IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU

IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU
Pindah ke sebuah desa


__ADS_3

Satu hari kemudian


Butuh satu hari penuh untuk ke kawasan pertambangan milik keluarga Yuaksa.


CITT...


"Kita sudah sampai!" seru Daniel yang sudah membangunkan Jihan. wanita itu terlihat tertidur dengan sangat pulas di kursi belakang kemudi,


"Suaramu tidak bisa dikecilkan Apa?! kau benar-benar mengganggu Ku!" teriak Jihan.


"Sebenarnya dari tadi aku sudah memanggilmu dengan nada suara pelan, sedang, hingga keras. namun kau tetap saja tidak bangun dari tadi, jadi aku memakai volume yang lumayan keras agar kau bangun." jawab Daniel.


"Alasan, Kau pasti sengaja melakukan hal itu biar aku terkejut dan sakit!" seru Jihan.


"Tidak juga, kalau aku melakukan hal itu sama saja dengan memperburuk keadaan, kau akan menjadi beban bagiku." jawab Daniel.


"Enak saja, kau bilang kalau aku ini beban. Kau kira aku ini karung beras atau sesuatu yang berat, apa!" seru Jihan.


"Tentu saja kau bukan karung beras ataupun sesuatu yang berat, namun kau akan menjadi beban karena aku harus mengurusmu dan meninggalkan semua tugas yang diberikan oleh ayah Jefri kepadaku." jawab Daniel yang terlihat sudah mengeluarkan seluruh koper yang telah mereka bawa. Daniel hanya membawa 1 koper besar sedangkan Jihan nampak membawa 3 koper besar sepertinya wanita itu tidak mau pulang dari sana.


"Memangnya kau berniat menginap atau menetap di sini?" tanya Daniel kepada Jihan.


"Memangnya kenapa?" tanya Jihan.

__ADS_1


"Lalu, Mengapa kau membawa koper sebanyak ini?" tanya Daniel yang membuat Jihan langsung meninggalkan pria itu. Jihan memang terkenal sebagai seorang wanita yang super duper anti kotor, Hal itu membuat Jihan selalu mandi sesering mungkin dan membersihkan tubuhnya dari kotoran yang melekat pada dirinya.


Jihan sudah melangkahkan kakinya mendekati rumah yang sederhana namun terlihat kuno.


"Mengapa ayah tidak pernah memperbaiki rumah ini, mengapa juga rumah ini tetap seperti dulu." gerutu Jihan yang kemudian hendak membuka rumah itu. sesaat kemudian seorang wanita tua nampak sudah keluar dari dalam rumah itu.


CEKLEK...


Ketika pintu rumah itu langsung terbuka Hal itu membuat Jihan berteriak dengan sangat keras.


"Aaaaa!!!" teriak Jihan yang sangat terkejut karena tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, terlihat seorang wanita tua keluar dari rumah itu bersama seorang gadis muda yang umurnya bahkan jauh lebih muda dari Jihan.


"Selamat datang Nona Jihan!" seru seorang wanita yang bernama Mbok Sri.


"Saya adalah Mbok Sri, Apakah Nona Jihan sudah lupa dengan mbok Sri ini?" tanya Mbok Sri sambil tersenyum kepada wanita muda yang ada di depannya. sesaat kemudian terlihat Daniel sudah berada di depan pintu sambil tersenyum dan menjabat tangan Mbok Sri.


"Assalamualaikum Mbok Sri!" seru Daniel yang kemudian mencium tangan wanita tua yang ada di depannya.


"Nak Daniel." jawab Mbok Sri yang kemudian memeluk Daniel begitu erat. "Sudah lama kamu nggak pernah ke sini, apa kamu nggak rindu sama Mbok Sri ini?" tanya Mbok Sri dengan raut wajah yang benar-benar sangat bahagia karena bertemu kembali dengan Daniel.


Tentu saja aku sangat senang bertemu dengan mbok Sri apalagi Mbok ini yang selalu merawat Daniel ketika Daniel kecil jawab Daniel yang kemudian menarik beberapa koper besar itu seorang wanita muda nampak tersenyum saat melihat dua orang sudah berada di sana.


"Nisa, cepat bantu nak Daniel untuk membawa koper-koper itu!" seru Mbok Sri yang meminta Nisa untuk membantu Daniel membawa koper-koper itu masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Siapakah gadis itu Mbok?" tanya Jihan kepada Mbok Sri.


"Dia adalah keponakan mbok, dia adalah Putri dari adik Mbok." jawab Mbok Sri yang kemudian menyuruh Daniel dan Jihan masuk ke dalam. terlihat dari tatapan mata Nisa..., wanita muda itu terus menatap Daniel.


"Terima kasih Nisa, karena kau sudah menolongku." ucap Daniel yang kemudian memasukkan koper-koper itu ke dalam kamar Daniel dan Jihan. di tempat itu Jihan dan Daniel tidak tidur dalam satu kamar, mereka tidur di kamar yang berbeda itu adalah kesempatan yang sangat besar. karena mereka tidak berada di rumah Ayah Jefri.


"Jangan berfikiran untuk masuk ke kamarku!" seru Jihan.


"Lagian siapa yang mau masuk ke kamarmu, Aku tidak mau masuk ke kandang harimau." jawab Daniel yang kemudian masuk ke dalam kamarnya. Jihan begitu marah ketika dirinya dikatain sebagai harimau oleh Daniel.


"Apa! berani sekali kau mengataiku sebagai harimau. Awas ya suatu saat nanti akan makam kau dan akan dicabut cabik tubuhmu!" seru Jihan yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


BRAKK...


Jihan menutup pintu kamarnya dengan begitu keras, dia tidak terima karena tadi dikatai oleh Daniel sebagai harimau buas.


"Ya ampun...., Ini kamar apaan sih. Mengapa kamar ini benar-benar sangat sempit seperti ini? Lagian Kenapa Ayah harus membangun rumah seperti ini." ucap Jihan yang terus menatap kamar tersebut. kamar itu adalah kamar Jihan waktu kecil, masih tetap seperti dulu, foto-foto Jihan waktu kecil dan beberapa ornamen kesukaan Jihan.


Sesaat kemudian terlihat Daniel yang berada di dalam kamar nampak pria itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


DRETTTT...


ponsel Daniel bergetar, dengan segera pria itu melihat siapa gerangan yang menelponnya malam-malam begini.

__ADS_1


** bersambung **


__ADS_2