
"Roy, kamu dimana?" Suara Netta yang manja dan lirih terdengar di telinga Roy, membuat pria itu sedikit melupakan ambisinya untuk menemukan Emilia.
"Andai saja Emilia selembut dan semanja itu seperti Netta padaku, aku pasti akan memperlakukannya dengan baik. Bahkan aku pegang tangannya saja dia menolak. Dengan alasan nanti saja kalau sudah menikah. Cih! Belagu sekali dia." Pikir Roy yang belum menjawab telepon dari Netta itu. "Aku di rumah saja. Apakah kamu ingin mengajakku ketemuan?" Roy menyeringai.
Dia dan Netta merupakan sepasang pria dan wanita yang haus akan belaian. Di hadapan Roy, Netta mengaku tidak menjalin hubungan dengan pria manapun. Tapi Roy pernah melihat Netta check in di hotel bersama seorang pria dengan posisi saling merangkul mesra.
Roy tidak bisa melabrak Netta karena saat itu dirinya pun sedang bersama seorang wanita yang akan masuk ke kamar hotel di tempat sang wanita telah check in terlebih dahulu.
"Aku sedang ada di mall tempat kita janjian terakhir kali. Apakah kamu bisa kesini?" Dengan suara manja dan sendu merayu, Netta berusaha memancing sumber keuangannya untuk keluar dari sarangnya. Sudah beberapa hari ini Netta dan Roy tidak bertemu satu sama lain karena Roy pergi tugas dinas luar pulau. Jabatan strategisnya sebagai pegawai pemerintahan di salah satu kementerian, membuatnya lebih sering berada tugas dinas luar dibandingkan pulang pergi setiap harinya.
"Aku capek, baru pulang ke rumah. Lain kali saja, okay?"
"Ahh Roy, apa kamu tidak kangen padaku? Kita sudah lama tidak bertemu." Nada kalimat Netta yang sangat manja benar-benar tidak bisa dihindari oleh Roy. Dari sekian banyak teman kencan Roy, hanya Netta yang selalu siap kapanpun Roy inginkan. Sedangkan dengan wanita lain, Roy harus janjian terlebih dahulu beberapa hari sebelumnya.
"Okay okay, tunggu aku 1 jam lagi. Aku akan segera tiba."
"Ohhh, aku senang mendengarnya. Lagipula, aku punya berita penting yang pasti kamu suka."
"Berita apa?" Roy yang sedang mengganti pakaiannya, mengaktifkan pengeras suara untuk mempercepat dirinya bersiap-siap.
"Bukan apa, tapi siapa." Ucap Netta lagi.
"Ya ya ya, tentang siapa?" Roy melingkarkan sabuk pinggang dan mengencangkannya lalu merapikan kaos polo yang dipakainya.
__ADS_1
"Emilia,"
Spontan Roy berhenti menyisir rambutnya.
"Apa maksud kamu?"
"Sudahlah, kamu cepat datang. Tidak enak jika membicarakannya di telpon." Jawab Netta lagi.
Roy pun bergegas menyelesaikan persiapan dan mengambil kunci mobil yang biasa menemaninya kemanapun setiap hari. Pria itu sebenarnya memiliki tiga mobil. Tapi, semenjak Emilia memutuskan pertunangan, ayahnya hanya menyisakan satu mobil saja untuknya mobilitas setiap hari. Dua mobil lainnya dijual ke temannya agar tidak bisa dipakai Roy lagi.
Roy mempercepat laju mobilnya ke mal untuk menemui Netta. Dia merasa yakin kalau dia masih memiliki kesempatan untuk mengajak Emilia melanjutkan kembali pertunangannya. Entah mengapa ayahnya sangat bersikeras ingin bermenantukan gadis yatim piatu itu. Tapi Roy tidak peduli, karena baginya harta dan warisan dari ayahnya adalah alasan utama dia harus menikah dengan Emilia.
"Nah, sekarang katakan berita penting apa tentang Emilia?" Roy dan Netta yang sudah bertemu di lorong pakaian dalam wanita, sang wanita yang sedang memegang lingerie model paling seksi dengan harga luar biasa itu langsung mengemukakan pertanyaan penting bahkan sebelum dia menanyakan kabar pacar rahasianya itu.
