
"Jangan terlalu menatapku lama-lama. Nanti aku akan membawamu ke dalam kamar dan melewatkan makan siang sampai makan malam dengan pergumulan panas di atas ranjang." Jawab Julian sambil tersenyum tipis ke arah sang istri.
"Cih, dasar mesum!" Emilia menyeringai kesal karena sikap Julian yang semakin hari semakin berani menunjukkan karakter sesungguhnya tanpa malu-malu. "Lalu, apa yang harus aku lakukan di sana? Apa yang harus aku katakan pada HRD kalau aku harus pergi denganmu selama satu minggu lamanya?" Beberapa orang sudah menaruh curiga pada Emilia yang sering dipanggil ke dalam ruangan kerja sang bos dan keluar paling cepat satu jam kemudian. Dia tidak tahu alasan apa yang akan dia berikan kalau selama satu minggu harus mengikuti suami yang juga merupakan bos di kantor tempatnya bekerja.
"It's a piece of cake (baca: mudah saja)." Ucap Julian sambil mengedipkan satu mata.
"Ahhh, okay." Emilia berjalan menuju meja makan untuk merapihkan taplak dan menyiapkan semua peralatan makan. Sia-sia rasanya berdebat dengan pria yang selalu memiliki solusi untuk setiap permasalahan. Terkadang Emilia terpaksa bertanya pada Julian jika sudah menemui jalan buntu. Dan herannya, semudah itu Julian menemukan ide cemerlang yang tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh Emilia. Dan untuk alasan dia mengikuti Julian nanti selama satu minggu, Emilia menyerahkan segalanya pada pria itu. Toh mereka sudah sepakat untuk membuka status mereka yang sudah disembunyikan dengan rapat selama dua bulan lebih ini.
Makan siang yang awalnya dimasak oleh Emilia, namun sudah beralih ke Julian, akhirnya telah tertata cantik di atas meja makan. Sepasang mata Emilia berbinar-binar melihat penampakan masakan sang suami yang menggugah selera.
"Hapus air liurmu, sayang. Hampir menetes ke atas makanan." Emilia spontan mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Merasa dijahili, Emilia merengut kesal dan memukul lengan berotot Julian dengan tenaga yang dia bisa. Julian tertawa terbahak-bahak melihat sang istri mudah tertipu oleh ucapannya.
"Mari makan," Emilia dan Julian yang sudah mencuci tangan di wastafel terlebih dahulu, langsung duduk manis melingkari meja bulat yang ukurannya cukup untuk membuat kedua kaki mereka saling bersentuhan di bawah meja.
Emilia sangat menikmati makanan yang dimasak sang suami. Dia sungguh tidak akan mengira kalau di kehidupannya yang kedua ini, dia akan menikah dengan pria yang tidak pernah dia perhatikan sebelumnya. Sosok Julian di kehidupan sebelumnya hanyalah seorang bos seperti kebanyakan bos lainnya. Tidak pernah terlintas di benaknya untuk bisa dekat dengan bos yang selalu tampak dingin dan garang di matanya. Apalagi untuk menjadi istri dari sang bos, itu adalah pemikiran yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
__ADS_1
Hutang lima ratus juta adalah penyebab mereka menikah dan semakin dekat lagi sejak mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Tidak ada proses pacaran yang harus dilalui dalam suka dan duka seperti para pria dan wanita lakukan sebelum menikah. Tidak ada proses cemburu satu sama lain sebelum menikah. Dan, semua yang pasangan lain lakukan sebelum menikah, justru mereka lakukan saat mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri.
"Apa makanannya enak?" Julian melihat istrinya menyantap masakan buatannya sambil sesekali tersenyum. Pria itu mengerutkan alisnya melihat istrinya senyum-senyum sendiri sambil menatap piring yang ada di hadapannya. Andaikan dia bisa membaca pikiran dan hati Emilia, dia ingin sekali mengetahui apa yang membuat sang istri senyum-senyum sendiri.
"Sangat enak. Aku pikir seorang bos tidak bisa memasak dan lebih senang membeli makanan jadi di luar." Ucap Emilia sambil menghabiskan sup jagung sedikit demi sedikit hingga akhirnya tandas tak tersisa.
"Mungkin orang lain begitu, tapi aku lebih suka memasak sendiri makanan yang akan menghuni perutku. Aku harus memastikan semua bahan yang akan menjadi ototku adalah makanan yang higienis dan terjaga kebersihannya." Jawab Julian sambil menelan sup jagung di sendok terakhirnya.
"Wow, perfeksionis sekali." Emilia nyaris berteriak takjub. Namun di mata Julian, Emilia seolah sedang mengejeknya. Julian tahu kalau di luar sana banyak gosip yang beredar kalau dia menghindari keramaian namun justru selalu terlihat dekat dengan teman-teman lelakinya. Julian pun membuat sendiri image yang menyukai sesama jenis agar tidak ada wanita yang mendekatinya dan dia juga tidak perlu repot-repot untuk menolak mereka.
Emilia merasa kalau perkataannya yang sebenarnya memuji sang suami dari lubuk hatinya yang paling dalam, justru membuat sang suami tersenyum lirih.
"Aku tidak tersinggung, karena kamu ada benarnya. Aku memang sangat perfeksionis, dan aku baru menyadarinya sekarang. Sampai aku memilih istri pun harus sesuai kriteriaku. Atau, aku tidak akan menikah sama sekali." Ucap Julian dengan senyum lebarnya.
Julian pun berdiri membawa piring kotor ke wastafel.
__ADS_1
"Biar aku yang mencucinya. Kamu istirahat saja." Emilia buru-buru mengambil alih pekerjaan yang akan dilakukan Julian.
"Kita selesaikan ini dulu, lalu aku akan mengajakmu ke mall untuk membeli keperluan kita nanti."
"Mall?" Sepasang masa Emilia melebar. Baru kali ini dia dan Julian akan pergi ke mall berdua.
"Yups." Tanpa membuang waktu lagi, Julian mulai membersihkan meja dan bekas peralatan makan. Emilia langsung mencuci peralatan makan yang kotor dengan gesit.
Tidak sampai lima belas menit, Emilia sudah siap dengan outfit sederhana untuk pergi ke mal. Kaos lengan pendek warna biru dan celana panjang jeans warna senada, membuatnya tampak lebih cantik dan lebih segar.
Julian melihat sang istri sekilas lalu kembali ke kamar dan tiba-tiba keluar dengan membawa jaket jeans lalu memakaikannya ke tubuh istrinya. Emilia hanya bengong dan menurut saja.
"Aku merasa dadamu semakin besar saja sejak kita menikah. Jadi, aku tidak ingin kamu memakai kaos ketat lagi kalau keluar rumah. Perlihatkan tubuh seksimu hanya untukku, sayang." Kedipan nakal Julian membuat Emilia menelan saliva susah payah.
"Dasar!" Emilia tersenyum lalu mengambil tas selempangnya dan mereka pun berjalan dengan tangan Julian mendekap pinggang Emilia dari belakang.
__ADS_1
Act of service yang ditunjukkan Julian benar-benar membuat hati Emilia sangat terharu dan merasa beruntung bertubi-tubi memiliki suami yang sangat menyayangi dan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya suami.
Mobil mewah keluaran Eropa itu pun meninggalkan area apartemen menuju tempat yang akan membuat Emilia menghela napas berkali-kali.