
Hari ini ayah Jefri sudah memutuskan sesuatu. Entah kenapa tiba-tiba dia mempunyai pemikiran untuk membuat putrinya itu tersadar, Ayah Jefri sudah memutuskan sesuatu hari itu dia meminta Jihan untuk pergi ke suatu tempat di daerah yang terpencil. di sana perusahaannya dalam bahaya hingga membuat Ayah Jefri benar-benar sangat frustasi.
"Mengapa Ayah memintaku untuk pergi ke tempat itu? Bukankah Ayah tahu sendiri kalau itu adalah tempat terpencil." ucap Jihan.
"Kau kira ayah tidak tahu, kau kira Ayah ini buta. tentu saja Ayah tahu kalau itu tempat terpencil." jawab ayah Jefri.
"Lalu Mengapa Ayah harus memintaku dan Daniel untuk pergi ke tempat itu?" tanya Jihan.
Akhirnya Ayah Jefri menceritakan permasalahan tersebut. di sebuah perusahaan ada di desa itu ternyata dari situlah kekayaan Ayah Jefri berasal. Hal itu membuat Ayah Jefri tidak ingin kehilangan perusahaan pertama yang di rintis.
"Tapi Ayah, aku tidak mau ke tempat itu. Ayah tahu sendiri kan kalau aku sangat benci dengan tempat-tempat yang berhubungan dengan pedesaan!" seru Jihan.
"Apakah kau ingin Ayah kehilangan tempat itu? apakah kau ingin kita hancur dan menjadi miskin?" tanya ayah Jefri yang membuat kara-kata Jihan langsung terhenti.
"Apa maksud Ayah?" tanya Jihan.
"Perusahaan itu adalah perusahaan yang menyokong seluruh perusahaan-perusahaan kita yang ada di kota, jika perusahaan itu hancur maka Ayah tidak bisa menjamin Perusahaan kita yang ada di kota tetap bertahan kedepannya." jawab ayah Jefri.
Jihan tidak percaya dengan perkataan dari ayahnya itu, namun ketika ayahnya memberikan beberapa berkas perusahaan baru wanita itu percaya kalau yang dikatakan ayahnya itu bukanlah bualan belaka.
"Mengapa harus aku yang ke sana Ayah, kenapa tidak Daniel saja?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Kalau kau tidak mau kesana tidak apa-apa, aku akan membalikkan nama perusahaan itu menjadi milik Daniel. tentu saja pusat kekayaanku yang ada disana akan menjadi milik Daniel seutuhnya." jawab Ayah Jefri.
Ternyata perusahaan milik Ayah Jefri yang ada di sekitar pedalaman itu adalah tambang perhiasan dan beberapa batu mulia. hingga membuat Jihan yang mendengar kalau perusahaan itu akan dialihkan kepada Daniel Tentu saja dia tidak akan membiarkannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan ke tempat itu bersama Daniel. aku akan membawa uang, peralatan dan semuanya. jadi ayah jangan khawatir." jawab Jihan. sebuah senyum langsung terukir di wajah Ayah Jefri ketika mendengar jawaban Jihan.
Daniel hanya bisa menuruti perkataan Ayah Jefri, semua permintaan pria tua itu akan dilakukan oleh Daniel.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Jihan kepada Daniel.
"Tentu saja aku harus mengepak seluruh pakaianku, karena kita tidak akan tahu butuh berapa lama kita disana." jawab Daniel.
"Apakah kau senang berada di sana?" tanya Jihan.
"Bilang saja kalau kau itu cuma cari muka dan mengejar kekayaan Ayahku saja." sindir Jihan yang membuat Daniel menatap wanita yang ada di depannya.
"Aku tidak pernah sekalipun menginginkan harta kekayaan ayahmu, aku sangat berterima kasih karena Ayah Jefri membesarkanku sampai seperti ini. menjadi seorang pria terpelajar bahkan menjadi seorang pria yang bisa dikatakan mempunyai etika." jawab Daniel yang kemudian tidur di kursi yang ada di kamar Jihan.
Sebenarnya Daniel tidak mau tidur satu kamar dengan Jihan, karena Ayah Jefri marah-marah akhirnya pria itu mau tidak mau tidur satu kamar dengan Jihan namun tidak satu ranjang.
"Pasti sekarang kau sangat senang karena menjadi menantu dari Jefri Yuaksa!" seru Jihan.
__ADS_1
"Aku tidak bangga menjadi suamimu, namun aku bangga menjadi salah satu bagian dari keluarga Ayah Jefri." jawab Daniel.
"Kau itu benar-benar seorang pria yang sangat sombong dan munafik!" seru Jihan.
Daniel tidak menghiraukan semua perkataan Jihan, pria itu langsung tertidur di atas sofa sembari memikirkan apa yang terbaik untuk ayah Jefri. Jihan yang melihat hal itu nampak dia sangat kesal, dia berdiri mendekati Daniel sambil berkacak pinggang di hadapan pria itu. tak ada satu gerakan pun dari Daniel, itu berarti pria itu benar-benar sudah tertidur lelap di alam mimpinya. Jihan kembali keranjangnya tidur cantik menggunakan peralatan tidurnya, wanita itu benar-benar kesal dengan semua perlakuan Daniel padanya. malam bagaikan sebuah alunan lagu yang sekarang dijalani oleh Daniel dan Jihan.
Pernikahan Mereka berdua adalah pernikahan yang sangat aneh, tidak saling membutuhkan dan tidak saling berusaha untuk mendekati satu sama lain. Ayah Jefri mengetahui hal itu namun bagi mereka bertiga pasti ada jalan yang terbaik untuk mereka.
Keesokan hari.
BRAKKK..
Jihan menutup pintu mobil dengan begitu keras, wanita itu benar-benar sangat kesal karena harus meninggalkan semua gemerlap dunia kota dan pindah menuju tempat terpencil yang ada di desa. Jihan pernah dua kali ke desa itu, jadi dia sangat paham bagaimana kondisi rumah yang ada di desa mereka. Ayah Jefri tidak pernah merenovasi rumah itu dan merubahnya menjadi rumah mewah, karena Ayah Jefri ingin rumah itu tetap menjadi kenangan terindah bagi dirinya bersama almarhum sang istri.
"Selamat tinggal, ayah!" seru Jihan.
"Hem.." jawab ayah Jefri.
"Kami berangkat dulu ayah." ucap Daniel yang kemudian mencium tangan Ayah mertuanya.
"Tolong jaga Putri ku, Daniel. Dan tolong kau beri dia pendidikan yang layak." ucap Ayah Jefri.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" seru Daniel yang kemudian pergi dari rumah ayah Jefry ke suatu tempat.
** bersambung **