If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
2. Kesempatan Kedua


__ADS_3

Emilia bergegas mengejar sang suami tanpa perlu memanggil


namanya. Apa yang dilihatnya baru saja, membuatnya semakin penasaran dengan apa


yang sebenarnya terjadi saat ini. Dia berusaha untuk berpikiran positif pada


sang suami yang tidak pernah dia cintai namun selalu dia hormati dan hargai.


Meski tubuhnya lemas hampir tidak bertenaga, Emilia berjalan


mengekor sang suami yang menyadari ada istrinya berjalan dibelakangnya. Roy berhenti


di depan sebuah kamar dan langsung menempelkan kunci berbentuk kartu persegi


tersebut. Emilia bergegas ingin ikut masuk namun langkah kakinya terhenti


ketika mendengar suara sang suami sedang berbicara dengan orang lain.


“Apakah kamu sudah mengantarkan dia pulang?”


“Dia sudah pergi. Sekarang kita bebas. Aku masih punya waktu


satu jam lagi sebelum istri sialanku datang.” Ucapan Roy langsung membuat dada


Emilia terasa sesak. Tanpa terasa, Emilia menutup mulutnya dengan satu tangan.


“Kalau kamu sudah tidak mencintai istri kamu lagi, kamu


ceraikan saja dia.” Ucap suara seorang perempuan dari dalam kamar. Pintu kamar


hotel itu tidak tertutup rapat sehingga Emilia bisa mendengar dengan jelas


semuanya dari luar.


“Aku memang tidak pernah mencintainya. Aku menikah dengannya


hanya karena desakan dari ayahku. Kalau aku tidak menikah dengan perempuan


sialan itu, ayahku tidak akan pernah memberikan warisan padaku. Kamu sendiri


tahu kan? Beberapa hektar tanah, dua mobil, tiga rumah, dan deposito di bank, kalau


bukan untuk aku, untuk siapa lagi?” Emilia bisa membayangkan ekspresi wajah Roy


yang menyeringai sinis sambil mengucapkan semua kata yang perlahan namun pasti


sudah menghancurkan kepercayaan yang selama ini Emilia berikan untuk suaminya


seorang.


Emilia mulai berpikir kalau perempuan yang ada didalam itu


adalah perempuan yang sudah lama dikenal oleh suaminya. Roy seperti akrab membicarakan


hal-hal pribadi, termasuk warisan orangtuanya. Jadi, tidak mungkin kalau


perempuan yang didalam bersamanya saat ini adalah perempuan yang baru dikenal.


“Kamu benar-benar hebat, sayang. Aku tahu kalau aku tidak


akan salah memilih kamu menjadi kekasihku sejak kamu pertama menikah. Tapi, aku


tidak ingin statusku tanpa kejelasan seperti saat ini. Anak kita butuh


pengakuan diatas kertas. Dan, aku ingin sekali menjadi istri kamu seutuhnya.” Suara


perempuan perebut suami orang yang terdengar manja dan penuh ******* itu,


membuat jantung Emilia semakin berdegup kencang tidak karuan. Anak? Suaminya memiliki


anak dengan perempuan lain dibelakangnya? Ini gila! Ini benar-benar gila!


Emilia sudah tidak tahan lagi untuk tidak melabrak pasangan


selingkuh yang sudah jelas-jelas terdengar dengan telinganya sendiri itu.


BRAK!!!


Emilia mendobrak pintu kamar hotel dengan sekali dorongan. Suara


kencang terdengar jelas hingga beberapa kamar terdekat.


“LIA! Apa yang kamu lakukan disini?” Penampilan Roy yang ternyata


sudah nyaris telanjang itu, terperanjat kaget melihat kedatangan Emilia yang tiba-tiba.


