If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
41. Kedatangan Donna


__ADS_3

"Maafkan aku, makan siangnya kita tunda yaa. Aku dijemput pria kemarin. Kami akan makan siang bersama. Bye, jangan kerja terus. Cari lelaki dong, hahaha!" Emilia menyeringai sinis membaca pesan singkat dari sahabatnya itu.


"Heh, kalau kamu tahu siapa lelakiku, kamu pasti langsung pingsan." Gumam Emilia sambil cemberut kesal karena ditinggal sendirian makan siang di saat semuanya sudah turun ke lobi.


"Baiklah, mau bagaimana lagi? Daripada aku kelaparan, mari ke kantin saja." Emilia memutuskan untuk makan siang sendiri ke kantin. Toh dia sudah terbiasa melakukannya jadi dia tidak akan peduli.


Sedangkan di tempat lain, Sophia bertemu dengan Alfred untuk ketiga kalinya. Pria itu tampak sangat malu dan gugup karena dia sudah dua kali meninggalkan kesan tidak mengenakkan pada wanita yang duduk di hadapannya.


"Maafkan aku. Sepertinya aku memastikan diri untuk menjauh dari alkohol sejak hari ini agar tidak memalukan diriku sendiri seperti kemarin." Ucap Alfred sambil menundukkan wajahnya.


Sophia awalnya kaget melihat sikap pria yang duduk di hadapannya ini seperti kucing yang takut akan diterkam seekor harimau. Namun, karena diantara mereka tidak ada status tetap jadi dia tidak memiliki beban sama sekali untuk berbicara dengan pria ini.


"Ya, kamu bisa mulai menjauhi alkohol. Jadi sekarang, apa yang ingin kamu katakan padaku?" Sophia menenggak minuman yang ada di hadapannya.


"Mungkin ini terdengar tidak sopan. Tapi, maukah kamu jadi kekasihku?"


BYURRR ..


Air minum yang masih berada di dalam rongga mulut Sophia, menyembur keluar ke wajah Alfred yang langsung bengong karena tiba-tiba mendapatkan hujan lokal.


"Maaf maaf," Sophia spontan mengambil tissue dan mengelap wajah Alfred yang basah kuyup. Sang pria hanya terkekeh setelah sadar dari lamunannya.


"Hehehe, baru kali ini ada yang berani menyemburkan air ke wajahku. Bahkan dari mulut langsung." Jawab pria yang Sophia dibuat takjub karena wajah Alfred yang basah justru menjadi semakin tampan di matanya.

__ADS_1


"Ternyata kamu disini," Suara seorang wanita yang tiba-tiba datang dan berdiri di sebelah meja mereka, membuat Sophia mengerutkan alis karena tidak kenal dengannya. Berbeda dengan Alfred yang tampak mengeraskan rahang dan seperti enggan untuk melayaninya.


"Alfred, kita belum sah bercerai tapi kamu sudah berkencan dengan wanita lain. Apa kamu tidak malu?" Ucap wanita itu yang tidak lain adalah Donna, mantan istri Alfred.


"Malu? Cih! Sebaiknya kamu mengaca sebelum berkata seperti itu padaku. Ayo kita pergi," Alfred menggenggam tangan Sophia dan menariknya dari wanita yang malas untuk didebat.


"Tunggu! Aku tidak mau pergi begitu saja. Maaf, tapi anda siapa?" Sophia menampik tangan Alfred dan bertanya balik pada Donna.


"Aku siapa? Tanyakan itu pada pria yang mengajak kamu berkencan." Seringai sinis diberikan Donna dan matanya menatap Sophia dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Kamu … mantan istrinya? Yang selingkuh itu? Ahhh, ternyata aku bisa melihatnya sekarang." Baik Alfred maupun Donna kaget bukan main mendengar ucapan Sophia.


"Dengar ya, nona! Aku bukan pelakor karena aku bertemu dengan Alfred setelah dia bercerai. Sebaliknya, yang aku tahu adalah kamu berselingkuh dengan banyak pria saat masih menikah dengannya. Ckckck, jangan pernah maling teriak maling. Aku bukan perempuan LE MAH!" Ucapan Sophia yang berani namun dengan intonasi pelan menusuk, membuat Donna mulai berpikir ulang untuk membuat malu perempuan yang menatap tajam matanya.


