempat berbeda dan di jam yang sama, sepasang pria dan wanita sedang menghabiskan waktu di sebuah kafe yang mulai berubah menjadi klub malam setelah jam sepuluh malam ke atas.


"Kamu sering datang kesini?" Tanya seorang wanita yang memegang gelas kecil berisi wine merah.


"Ini yang kedua kalinya. Aku senang datang kesini karena tempatnya cukup tenang untuk ukuran klub malam." Jawab pria yang wajahnya selalu menerbitkan senyum terpaksa.


"Katakan padaku, apakah kamu sudah resmi menjadi duda atau baru proses perceraian?" Tanya wanita yang tidak lain adalah Sophia.


"Proses perceraian. Tapi, aku akan membuatnya cepat."


"Tenang saja. Tidak akan ada yang protes dan melabrak kamu. Kami berpisah atas persetujuan kami berdua." Jawab pria bernama Alfred, sambil mengangkat gelas kecil berisi wine merah dan menyesap isinya perlahan.


Sophia berpikir sejenak lalu dia melirik arlojinya.


"Sepertinya ini sudah larut malam. Aku harus pergi sekarang karena besok masih harus berangkat pagi-pagi." Sophia berdiri dan bersiap-siap untuk pergi meninggalkan meja tempat dia berada selama hampir dua jam itu.


"Apa kamu takut dengan statusku?"


"Sejujurnya, iya. Aku tidak mau hadir menjadi orang ketiga dari satu hubungan yang belum selesai. Kalau kamu sudah selesai dengan status suami orang, kamu bisa hubungi aku lagi. Permisi," Sophia meninggalkan dua lembar uang di atas meja untuk membayar minumannya sendiri.

__ADS_1


"Bahkan harga diriku sebagai seorang lelaki yang seharusnya membayar minuman pun kini tidak ada, huft." Ucap Alfred lalu menenggak minumannya sampai habis.


"Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin berhutang saja." Sophia langsung pergi setelah menjawab perkataan pria yang sepertinya sebentar lagi akan mabuk.


Sophia berjalan cepat menuju parkiran mobilnya. Namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Alfred ketika dia baru saja keluar dari tempat itu.


"Aku butuh teman untuk bercerita. Aku kesepian. Maukah kamu menjadi temanku?" Suara Alfred yang sendu dan wajahnya yang tampak sangat menyedihkan, membuat Sophia tidak tega untuk meninggalkannya.


"Hahhh, kenapa kamu harus begini?" Dengan helaan napas berat, Sophia mengerutkan bibirnya.


"Aku akan mengantarkan kamu pulang."


"Tidak, aku yang berakhir akan mengantarkan kamu pulang karena wajahmu sudah merah begitu dan tampaknya kamu sudah agak mabuk." Jawab Sophia sambil berdecih.


Benar saja, Sophia pun akhirnya adalah orang yang mengantarkan Alfred pulang. Alfred memberikan alamat rumahnya sebelum pria itu benar-benar mabuk parah.


Sebuah pagar rumah yang sangat tinggi dan lokasi tanah yang cukup luas, di lingkungan perumahan yang cukup elit, ada seorang petugas keamanan berjaga di pos pintu gerbang rumah itu.


"Maaf, apakah benar ini rumah Alfred?" Sophia turun dari mobil dan bertanya pada seorang petugas keamanan dari celah pintu.


"Anda siapa?" Jawab pria di seberang pintu.


"Aku mengantarkan majikan kalian pulang. Dia mabuk berat dan tidak sadarkan diri. Lihatlah!" Sophia sengaja membuka kaca penumpang dan disana terlihat jelas Alfred yang sedang menyandarkan kepalanya di kepala kursi dengan mata terpejam.


"Kalau begitu, kami akan membuka pintunya. Anda bisa masuk dan kami akan membawa tuan Alfred ke dalam kamar beliau." Sophia mengangguk setuju dan dia pun segera menuju mobilnya kembali untuk bersiap-siap masuk. Pintu gerbang yang terbuat dari besi baja itu terbuka perlahan dan akhirnya tampaklah rumah yang sangat mewah lengkap dengan lampu taman yang cenderung temaram, juga ada lampu jalan di sisi kanan kiri menuju halaman depan rumah.


Petugas keamanan yang tadi tampak berlari-lari kecil memanggil teman lelakinya yang lain untuk membantu mengangkat Alfred dan membawanya masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Sophia hanya mengamati dari jarak cukup dekat dan dia pun berpamitan pulang pada salah seorang pelayan wanita dari model pakaian yang dipakai, usia nya sekitar lima puluhan.


"Huft, kencan pertama berakhir dengan mengantarkan sang pria pulang. Bukankah ini terbalik? Seharusnya aku yang diantarkan pulang." Sophia memukul setir kemudi berkali-kali meratapi nasibnya di kencan pertamanya setelah sekian tahun.


__ADS_2