“LIA! Ka-kamu …”


Bukan hanya Roy yang kaget, Emilia lebih shock lagi begitu melihat


ternyata suara perempuan yang sangat familiar di telinganya itu adalah suara


sepupunya, anak dari om dan tante yang tinggalnya diluar kota namun perempuan

__ADS_1


itu sering datang ke rumah Emilia setelah Emilia menikah dengan Roy. Siapa yang


menyangka kalau perempuan yang selingkuh dengan suaminya adalah sepupunya


sendiri.


“Netta, hah! Aku tidak pernah menduga kalau ternyata kamu


menyukai suamiku dan KALIAN diam-diam berselingkuh dibelakangku. Memang benar,


pria brengsek dan wanita ****** adalah pasangan yang serasi.” Emilia mengeraskan


rahangnya dan berkata dengan seringai sinis di bibirnya.


“TUTUP MULUT KAMU! Dasar perempuan tidak berguna! Kamu seharusnya


berterima kasih padaku karena berkat menikah denganku, semua hutang-hutang


nenek kamu lunas. Kalau tidak begitu, bagaimana kalian bisa membayar hutang keluarga


kalian pada kami?” Teriak Roy tidak kalah sengitnya.


PLAK! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri Emilia. Hal


itu membuat tubuhnya yang masih lemah, menjadi limbung dan terjatuh diatas


lantai. Namun Emilia tidak ingin menangis. Dia justru tersenyum getir merasakan


tamparan hebat ini.


“Aku berterima kasih padamu? Cih! Pengorbananku selama ini


lebih dari cukup untuk membayar semua hutang-hutang nenekku. Aku juga sudah


muak dengan pernikahan tidak berguna ini. Kamu ceraikan aku dan kitab isa hidup


tenang. Kalian juga sudah punya anak bukan? Lalu, apalagi yang kalian tunggu? Netta!


Aku kecewa padamu, sangat kecewa. Kamu adalah sepupuku yang sangat aku sayangi


tapi ternyata kamu menusukku dari belakang. Sejak kapan kalian berhubungan dibelakangku?”


Emilia masih bisa menahan emosinya, demi sebuah pernyataan yang sebenarnya


sudah tidak dia perlukan lagi. Emilia memantapkan hatinya untuk bercerai dengan


Roy.


“Huh, Emilia. Dasar perempuan yang naif. Aku dan Roy sudah


dan kecewa kan? HAHAHA, kamu sungguh istri yang menyedihkan. Bagaimana mungkin


selama sepuluh tahun kalian menikah, kamu belum hamil juga? Apakah kamu mandul?


Padahal, Roy bisa memiliki anak ketika bersamaku. Hehehe,” Seringai sinis


terbit di bibir Netta yang merasa telah menjadi pemenang karena berhasil merebut


suami sepupunya sendiri.


Namun, Emilia justru tersenyum lebar dan tidak berapa lama


kemudian perempuan yang sedang sakit itu tertawa terbahak-bahak.


“HAHAHA, terima kasih padamu karena sekarang aku punya alasan


untuk bercerai dengan Roy. Kamu ambil saja dia. Aku sudah tidak peduli. Dan,


kalian nikmati hidup yang aku rasakan bagai di neraka!” Emilia melihat sebilah


pisau buah diatas meja dan mengambilnya karena hendak menusuk pria dan wanita


yang telah membuatnya menjadi merasa terhina dan tidak punya harga diri.


Namun sayangnya, gerakan itu bisa diketahui lebih dulu oleh


Roy. Keduanya bergulat dengan sebilah pisau yang sudah digenggam Emilia. Roy menahan


tangan Emilia agar pisau itu tidak menancap di tubuhnya. Meskipun begitu,


tenaga Emilia tentu saja masih kalah kuat dibandingkan tenaga Roy.


“Eugghhh, uhuk …” Ironisnya, pisau itu menusuk perut Emilia


dengan gerakan yang disengaja Roy. Netta yang melihat kejadian berdarah


didepannya, berteriak kencang dan tubuhnya bergetar.


“Ba-bagaimana ini? Aku tidak mau terlibat!” Netta pergi


melarikan diri dengan bergegas mengambil tas dan memakai sepatunya. Roy masih shock


dengan apa yang dilakukannya. Tubuhnya mematung dan matanya menatap tajam Emilia

__ADS_1


yang memegang perutnya yang mengeluarkan banyak darah.


