If I Could Turn Back The Time!

If I Could Turn Back The Time!
48. Bersembunyi Di Dalam Lubang


__ADS_3

Emilia pasrah saja dengan apa yang dilakukan Julian saat membasuh tubuhnya secara perlahan dan penuh kelembutan. Pria ini benar-benar bagaikan serigala lapar yang melihat mangsanya dengan tidak menyia-nyiakan waktu sedetikpun. 


"Kapan kamu pulang? Kenapa … tidak memberitahuku sebelumnya?" Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Emilia menanyakan sesuatu yang ingin ditanyakan pada suaminya saat dia terkejut melihat sang suami datang.


"Aku sengaja ingin memberimu surprise." Julian terkekeh. Tangannya yang lebar dan lembut mengusap bagian tubuh Emilia hingga bagian tersembunyi sekalipun menggunakan sabun cair dengan aroma vanilla yang mewah dan menenangkan.


"Dan aku benar-benar terkejut. Kamu berhasil," Julian menatap sang istri dengan senyuman penuh cinta. Sebuah semprotan dari selang shower diarahkan ke tubuh sang istri dengan penuh kelembutan. Seolah-olah Emilia adalah anak bayi yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati. Air hangat yang mengguyur rambut panjangnya hingga ke tubuh, membuat Emilia merasa sangat tenang dan nyaman.


Seumur-umur baru kali ini dia dimandikan oleh seseorang. Terakhir kali dimandikan mungkin saat dirinya masih bayi. Emilia menutup bagian atasnya yang terekspose sempurna dengan kedua telapak tangannya. Namun, Julian tidak ingin terusik kenikmatannya menatap tubuh sang istri di bawah guyuran air.


Emilia menggigit bibirnya malu-malu. Meskipun dia berulang kali ingin menutup bagian tubuhnya yang terlihat jelas, berulang kali juga Julian menghalanginya. Setelah dirasa tubuh sang istri sudah bersih dan wangi, Julian mengambil handuk dengan tubuhnya yang polos tanpa selembar benang ke sana kemari berjalan di dalam kamar mandi. Emilia memalingkan wajahnya ke samping malu-malu.


"Sungguh pria yang tidak punya rasa malu," Rutuk Emilia dalam hati.


"Kamu sudah selesai mandi, sekarang gantian aku. Kamu tunggu aku disini ya." Julian mendudukkan Emilia di atas wastafel. Seperti anak kecil yang dibungkus handuk di tubuh dan rambutnya pun dibungkus handuk lainnya, tubuh Emilia yang sangat ringan bagi Julian itu digendong dengan sangat mudahnya.


Seperti perkataan Julian sebelumnya, pria itu benar-benar mandi dibawah guyuran air shower di hadapan Emilia. Wanita yang sudah sangat mengantuk itu memejamkan matanya selain karena mengantuk juga karena tidak ingin melihat pemandangan yang tidak pantas dia lihat, meski mereka sudah sah menjadi suami istri.


Entah sejak kapan, Emilia sudah terbaring di atas kasur dengan rambutnya yang masih setengah basah. Julian tidak ingin mengganggu tidur istrinya dengan bunyi mesin pengering rambut sehingga dia mengeringkan rambut sang istri secukupnya dengan handuk kecil.

__ADS_1


Harum aroma makanan menyeruak ke indera penciuman Emilia. Dia yang pulang kerja belum makan apa-apa, merasakan perutnya keroncongan memanggil-manggil minta diisi.


"Bangunlah, kamu harus makan karena pasti tadi pulang kerja belum makan. Aku sudah membuat sandwich yang pasti cukup membuat perutmu terisi dengan penuh sebelum tidur lagi." Ternyata harum makanan itu adalah Julian yang meletakkannya di atas nakas di samping ranjang. Lagi-lagi Emilia dibuat takjub dengan sikap Julian.


Seingat dia terakhir kali dia hanya berselimutkan handuk, tapi saat ini dia sudah memakai piyama meski tanpa dalaman seperti yang biasa dia lakukan.


"Kamu … memakaikan aku piyama?" Tanya Emilia ragu-ragu.


"Siapa lagi?" Senyum Julian yang nakal membuat Emilia ingin sekali meninju wajah tampan itu saat ini juga.


