
"Tuan!tuan!!" seru anak buah pria tua.
"Ada apa?" tanya pria tua.
"Heh..heh..," helaan nafas yang ngos-ngosan dari anak buah pria tua.
"Ada apa kau berteriak seperti itu? Apakah kau tidak punya pekerjaan lain selain berteriak di rumahku?!" seru pria tua.
"Celaka Tuan, celaka!" jawab pembantu pria tua.
"Ada apa memangnya? celaka, apakah Kau habis kecelakaan?" tanya pria tua.
"Bukan,Tuan." jawab pembantu pria tua.
"Lalu Ada apa?celaka Bagaimana? memangnya siapa yang celaka?" tanya Pria tua yang beruntun.
"Mbak Jihan, Tuan. Mbak Jihan!" seru pembantu pria tua.
"Jihan, dia Kenapa?!" seru pria tua.
"Celaka Tuan." jawab pembantu pria tua.
"Celaka bagaimana? dia bisa celaka bagaimana?!" seru pria tua kembali yang terlihat kebingungan dengan kata-kata yang terus diucapkan oleh pembantunya.
"Mbak Jihan akan membuka pabrik baru lagi di desa ini, bahkan para warga sangat berantusias dan menolong wanita itu." jawab pembantu pria tua.
"Bagaimana mungkin gadis kecilku itu mau membuka pabrik baru lagi? Bukankah seharusnya dia tidak betah di desa ini!!" seru pria tua.
"Tidak tahu Tuan, kelihatannya dia dan suaminya baik-baik saja."jawab pembantu pria tua.
"Bagaimana bisa baik-baik saja, seharusnya mereka itu bertengkar setelah melihat foto-foto yang begitu panas itu." jawab pria tua.
"Tidak tahu, Tuan. kelihatannya mereka baik-baik saja." Jawab pembantu pria tua.
"Bagaimana bisa mereka baik-baik saja, seharusnya mereka bertengkar, mereka berpisah dan mereka sudah tidak bersama lagi!!!" teriak pria tua yang benar-benar tidak akan pernah percaya. kalau hubungan Jihan dan Daniel baik-baik saja.
Memang Pria tua yang bernama Roni itu mengenal Daniel dengan baik, sangat baik. karena Daniel adalah orang kepercayaan Ayah Jefri.
Pria tua tidak percaya kalau Daniel masih percaya dengan istrinya "Aku sudah mencetak foto-foto itu di koran, Kenapa Daniel masih percaya dengan Jihan!" seru Roni.
Di tempat lain terlihat Jihan dan sang suami sedang berbincang-bincang mengenai pabrik yang akan mereka buka.
1 bulan kemudian
Pagi ini sekitar 5 warga sudah ada di rumah Jihan, mereka terus menunggu Jihan yang sedang melakukan jogging di taman belakang.
"Ibu-ibu ini pada ngapain sih?" tanya Jihan.
"Nungguin mbak Jihan." jawab ibu-ibu.
__ADS_1
"Lalu? Ngapain nunggu aku?" tanya Jihan lagi.
"Ya kami mau ngomong." jawab Ibu-ibu.
"Baiklah kalau begitu, ada apa?" jawab Jihan yang kemudian menghentikan olahraganya dan duduk bersama 5 ibu ibu. ibu Cece terlihat menatap Jihan sambil tersenyum.
"Ada apa Bu? kok tersenyum?" tanya Jihan.
"Kapan sih pabriknya mau dibuka, Mbak?" tanya ibu Cece.
"Memangnya kenapa?" tanya Jihan balik. wanita itu begitu gemes lihat 5 ibu-ibu yang sudah 2 hari ini terus berada di rumahnya.
"Tentu saja kami mau mendaftarkan anak-anak kami dan kami sendiri." jawab ibu ibu.
"Memangnya Putri Ibu Cece itu berumur berapa?" tanya Jihan.
"15 tahun, lulusan SMP, Mbak." Jawab Ibu cece.
"Lho..kenapa nggak sekolah lagi?" tanya Jihan.
"Nggak punya biaya Mbak." Jawab Bu Cece.
"Kalau Ibu Ana?" tanya Jihan.
"Kalau aku sih Mbak mau daftarin Anak perempuanku yang 1 bulan lagi mau lulus, kan tempat Mbak Jihan mau membuka pabrik waktu Anak saya baru lulus." jawab bu Ana.