"Hei tenang dulu. Setidaknya kamu bayarkan dulu belanjaanku sekarang. Nanti aku kasih tau info yang sangat berharga ini." Bisik Netta sambil mengedipkan satu mata dengan tatapan menggoda.
Setelah acara belanja selesai, Netta mengajak Roy masuk ke salah satu restoran dengan menu Italia.
"Aku lapar. Ngobrolnya sambil makan ya." Netta memilih meja dengan kursi sofa empuk yang ada di sudut ruangan. Roy mengekor di belakang mengiyakan saja ajakan wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya itu. Seorang pelayan menghampiri dan Netta pula yang memilih makanan yang akan mereka nikmati siang ini.
"Cepat katakanlah, apa yang ingin kamu katakan mengenai Lia?" Roy sudah tidak sabar sejak dari rumah tadi tapi Netta selalu mengulur-ulur waktunya. Netta tersenyum lebar.
"Dasar pria bodoh! Kamu itu cuma alat yang aku manfaatkan sampai saatnya aku mendapatkan lumbung lain. Dan, sekarang kamu ingin mendapatkan hati Emilia lagi? Cih! Aku saja malas kalau jadi dia. Pria yang hanya berlindung dari harta orangtua dan tidak ada tampannya sama sekali. Kalau bukan karena uangmu, aku malas menjadi wanitamu." Gumam Netta dalam hati.
__ADS_1
"Aku dengar Emilia sudah punya kekasih baru." Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Netta, kedua mata Roy terbelalak lebar. Mana mungkin wanita tertutup dan pemalu seperti dia bisa punya kekasih? Dalam bayangan Roy, dunia Emilia hanya kerja dan kerja. Mana sempat membangun hubungan dengan pria lain? Pikirnya.
"Kamu tahu darimana info seperti itu?" Tanya Roy dengan tatapan mendelik.
"Huh, meskipun aku tidak bekerja dengannya dalam satu kantor, tapi aku punya banyak teman disana yang bisa memberikan aku informasi yang aku inginkan." Ucap Netta dengan ekspresi penuh percaya diri.
Roy terdiam sejenak sambil menatap Netta lekat-lekat. Pria itu membayangkan kalau kekasih Emilia pastilah pria biasa-biasa saja. Malah mungkin lebih rendah dari dirinya yang memiliki pekerjaan tetap yang diidolakan sejuta umat, terutama calon mertua.
"Aku ingin bertemu dengannya tapi dia tidak pernah bisa aku temui." Ucap Roy akhirnya.
"Memangnya kalau kamu bisa bertemu dengannya, kamu mau mengajak dia balikan?" Tanya Netta dengan kerutan di dahinya.
"Tentu saja. Masa depanku dan ibuku tergantung dia. Kalau aku tidak bisa menikah dengannya, maka warisan dari ayahku untukku akan terancam gagal."
"Lalu bagaimana denganku? Apa kamu tidak ingin menikah denganku?" Sejujurnya Netta enggan menikah dengan Roy. Tapi, keluarga Roy yang terkenal kaya raya membuatnya mengabaikan penampilan Roy yang di luar seleranya.
"Hahaha, aku hanya akan menikahinya, bukan untuk menidurinya. Kamu adalah wanita yang aku inginkan setiap malam." Jawab Roy dengan tatapan liar menggoda. Netta tersenyum kecut mendengarnya.
"Aku akan mengajak Emilia ketemuan. Nanti kamu bisa datang tiba-tiba dan bergabung bersama kami." Ucap Netta sambil mengerutkan bibirnya.
"Ahhh benar benar, mungkin saja kalau kamu yang mengajaknya bertemu, dia akan mau. Saat itulah aku akan datang." Jawab Roy penuh semangat. "Kapan kalian akan bertemu?" Tanya Roy kemudian.
"Dua hari lagi. Saat jam makan siang, aku akan mengajaknya bertemu berdua saja." Jawab Netta.
__ADS_1
"Ide yang bagus. Kamu jangan khawatir. Aku tidak akan pernah menaruh hatiku padanya. Wanita udik dan rendahan seperti dia, tidak pantas dibandingkan dengan kamu yang seksi dan selalu membangkitkan seleraku." Jawab Roy sambil menggigit bibirnya biar terlihat lebih seksi.
"Selera kepalamu!" Rutuk Netta dalam hati.