If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
46. Oleh-oleh Dari Suami


__ADS_3

"JULIAN! JULIAN! TUNGGU AKU!" Teriakan Selena terdengar hingga ke ruangan keluarga tempat dimana dua pasang orang tua sedang duduk bercengkrama dan membicarakan banyak hal.


Namun, teriakan Selena hilang ditiup angin. Mobil berwarna hitam bold keluaran dari pabrikan Eropa melesat meninggalkan rumah yang tidak akan didatangi oleh Julian lagi, setidaknya itu menurutnya.


"Selena, ada apa?" Mommy Selena menghampiri anaknya begitu mendengar teriakan dari ruang depan.


"Julian, mom. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku." Rahang Selena mengeras dan satu kakinya dihentakkan ke atas lantai dengan perasaan kesal luar biasa.


"Selena, kamu sudah dengar sendiri kan kalau dia memang tidak ingin menikah denganmu. Sudahlah, masih banyak lelaki yang lebih baik dari Julian. Mommy dan daddy tidak bisa memaksakan kehendak kalau memang dia tidak mau." Wanita dengan usia paruh baya itu mengusap punggung anaknya dengan penuh kasih sayang.


Semua orang tahu betapa Selena sangat memuja Julian dan menyukainya sejak kecil. Tapi, cinta yang dipupuk Selena sejak lama itu harus pupus karena sang pria tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan.


—--


Malam ini Julian sudah bertekad untuk kembali secepatnya ke Indonesia. Entah besok pagi atau sore. Dan dia ingin memberikan kejutan kepada sang istri dengan tidak memberitahukan kepulanganny. 


Sebelum pulang ke rumah mommy dan daddynya, Julian menyempatkan diri menuju butik yang menjual khusus pakaian wanita. Dia ingin membelikan sang istri pakaian yang nyaman untuk bekerja dan …. Mata Julian langsung melotot sempurna ketika dia melihat sesuatu yang tergantung di sudut butik, sebuah lingerie warna hitam transparan berbahan lace. Hampir tidak ada bagian tubuh yang bisa ditutupi dengan kain tidak lebih dari satu meter itu.


"Selamat malam, tuan. Apakah ada yang bisa kami bantu?" Seorang pramuniaga wanita menghampiri Julian yang tampak sedang bingung memilih apa yang harus dibeli.


"Aku ingin membeli pakaian untuk istriku. Tapi, aku tidak tahu yang mana yang cocok." Jawab Julian dengan jujur. Dan, dia memang belum pernah membelikan baju untuk seorang wanita. Bahkan ke mommynya saja dia tidak pernah membelikan.

__ADS_1


"Baiklah, kalau tidak keberatan, kami akan bantu memilihkannnya. Tapi, sebelum itu, bisa tuan tolong sebutkan ciri-ciri istri tuan." Jawab pramuniaga tersebut dengan bahasa yang sangat sopan dan senyum mengumbar sepanjang ucapannya.


"Hmm, istriku memiliki tinggi hampir seleherku, tubuhnya langsing, namun … dadanya cukup besar." Julian menutup mulutnya malu-malu. Wajahnya merona merah membayangkan tubuh sang istri yang dia sudah sangat hapal lekukannya. Sang pramuniaga tersenyum simpul mendengar ucapan seorang suami yang masih tampak malu-malu itu. Dia langsung berpikiran kalau calon pembeli dihadapannya ini adalah pengantin baru.


"Baiklah, kami akan menunjukkan koleksi terbaru kami yang akan cocok dengan istri tuan." Wanita itu meminta Julian untuk mengikutinya ke bagian tengah butik.


Setelah hampir satu jam, akhirnya Julian berhasil membawa pulang satu paper bag besar. Satu setel pakaian kerja terdiri dari atasan kemeja dan rok selutut. Pikiran Julian langsung berkelana membayangkan penampilan Emilia yang pastinya sangat cantik jika memakai setelan baru ini. Juga dua setel lingerie dengan potongan yang sangat seksi dan mengumbar seluruh lekukan tubuh sang istri kelak. Juga dua setel pakaian rumahan berupa dress midi yang ukurannya sudah disesuaikan dengan postur tubuh Emilia yang tidak tinggi, pendek pun tidak.