Emilia menatap tajam Roy dengan sisa tenaga yang dia miliki.


“Aku bersumpah, akan membalaskan dendam ini. Kamu … uhuk


uhuk, dan semua orang … yang telah menyakiti aku, aku bersumpah kalian tidak


akan bisa tidur dengan tenang.”


BRUK! Tubuh Emilia tersungkur ke atas lantai dengan menghembuskan


napas terakhirnya.


“Emilia! Emilia! Ada apa dengan kamu? Bangunlah!” Suara


berisik di belakang telinganya dan tepukan cukup kencang di bahunya, membuat


Emilia spontan membuka matanya lebar-lebar.


“AAAAARGGGHH!” Emilia berteriak bangun dari tidur pulasnya


diatas meja kerja. Airmata membasahi wajahnya dan keringat juga bersimbah ditubuhnya.


“Apakah kamu bermimpi buruk? Dari tadi aku lihat kamu tidur


sambil menangis tersedu-sedu. Aku membangunkan kamu berkali-kali tapi kamu


tidak juga bangun.” Sophia, teman kerja Emilia menatap khawatir teman akrabnya


ini. Sophia pergi makan siang sendirian karena Emilia memilih tidur. Pekerjaan kantor


yang dibawanya pulang dari semalam membuat Emilia sangat lelah dan sangat


mengantuk.


“Sophia? Kamu … masih hidup?” Emilia menatap teman akrabnya


yang dalam ingatannya telah meninggal karena tabrakan mobil.


“PLAK! Apa yang kamu katakan?” Sophia memukul lengan Emilia sekencangnya.


“Kalau kamu mimpi buruk, jangan bawa aku kedalam mimpi kamu itu. Kamu


benar-benar keterlaluan!” Sophia mengerutkan bibirnya cemberut. Emilia masih


belum yakin dengan apa yang sedang dialaminya ini.


“Apakah tadi aku benar-benar bermimpi?” Emilia langsung


mencari kalender untuk melihat tanggal hari ini. “Ya ampun, hari ini adalah


sepuluh tahun sebelum aku menikah dengan Roy. Di tanggal ini aku akan bertemu


dengan Roy untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan. Dia akan menjemputku


pulang kerja dan aku akan dibawa kerumahnya. Ya Tuhan, apakah Engkau memberiku kesempatan


kedua untuk memperbaiki semua kesalahanku? Ya Tuha, terima kasih. terima kasih.


Aku pastikan, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.” Emilia


mengepalkan tangannya dan tersenyum lebar bahagia karena kehidupannya yang


menyedihkan ternyata hanya petunjuk yang diberikan Tuhan padanya lewat mimpi jika


dia menikah kelak dengan Roy. Entah itu mimpi atau melakukan perjalanan waktu,


Emilia sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan kedua untuk menghindari


hidupnya yang akan hancur kalau menikah dengan Roy.


“Aku harus ke toilet.”


“Ya, kamu benar-benar harus ke toilet untuk membasuh mukamu


yang pucat itu.” Jawab Sophia setengah berteriak.


BRUK!


“Aaahh, maafkan aku. Aku tidak sengaja.” Emilia reflek


meminta maaf bahkan sebelum mengetahui siapa yang dia tabrak karena berjalan


cepat tanpa melihat kearah depan dengan baik.


“Hmm,” Hanya deheman yang menjadi jawaban permintaan maaf Emilia.


“Aahh, tuan Julian. Maafkan aku, aku tidak melihat tuan


disini.” Emilia membungkukkan badan berkali-kali meminta maaf pada direktur


tempatnya bekerja. Mungkin tuan Julian sedang menuju toilet lelaki yang letaknya

__ADS_1


di sebelah toilet perempuan, makanya bisa tabrakan dengan Emilia tanpa sengaja.


__ADS_2