If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
68. Di Rumah Edwin


__ADS_3

Roy duduk di kursi dapur dan mengawasi wanita yang tampak linglung di depan kompor.


"Cih, dasar wanita tidak berguna!" Ucapnya.


Roy meninggalkan Netta yang menangis sesenggukan di hadapan kompor dua tungku tersebut.


BRAK!


Bunyi pintu kamar ditutup oleh Roy terdengar sangat kencang dan mengagetkan Netta yang masih menangis meratapi nasibnya. Tanpa berpikir panjang lagi dia mengambil tas dan hendak melarikan diri dari rumah terkutuk ini. Namun, jantungnya menjadi berdegup kencang ketika pintu yang akan dibukanya ternyata malah terkunci tidak bisa dibuka.


"Mau kabur? Jangan harap! Aku akan mengurungmu di rumah ini dan membawamu ke neraka bersama-samaku. Hahahaha," Roy muncul dari dalam kamar dan menertawakan Netta yang tampak panik dan ketakutan. Netta berteriak histeris dan tersungkur jatuh di dekat pintu.


***


Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk Sophia pergi berkunjung ke rumah orangtua Edwin. Namun, hari-harinya sudah mulai resah dan tidur tak tenang sejak pertama Edwin mengajaknya. Karena baru kali ini dia akan bertemu orang tua dari pria yang mengencaninya.


"Kamu tenang saja, sayang. Orang tuaku baik dan tidak menggigit kok. Hehehe," Edwin merasa gemas sekali melihat tingkah Sophia yang akan gugup jika membicarakan tentang orang tuanya.


"Memangnya aku terlihat tidak tenang?" Tanya Sophia balik.


"Sangat … terlihat … jelas." Ucap Edwin sambil tersenyum jenaka.

__ADS_1


"Uhhh, entahlah. Aku seperti anak remaja yang baru merasakan cinta ya." Sahut Sophia malu-malu.


"Karena kamu memang baru pertama kali pacaran dan aku menjadi pria yang sangat beruntung bisa memilikimu seutuhnya." Edwin mengecup dahi, hidung, pipi, dan berakhir di bibir sang kekasih.


Untuk pertama kalinya, Sophia mendatangi rumah Edwin yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat Edwin bekerja. Hari ini adalah akhir pekan dan Sophia sedang tidak ingin bepergian kemana-mana jadi Edwin berinisiatif mengajak sang kekasih untuk berkunjung ke rumahnya.


Rumah yang dari luar tampak sederhana tapi begitu pintu depan terbuka, maka tampaklah banyak ruangan yang berukuran luas dan sangat estetika. Edwin mengakui kalau rumah ini adalah hasil rancangan salah satu temannya dan dia sangat menyukai rumah ini, dibandingkan hotel. Karena di rumah ini bahkan ada kolam renang pribadi yang tidak terlihat dari luar.


"Edwin, apakah kamu serius menjalin hubungan denganku?" Sophia mengecup telapak tangan Edwin yang lebar dan hangat, sehangat pelukan dan ciuman yang selalu Sophia rasakan saat mereka berdua.


"Tentu saja. Apakah semua yang kulakukan masih kamu ragukan?" Edwin menatap sepasang mata sang gadis pujaan. Seumur hidupnya, belum pernah dia memiliki hati dan rasa sedalam ini pada seorang wanita. Meski beberapa teman wanita yang mendekatinya berharap akan menjadi kekasihnya, namun Edwin tidak menghiraukan itu semua. Hatinya belum pernah bisa terbuka seperti saat mengenal Sophia.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya … entahlah. Aku juga bingung dengan perasaanku." Sophia berjalan menuju ruang tamu dan duduk di salah satu sofa panjang yang tersedia. Sahabat baik Emilia itu langsung diam. Dengan tatapan kosongnya, Sophia memilin kesepuluh jari tangannya dengan kepala tertunduk.


"Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakanlah. Aku akan mendengarkannya."


"Aku … aku khawatir kalau … orang tua kamu tidak akan menyukai aku." Jawab Sophia lirih.


Edwin tersenyum lalu beralih duduk di sebelah Sophia.