Sandwich yang dibuat Julian terasa sangat nikmat di lidah Emilia. Entah karena memang lapar atau karena memang enak, dia tidak peduli. Dua potong sandwich dan segelas jus mangga membuat cacing-cacing di perut Emilia bisa tidur tenang malam ini. Julian senang istrinya menyukai roti buatannya.


"Aku sudah makan sebelum kamu datang. Karena aku harus menyiapkan energi sebelum mulai berperang, bukan?" Seringai di bibir Julian lagi-lagi membuat Emilia menghela napas sedikit kesal dan ingin mencekik leher pria yang duduk di hadapannya ini.


Dia mengisi energinya sebelum berperang, sedangkan aku dibuat kenyang justru setelah berperang. Dasar pria impulsive! Egois! Tidak berperikemanusiaan! Emilia hanya berani mengutuk dalam hati.


Nampan berisi roti dan jus yang telah kosong itu dibawa Julian ke dapur untuk lalu dicucinya sampai tidak ada bekas alat makan kotor teronggok di wastafel cucian piring. Emilia tidak ingin memiliki pembantu jadi Julian juga sudah siap untuk mengerjakan apa yang dia bisa lakukan.


Saat Julian masuk kembali ke dalam kamar, didapatinya sang istri sudah terlelap pulas. Julian merapikan selimut dan menutupinya hingga sebatas dada. Rambut Emilia yang masih setengah basah disibakkannya perlahan ke belakang telinga. Pipi mulus sang istri yang lembut dan kenyal diusapnya perlahan.

__ADS_1


"Sungguh, aku sangat beruntung bisa menjadikan kamu istriku. Kamu tidak tahu betapa tersiksanya aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Kamu tidak tahu rasanya menahan rindu yang membuncah ketika jauh darimu. Jadilah istriku untuk selamanya. Hanya kamu yang aku inginkan di dunia ini, bukan yang lain." Julian mengecup mata terpejam Emilia, hidung, dan berakhir dengan bibir yang selalu menggodanya.


—--


Harum aroma masakan membangkitkan naluri lapar yang merasuk ke dalam perut Emilia. Perlahan dia membuka kedua matanya yang masih terasa berat. Tangannya menggapai-gapai kasur di sebelahnya, kosong. Emilia menatap langit-langit kamar sambil merenung sejenak. Sontak terbayang peristiwa semalam yang sangat panas sehingga membuatnya mencapai pelepasan berkali-kali. Sikap Julian yang seperti singa lapar, membuat Emilia pasrah dan hanya bisa menuruti keinginan sang suami.


"Kamu sudah bangun? Ayo kita makan dulu. Aku sudah membuat nasi goreng spesial untuk kita berdua." Julian tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar dan membuyarkan lamunan Emilia.


"Kamu sudah membuat sarapan?" Emilia menyibak selimut yang masih menutupi hampir seluruh tubuhnya. Perlahan dia turun dan berjalan menghampiri sang suami yang mengulurkan tangannya untuk membantunya berjalan.


"Masih sakit? Maaf ya, aku keterlaluan semalam. Aku tidak bisa mengontrol keinginanku." Julian terkekeh ketika melihat lirikan maut Emilia yang tampak kesal namun tidak bisa berkata apa-apa.


Julian menarik satu kursi untuk memberi tempat istrinya duduk.


"Makanlah yang banyak. Kamu terlalu kurus dibanding terakhir aku tinggalkan." Julian menyendok satu centong nasi goreng dan dituangkan ke atas piring datar yang ada dihadapan Emilia.


"Dan, kamu semakin kuat dan berisi." Emilia tersentak dengan ucapannya sendiri yang keluar begitu saja dari bibirnya. Matanya terpejam dan bibirnya mengerut malu. Ingin rasanya mencari lubang untuk menyembunyikan tubuhnya dan hanya keluar jika tidak ada Julian.


"Puftt," Julian terkekeh geli mendengar ucapan spontanitas dari sang istri. "Aku tidak pernah absen berolahraga setiap hari. Mungkin itu sebabnya tenagaku kuat. Maaf jika itu membuatmu tidak bisa mengimbangi." Seringai di bibir Julian tidak dilihat Emilia karena wanita itu lebih memilih menatap nasi goreng yang ada di atas piringnya. 

__ADS_1


__ADS_2