
Mobil mewah keluaran Eropa itu pun meninggalkan area apartemen menuju tempat yang akan membuat Emilia menghela napas berkali-kali.
"Sebelum kamu bertanya, aku akan memberitahu kamu kalau kita mungkin akan hampir seharian di mal. Kamu akan belanja, ke salon, dan kita akan bertemu makan malam sekalian sebelum kembali pulang." Ujar Julian sambil terus menyetir dengan menggunakan satu tangan seperti biasa.
"Bertemu makan malam? Maksudmu aku akan melakukan semua itu sendiri dan ... Kamu mau kemana?" Sorot mata Emilia yang berusaha mencari tahu alasan sang suami tidak menemaninya, diketahui Julian dan dibalas dengan senyuman.
"Aku ada urusan sebentar dengan seorang teman."
"Teman? Kamu tidak pernah memperkenalkan temanmu padaku." Kecurigaan Emilia semakin tinggi karena Julian sepertinya enggan untuk menceritakan maksud kepergiannya dan dengan siapa dia akan bertemu.
"Teman lelaki, sayang. Kamu jangan berpikir aneh-aneh yaa. Aku masih suka wanita dan wanita itu hanya kamu."
"Okelah, terserah kamu. Nanti kalau sudah selesai, telpon aku ya." Emilia merasa tidak perlu memperpanjang pertanyaan karena Julian pasti akan selalu punya jawaban yang bahkan dia sendiri akan terheran.
Karena mal yang dituju dekat dengan apartemen mereka, keduanya pun kini sudah sampai di depan lobi mal. Julian mengecup bibir sang istri sebelum Emilia membuka pintu mobil untuk keluar. Perlakuan Julian padanya yang semakin mesra dari hari ke hari, membuat Emilia benar-benar seperti wanita yang sedang dimabuk asmara.
"Temui aku di tempat biasa!" Julian melanjutkan perjalanan setelah melakukan panggilan dengan seseorang lewat wireless bluetooth nya.
Tinggallah Emilia yang kebingungan untuk sejenak, mana dulu yang harus dia lakukan.
"Belanja dulu atau ke salon dulu? Sepertinya lebih baik belanja dulu sebelum aku kelupaan bahan-bahan pokok yang memang dibutuhkan." Emilia bergegas menuju lantai basemen untuk berbelanja kebutuhan pokok di supermarket di mal ini.
Sudah lama dia tidak merasakan hal sebebas dan menyenangkan seperti ini, sehingga senyumnya selalu mengembang setiap melewati satu lorong dan lorong lainnya. Hingga ketika dia sudah hampir memenuhi isi trolley dorongnya, wanita dengan penampilan kasual namun tetap enak dipandang itu mendorong trolleynya lagi menuju freezer frozen food.
__ADS_1
Julian tidak menyukai makanan beku jadi Emilia hanya membeli beberapa makanan yang memang dibutuhkan kalau mendadak diperlukan.
Setelah semuanya dirasa selesai, Emilia menuju kasir dengan isi trolley cukup banyak hingga hampir memenuhi keranjangnya. Sebuah kartu kredit berwarna hitam pun dia keluarkan dari dalam dompetnya. Julian memaksa Emilia untuk menerimanya, disamping setiap bulan transferan dari Julian masuk ke dalam rekening Emilia. Transferan yang seharusnya hanya senilai gaji dia bekerja, justru jumlahnya sepuluh kali lipat dari gajinya.
Setelah dari supermarket, Emilia memutuskan untuk mencoba salon yang berada tidak jauh dari supermarket.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu? Nona ingin perawatan apa?" Seorang wanita berseragam karyawan salon, menyapa Emilia dengan ramah di meja resepsionis. Salon yang cukup wah sudah terlihat dari exterior dan interiornya saat melangkahkan kaki ke dalam.
"Oh, saya mau creambath dan meratakan sedikit saja ujung rambut saya." Jawab Emilia dengan senyum tidak kalah ramahnya dengan karyawan itu.
"Baiklah, silahkan ikut kami. Kebetulan pengunjung salonnya belum banyak jadi nona bisa langsung dilayani."