"Sayang, mereka akan menyukai wanita yang aku sukai. Justru sudah lama mereka ingin aku membawa seorang kekasih ke rumah mereka. Namun, aku selalu beralasan sibuk dan sebagainya. Nah, setelah kita ke rumah mereka nanti, pertanyaan-pertanyaan itu sudah tidak akan aku dapatkan." Edwin mendekap Sophia dari samping dan membisikkan kata-kata yang membuat Sophia kembali berseri wajahnya dan senyuman cantik kembali merekah di bibirnya yang dipoles dengan lipstik warna merah muda.

__ADS_1


"Mereka pasti akan menyukai wanita pilihanku."


Suasana romantis dan sepi, sangat mendukung situasi yang membuat mereka menjadi saling menginginkan satu sama lain untuk sedekat mungkin. Edwin ******* bibir Sophia dengan penuh cinta dan kelembutan. Sepasang tangan panjang dan kekarnya, membopong Sophia menuju ke kamar utamanya yang berukuran paling luas dibandingkan kamar lainnya. Sophia tidak melepaskan pegangan tangannya di leher sang pria yang telah menjadi kekasihnya sejak kecelakaan itu berlangsung. Kecelakaan yang membawa berkah baginya, juga bagi sang pria. 


***


"Kamu yakin akan membawaku ke perjalanan bisnismu?" Emilia yang sedang memasak untuk makan siang dia dan suaminya, menghentikan sejenak tangannya yang masih memegang pisau.


"Ya tentu saja, kenapa tidak?" Julian duduk menemani sang istri yang sedang memasak, dengan duduk di kursi mini bar sambil membaca tabloid bisnis langganannya.


Emilia berpikir kalau Julian ingin melancarkan gerakan untuk memperkenalkan Emilia ke khalayak umum. Siap atau tidak, Emilia harus sudah siap. Karena mereka sudah sepakat untuk memberitahukan ke semua orang kalau mereka sudah menikah. Tidak akan ada lagi istilah pernikahan kontrak di antara mereka. Pernikahan yang sengaja ditawarkan Julian agar bisa mengikat Emilia menjadi istrinya. Ide yang sekilas didapatkannya ketika mengetahui kalau Emilia memiliki hutang yang sangat banyak pada keluarga tunangannya. Julian tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan langsung menawarkan Emilia untuk membantunya, meski dengan satu syarat.


"Hanya satu minggu dan aku yakin kamu juga akan menikmati perjalanannya." Julian meletakkan tabloid yang sudah selesai dibacanya itu di atas meja.


"Singapura. Aku harus memberikan alasan apa ke kantor?" Emilia memikirkan alasan khusus yang tidak akan membuat teman-teman kantornya curiga.


"Menemani suami dalam perjalanan bisnis. Mudah bukan?"


"Julian! Aku serius." Emilia menghela napas kesal mendengar jawaban Julian yang terkesan main-main.


"Aku sangat serius, sayang. Kalau ada gosip buruk beredar di luar, aku sudah bilang padamu kalau mereka tidak akan pernah bisa menikmati gaji lagi di perusahaanku." Senyuman tipis Julian mengakhiri ucapannya yang penuh rasa percaya diri yang tinggi. Berbanding terbalik dengan Emilia yang masih bingung dan hilang arah dengan semua situasi ini.

__ADS_1


"Mari kita lihat apa yang bisa aku bantu." Julian mengambil pisau dari tangan Emilia dan mulai merajang cabe juga bawang yang ada di talenan. Kaos putih ketat yang melekat di tubuhnya, semakin menampakkan jelas otot-otot di dada, perut, dan lengannya yang sehari-hari tersembunyi di balik jas kerja. Emilia tidak bisa untuk tidak mengagumi maha karya dari sang Maha Kuasa yang telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya Julian.


"Jangan terlalu menatapku lama-lama. Nanti aku akan membawamu ke dalam kamar dan melewatkan makan siang sampai makan malam dengan pergumulan panas di atas ranjang." Jawab Julian sambil tersenyum tipis ke arah sang istri.


__ADS_2