
Julian muda sudah bekerja sambilan sejak masih menjadi mahasiswa. Pekerjaan pertamanya adalah menjadi karyawan paling rendah alias sebagai office boy yang menyamar di kantor papinya sendiri. Gaji yang diterimanya dia gunakan untuk ditabung untuk membeli mobil sedan pertamanya yang kemudian dia jual untuk modal usaha.
"Sebentar lagi airnya panas. Sementara itu, kamu bisa istirahat dulu duduk di dekat tungku agar badanmu hangat. Cuaca malam hari disini dingin sekali karena kita berada di bawah kaki gunung." Ucap Emilia sambil mondar mandir mencari apa yang bisa dimasak untuk makan malam.
"Nenek kamu tidak takut rumahnya dimasuki orang tidak dikenal? Pintunya hanya ditutup tidak dikunci." Julian membuka jaket dan menyisakan kaos oblong yang melekat di tubuhnya, masih lengkap dengan celana panjang.
"Apa yang mau diambil di dalam rumah ini? Tidak ada barang berharga yang bisa dijual pun." Jawab Emilia. "Airnya sudah panas. Kamu mandi saja dulu. Aku akan buatkan kopi dan makan malam." Ucap Emilia lagi.
Wanita itu dengan sigap mengambil lap untuk mengangkat panci berisi air panas dan menuangkannya ke dalam ember besar. Julian ingin mengambil alih namun Emilia bergerak cepat menuangkannya.
Karena baru pertama kalinya Julian berada dalam situasi seperti ini, dia melihat-lihat sejenak kamar mandi yang lantainya masih beralaskan peluran semen, bak mandinya pun masih terbuat dari gentong kayu dengan gayung yang terbuat dari setengah batok kelapa dengan tangkai yang cukup panjang.
Bagi Julian kemewahan tidaklah penting, namun yang utama adalah kebersihan. Dirasa cukup bersih dan higienis, Julian pun memberanikan diri untuk mulai membuka pakaiannya dan mandi.
Suara cebur-cebur air terdengar dari dalam kamar mandi. Emilia yang masih sibuk membuat kopi dan merajang sayuran juga bumbu-bumbu, tidak menyadari saat sang suami selesai mandi.
"Awwww," Wanita itu kaget ketika tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang dan punggungnya menempel erat pada dada bidang yang cukup keras dan kokoh.
"Dingin sekali. Aku lupa bawa baju ganti." Julian menggemeretakkan giginya menandakan kalau pria itu benar-benar kedinginan.
__ADS_1
"Ya tapi jangan memelukku tiba-tiba. Kalau aku kena serangan jantung, bagaimana?" Emilia melepaskan pelukan Julian dan mengerutkan bibirnya tanda protes.
"Okay okay, maafkan aku. Aku akan mengambil pakaianku di dalam koper." Pria yang hanya membungkus tubuh atletis dan otot perut sixpacknya itu dengan selembar handuk yang menutupi dari batas perut hingga lutut itu, terkekeh sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Orang itu, semakin lama semakin agresif sekali. Mana ada pria dingin dan cuek? Yang ada pria yang sangat ramah dan senang menempel." Gumam Emilia dalam hati.
Dan, mereka pun makan malam dengan menu yang sangat sederhana. Beruntung, Julian bisa menelannya karena Emilia memang membuat makanan sesuai lidah Julian yang tidak suka makanan pedas dan terlalu asam. Setelah makan, Emilia menelpon salah satu kerabat yang mungkin mengetahui dimana neneknya menginap. Setelah beberapa kali pencarian lewat telpon, akhirnya neneknya diketahui berada di rumah salah seorang saudara yang masih belum jauh ikatan darahnya.
"Malam ini nenek tidak ada. Besok pagi baru bisa pulang setelah mendengar kita datang. Apakah kamu tidak masalah menginap di gubuk ini?" Emilia masih sungkan karena rumah neneknya meskipun luas dan bersih namun tetap saja perbandingannya dengan apartemen Julian adalah bagaikan bumi dan langit.