"Kalau ibu Lita ngapain?" tanya Jihan kembali
"Ibu tahu kan.., saya harus mengurus proses pembukaan pabrik dulu, sekitar 1 atau 2 bulan baru dibuka. apalagi ibu-ibu tahu kan saya belum membersihkannya dan membangun ulang pabrik itu." jawab Jihan.
"Bagaimana kalau kita gotong royong untuk membangun pabrik itu, Mbak. tidak dikasih gaji juga tidak apa-apa mbak. asalkan pabrik itu Cepat dibuka." jawab Ibu Ana.
"Ya sebentar dulu loh, Bu. aku ini belum konsultasi sama suamiku lo...," jawab Jihan.
Hari itu menjadi hari yang sangat berbahagia bagi Jihan, karena hari itu Ayah Jefri memberikannya kado yang sangat spesial. kedatangan ayah Jefri di tempat itu membuat Jihan begitu bahagia, pantas saja suaminya pagi-pagi buta sudah tidak ada di sana. ternyata suaminya menjemput mertuanya yang naik pesawat pribadi.
"Selamat pagi!" seru Ayah Jefri dengan nada suara yang begitu keras.
Jihan yang mendengar suara yang begitu familiar terlihat wanita itu tidak menghiraukan kata-kata itu.
"Assalamualaikum!" seru Ayah Jefri dengan nada suara yang begitu keras.
Jihan tersentak, Dia sangat mengenal suara yang berteriak itu. "Ayah!!" seru Jihan yang Kemudian berdiri dan berlari memeluk sang ayah.
"Mana jawabannya, assalamualaikum!!" seru Ayah Jefri.
"Waalaikumsalam, Ayah!!" jawab Jihan yang masih berkelanjutan manja kepada ayahnya.
KHEMMM..
__ADS_1
Daniel berdehem, pria itu menatap sang istri yang sedang berkelahi manja kepada ayahnya.
"Assalamualaikum!!" seru Daniel.
"Waalaikumsalam, Mas." jawab Jihan yang kemudian mencium tangan suaminya.
"Kok suamimu tangannya dicium, Ayah nggak?!" seru Ayah Jefri yang terlihat sengaja melakukan hal itu.
"Maaf Ayah, spontan." jawab Jihan.
Terlihat Ayah Jefri menatap beberapa warga yang sudah berada di rumahnya.
"Pak Jefri!!" seru ibu-ibu yang melihat ayah Jefri sudah berada di rumahnya.
"Selamat pagi, ibu-ibu." jawab ayah Jefri.
"Sudah lama enggak pernah ketemu, pak Jefri!!" seru Bu Cece.
"Alhamdulillah baik bu, Bagaimana keadaan ibu sekalian?" tanya ayah Jefri.
"Alhamdulillah, semuanya Pak." jawab Bu Ana.
"Alhamdulillah kalau begitu, silakan berbincang-bincang. saya mau istirahat dulu, capek sudah tua naik mobil kelamaan." ucap Ayah Jefri yang kemudian mengajak Daniel untuk segera masuk.
"Mas, ajak Ayah makan dulu!" seru Jihan.
"Oke Sayang." jawab Daniel.
Ayah Jefri benar-benar sangat senang karena putrinya sudah berubah total, bahkan putrinya itu sekarang bisa menghargai orang lain dan bersikap sangat santun kepada orang lain.
"Daniel, apa istrimu itu masih liar?" tanya ayah Jefri.
"Maksud Ayah?" tanya Daniel.
"Apa dia masih suka berkelahi?" tanya ayah Jefri kembali.
"Tentu saja tidak, Ayah." jawab Daniel.
"Baguslah kalau begitu." jawab ayah Jefri.
"Oh ya Daniel, ada kemajuan enggak?" tanya ayah Jefri yang membuat Daniel kebingungan.
"Maksud Ayah ini kan kalian sudah 1 tahun sudah menikah, apa putriku itu sudah mengandung?" tanya ayah Jefri yang begitu spontan, hingga membuat Daniel begitu malu.
"Kenapa kau diam saja, istrimu itu sudah mengandung belum?" tanya ayah Jefri kembali.
"Belum Ayah, masih belum dikasih rezeki." jawab Daniel.
"Ya udah kalau begitu, Ayah tunggu, ayah sudah tua ingin punya cucu." jawab ayah Jefri yang kemudian duduk di ruang tamu.
__ADS_1
**bersambung**
mohon dukungannya selalu dan jangan lupa tinggalin jejak 😊❤️❤️👍👍👍😍😍🙏