Emilia mengangguk senang. Dia tidak perlu antri dan menunggu lagi, karena kakinya sudah lumayan pegal setelah berbelanja sendirian.
"Jadi, bagaimana hasilnya?" Julian menempati kursi yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi itu di sebuah kafe yang hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalamnya.
"Dia bersembunyi entah dimana. Aku dan anak buahku masih mencoba terus mencarinya." Jawab pria muda yang mengenakan topi basebal dan kaos polo warna navy yang melekat pas di tubuh. Dilengkapi dengan celana panjang jeans warna biru muda membuat penampilan pria itu tampak sangat misterius namun tetap tampan.
"Sampai kapan kamu mau jadi satpam, hah?" Julian menyeruput kopi Americano yang ada dihadapannya setelah mengamati pria yang duduk di hadapannya sambil bergeleng-geleng.
"Sampai aku bisa menemukan orang yang telah membunuh Aruna." Jawab pria itu. Rahang yang mengeras terlihat jelas di pipinya setelah menjawab pertanyaan Julian, sahabatnya sejak mereka kuliah bersama di Amerika.
"Edwin, Adikmu meninggal karena bunuh diri. Bahkan tim forensik sudah memastikan hal tersebut."
__ADS_1
Edwin, sahabat Julian yang ternyata juga adalah kekasih Sophia itu menyeringai sinis mendengar jawaban teman karibnya itu.
"Aruna mungkin bunuh diri tapi ada orang lain yang memaksanya untuk melakukan itu. Aku akan mengejarnya jika harus sampai ke liang kubur sekalipun." Urat kokoh terlihat jelas di kepalan tangan Edwin.
"Terserah kamu saja. Tapi, kamu harus ingat. Orangtuamu hanya tinggal punya kamu seorang. Jangan sampai membuat mereka sedih berkepanjangan untuk kedua kalinya." Dengan kepala disandarkan ke kanan dan ditopang oleh tangan kanannnya, Julian mengamati temannya yang tampak mengalami perubahan di penampilan sejak terakhir mereka bertemu satu bulan yang lalu.
"Itu tidak akan terjadi. Justru, aku akan menyampaikan berita bahagia ke orangtuaku sebentar lagi." Wajah Edwin dengan senyum yang berseri-seri membuat Julian penasaran.
"Ohhh, wanita mana yang menjadi korbanmu sekarang, hehehe?"
"Sial! Aku tidak pernah bermain wanita." Jawab Edwin dan kedua sahabat itu tertawa lebar. "Aku merasa cocok dengannya dan aku akan melamarnya di rumah orangtuaku nanti."
"Wow, hebat sekali. Kamu pasti sangat beruntung mendapatkan wanita itu." Jawab Julian dengan senyum sarkasmenya.
Beruntung, Edwin sudah tahu karakter sahabatnya itu sehingga saling cela diantara mereka adalah bumbu yang membuat ikatan persahabatan mereka semakin erat, meski sudah terpisahkan oleh kesibukan masing-masing.
"Kalau itu aku setuju. Dia mau menerimaku meskipun aku berprofesi sebagai seorang satpam. Kamu tahu sendiri kan, semua wanita yang melihatku pasti akan sinis melihat seragamku, hahaha. Tapi, kalau tidak begitu, aku tidak akan semakin dekat dengan pelaku pembunuhan itu." Senyum Edwin yang semula cerah, kini menggelap setiap membicarakan kematian adik satu-satunya itu.
Untuk sesaat suasana kembali hening. Sehening suasana kafe elit tersebut. Namun, cafe inilah yang disukai mereka berdua. Karena tidak akan sembarang orang masuk dan otomatis mereka akan terbebas dari pandangan kaum hawa yang selalu tampak ingin melahap mereka hidup-hidup.
"Oya, bagaimana pernikahan kamu dengan istrimu? Apakah dia senang menjadi istri seorang pria yang terkenal cuek, dingin, dan arogan?" Kali ini giliran Edwin yang berkata sarkasme. Bukan Julian kalau tidak bisa membalikkan keadaan.
"Aku sangat beruntung memperistri wanita yang merupakan cinta pertamaku." Julian terkekeh dan tersenyum lebar.
__ADS_1