"Kamu darimana saja?" Suara Caitlyn yang menyapa Julian ketika baru masuk melangkahkan kaki ke dalam rumah, membuat Julian menghentikan langkahnya.


"Ada apa, mom?"


"Mommy bertanya, kamu dari mana saja? Setelah kamu membuat Selena menangis, kamu pergi begitu saja tidak pamitan pada aku dan daddy kamu." Caitlyn yang sudah sampai rumah sejak tadi, ingin berbicara dengan Julian begitu sampai rumah. Tapi, yang dicari justru belum sampai rumah.


"Aku membelikan istriku oleh-oleh. Aku sudah sangat mengantuk, mom. Tidak bisakah kita bicara besok saja?" Julian memasang wajah mengantuk dan mulut menguap lebar. Caitlyn hanya bisa menghela napas pasrah. "Good night, mom." Julian menghampiri mommynya dan mencium kening sang mommy.


Sesampainya di dalam kamar, Julian meletakan tas belanjanya dengan sangat hati-hati di dekat koper yang sudah dia kemas dengan rapih semua pakaiannya.


"Aku ingin menelpon Emilia. Apa yang sedang dia lakukan saat ini?" Julian melihat jam di dinding pukul dua belas malam. Itu berarti di Jakarta waktu sekarang menunjukkan pukul enam pagi. Biasanya Emilia sudah bangun dan bersiap-siap berangkat di jam seperti ini.


Beberapa detik dia menunggu panggilannya diterima dan akhirnya telponnya pun diangkat Emilia.

__ADS_1


"Julian," Suara yang sangat dirindukan Julian. Suara yang membuatnya selalu kangen untuk cepat pulang.


"Emilia, kamu sedang apa?" Tanya Julian dengan suaranya yang terdengar berat dan mengantuk.


"Julian, ini sudah jam berapa? Kenapa kamu belum tidur?" Emilia yang melihat jam di pergelangan tangannya, mengerutkan dahi. Wanita yang baru saja selesai mandi itu, mendengar bunyi telpon masuk di kamarnya dan bergegas menyudahi ritual mandinya.


"Aku ada urusan keluarga tadi dan baru saja kelar. Aku langsung teringat untuk menelpon kamu sebelum tidur." Suara Julian yang terdengar capek itu membuat Emilia tidak tega untuk bertanya lebih lama lagi.


"Tidurlah. Dan, telpon kembali saat aku makan siang karena kamu sudah bangun tidur saat itu." Ucapan Emilia membuat Julian mengangguk-angguk setuju meski tidak terlihat sang istri.


"Aku akan tidur sekarang. Kamu jangan terlalu capek. Nanti aku telpon lagi ya,"


"Okay. Selamat beristirahat."


"Selamat bekerja."


Keduanya pun memutuskan panggilan namun keduanya tidak lepas menatap layar ponsel masing-masing yang sudah menggelap layarnya.


Emilia menghela napas panjang. Kalau sesuai rencana, Julian akan pulang satu minggu lagi. Sesungguhnya Emilia sedikit lega saat tidak ada Julian. Karena dia bisa cukup bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Namun, jika malam datang, bayangan Julian menghampirinya saat matanya terpejam. Suara beratnya, telapak tangannya yang lebar namun terasa lembut dan hangat, wajahnya yang sangat tampan seperti aktor peran utama di drama Turki, dan sikapnya yang sangat memperdulikan pendapat dan permintaan Emilia, mampu membuat Emilia melupakan segala beban pekerjaan yang menghimpitnya seharian.


Emilia mengibas-ngibaskan kepalanya mengusir semua ingatan tentang sang suami yang masih jauh di negeri orang. Dia pun bersiap-siap untuk mencuci piring setelah selesai membuat toast sandwich untuk dirinya sendiri. Emilia tidak ingin ada orang lain di rumah ini. Dia bisa melakukan semuanya sendiri karena sudah terbiasa sejak kecil melakukan pekerjaan rumah tangga tanpa asisten.

__ADS_1


Mulai hari ini Emilia sudah meminta supir Julian untuk tidak mengantar jemputnya ke kantor lagi. Emilia sudah mendapatkan ijin dari Julian untuk membawa sendiri mobilnya pulang pergi, namun dengan pengawasan khusus dari supirnya menggunakan kendaraan lain, agar tidak menimbulkan kecurigaan siapapun.


__ADS_2