"Aku kesini untuk berbicara dengan suamiku," Ucap Donna dengan gigi gemeretak.


"Mantan suami. Dan, aku sudah tidak ingin bicara apa-apa lagi denganmu. Kalau ada yang ingin kamu bicarakan, temui saja pengacaraku." Alfred menarik tangan Sophia dan mereka pun keluar meninggalkan kafe setelah membayar semua makanan dan minuman yang belum sempat dinikmati.


"Kenapa kamu menarik tanganku? Aku tidak bersalah. Dengan begini justru aku merasa diperlakukan seperti orang ketiga di pernikahan kalian." Sophia menghempaskan tangan Alfred dan marah besar karena sikap Alfred yang langsung menarik tangannya keluar.


"Maafkan aku, aku hanya tidak ingin terlibat lagi dengannya. Dan, aku tidak ingin kamu juga ikut terlibat didalamnya. Dia perempuan yang bisa membolak-balikkan fakta dan keadaan." Jawab Alfred.


Wajah Sophia yang masih menunjukkan dengan jelas emosi amarahnya, membuat Alfred menjadi tidak enak hati. Di tiga pertemuan mereka, semuanya berakhir dengan tidak menyenangkan.

__ADS_1


"Aku antarkan ke kantor."


"Ya tentu saja. Aku sudah tidak mood untuk makan siang." Jawab Sophia sambil masuk ke dalam mobil Alfred lalu memasang seat belt dan duduk dengan wajah masih kesal. Kesal karena dia gagal makan siang di tempat kesukaannya dan gagal untuk berbicara baik-baik dengan pria yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu itu.


"Maafkan aku tapi …"


"Maaf maaf terus. Kamu tidak ada kata lain selain maaf? Siang ini saja aku seperti sudah mendengar ratusan kali permintaan maaf darimu. Hahhhh!" Sophia menghela napas panjang sebagai pengganti amukan yang akan semakin hebat jika diteruskan. Dia tahu dia tidak perlu marah-marah pada Alfred. Namun, dia marah karena baru kali ini dihadapan banyak orang dia menerima penghinaan seperti ini.


"Aku akan menemuimu setelah urusanku beres dengannya. Dengan begitu, dia tidak akan mengganggu lagi." Jawab Alfred dengan suara pelan.


"Ya, itu lebih baik." Jawab Sophia.


Sepanjang perjalanan menuju kantor Sophia, tidak ada yang berbicara sama sekali. Alfred yang terkenal garang dan senang berbicara dengan semua teman wanitanya, mendadak hilang semua kekuatannya jika berada di dekat Sophia. Sophia seolah-olah adalah wanita yang bisa merubah kehidupannya.


—--


"Selamat pagi," Seorang wanita Italia yang sangat cantik dan dengan pakaiannya yang anggun dan elegan, keluar dari kamar dan menyapa semua orang yang ada di meja makan. Sang suami dan anak satu-satunya duduk bersama di ruang makan adalah pemandangan yang sangat langka.


Sang anak baru tiba di rumah orangtuanya di Italia setelah bertahun-tahun lamanya merantau ke banyak negara untuk melakukan perjalanan bisnis. Kalaupun ada di Italia, sang anak akan tinggal di apartemennya seorang diri.


"Pagi mom," Sapa sang anak dalam bahasa Italia.


"Pagi." Jawab sang kepala keluarga yang merupakan warga negara asli Indonesia sesungguhnya namun pindah kewarganegaraan mengikuti sang istri.

__ADS_1


"Mommy senang sekali akhirnya kamu pulang dan mau menginap di rumah orang tua kamu ini. Berapa lama kamu akan berada di sini? Mommy mau ajak kamu ke pesta pernikahan anak teman mommy dua hari lagi." Jawab wanita bernama Caitlyn Ginevra, yang merupakan ibu kandung Julian Miller.


__ADS_2