"Aku harus membiasakan diriku setelah menikah. Begitu pula kamu, yang pasti akan membiasakan diri di keluargaku nantinya." Ucap Julian yang saat ini sudah mengenakan kaos oblong dan celana jogger semata kaki itu.
Julian mengeraskan rahangnya dan meninggalkan Emilia menuju kamar yang sudah disediakan sang wanita untuk beristirahat. Keduanya saling terdiam dengan membawa perasaan masing-masing yang sulit untuk diungkapkan satu sama lain.
Keesokan paginya, nenek Emilia yang ditunggu pun datang diantar oleh salah seorang keponakan jauhnya.
"Emilia, kenapa kamu datang tidak bilang nenek? Kalau tahu …" Ucapan sang nenek terhenti ketika melihat sosok pria tinggi menjulang dengan postur atletis keluar dari dapur sambil membawa segelas air minum di tangannya. "Siapa dia, Lia?" Tanya sang nenek dengan kerutan di dahinya yang juga sudah berkerut. Neneknya tidak tahu kalau Emilia telah melunasi tumpukan hutang pada keluarga Roy. Yang neneknya tahu, Emilia akan segera menikah dengan Roy dalam waktu dekat ini jadi beliau bingung dengan kehadiran pria lain di dekat cucu satu-satunya itu.
"Nenek, aku datang kesini untuk menceritakan hal ini. Ayo nek, masuk dan duduklah dulu." Emilia menggantikan sang sepupu yang mengantar neneknya, untuk masuk ke dalam rumah. "Terima kasih sudah mengantar nenek. Oya mas, ini ongkos bensinnya." Emilia menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah pada sepupu jauhnya yang telah menikah itu.
__ADS_1
"Lama kita tidak berjumpa. Kamu semakin cantik saja setelah dewasa." Ucap sepupu pria Emilia tersebut. Emilia tersenyum lebar dan terkekeh karena menganggap sepupunya hanya berbasa basi humor saja. Tapi tidak dengan tanggapan Julian yang mengira kalau sepupu Emilia itu justru sedang menggoda istrinya.
"Iya, aku terakhir pulang ke sini juga saat masih sekolah menengah pertama. Sekarang sudah bekerja jadi sudah lama sekali tidak bertemu." Jawab Emilia dengan senyum hangatnya.
"Sebelum kembali ke Jakarta, mampir dulu ke rumahku ya. Aku perkenalkan ke istri dan anakku."
"Baik kak, terima kasih." Jawab Emilia lagi.
Sepupu Emilia tersebut pun akhirnya pulang dan menerima selembar uang merah itu setelah dipaksa Emilia berkali-kali.
"Sekarang jelaskan sama nenek, apa maksudnya ini?" Nenek duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu jati dengan meja bundar di hadapannya. Emilia menggandeng tangan Julian untuk memberinya kekuatan menghadapi sang nenek. Awalnya, Emilia ingin pulang kampung sendiri agar bisa leluasa menceritakan semuanya pada sang nenek. Namun, Julian memaksa ikut hingga akhirnya mau tidak mau, Emilia pun terpaksa menceritakan semuanya dari awal.
"Nek, ini adalah Julian, bos aku di kantor sekaligus … suamiku." Ucap Emilia dengan nada penuh kehati-hatian.
"APA?" Nenek terperanjat kaget dan berdiri dari duduknya. "Kamu bercanda kan, Lia? Kamu itu akan menikah dengan putranya bapak Arka dan ibu Sonia. Kenapa kamu menikah dengan pria lain? Mau taruh dimana muka nenek? Dan, …"
Emilia tahu kalau neneknya akan menyinggung soal utang mereka yang jumlahnya lima ratus juta itu pada keluarga Roy. Namun, ucapan neneknya terhenti karena kehadiran Julian di depannya.
Julian hanya mendengarkan saat ini. Belum waktunya dia ikut berbicara.
__ADS_1