IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU

IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU
Di suruh berfikir


__ADS_3

Truuutttt


bunyi ponsel Daniel, pria itu menatap ponselnya sembari melihat nama yang ada di ponsel tersebut.


"Ya Paman." jawab Daniel.


"Kau ada di mana Daniel?" tanya Pak Jefri kepada Daniel.


"Saya berada di salah satu butik, Paman." jawab Daniel.


"Memangnya dia membeli apa?" tanya Pak Jefri kembali.


"Saya tidak tahu Paman, Entahlah Jihan membeli apa." jawab Daniel.


Pria itu tidak mengetahui kalau Jihan membeli gaun putih untuk pernikahannya Besok bersama Daniel.


"Baiklah kalau begitu, jaga Putriku baik-baik." ucap pak Jefri yang kemudian mematikan ponselnya. tak berselang lama terlihat ponsel milik Daniel tiba-tiba berbunyi lagi.


"Kenapa Paman dari tadi menelponku? Apakah ada sesuatu yang penting." ucap Daniel yang kemudian mengambil ponsel yang ada di sakunya kembali. pria itu menatap layar ponselnya, berbeda.. sekarang di layar ponsel itu tertera nama Dini, seorang wanita mahasiswa jurusan kedokteran yang selalu menelepon Daniel dan selalu mengganggu pria itu. calon Dokter muda itu benar-benar sangat tergila-gila dengan Daniel.


Daniel membiarkan ponselnya, pria itu tidak ingin memberikan sebuah janji palsu kepada seorang wanita, Daniel seorang pria berumur sekitar 27 tahun. sedangkan Jihan berumur 22 tahun, hanya terpaut 5 tahun namun Jihan seperti seorang wanita kekanak-kanakan namun sifatnya benar-benar sangat arogan.


"Telepon dari siapa saja, dari tadi ponsel mu itu berdering terus.." ucap Jihan.


"Dari Papamu.." jawab Daniel.


Jihan menatap wajah Daniel sembari mencibir pria itu.


"Sejak kapan aku memanggil ayahku dengan sebutan Papa, kau ini belum sadar ya..." ucap Jihan sembari menepuk pundak Daniel.


"Pagi-pagi kau menelponku dan memintaku ke rumah, sedangkan aku kemarin harus menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh ayahmu yang begitu banyak." ucap Daniel sembari menyisir rambutnya dengan jari jemarinya,


"Ya sudah kalau begitu, kau istirahatlah di ruang tunggu itu. aku akan mencoba beberapa pakaian, mungkin sekitar 1 atau 2 jam Aku baru selesai." ucap Jihan.


Daniel melongo, itulah yang selalu dirasakan Daniel saat dia harus menemani Jihan berbelanja atau ke mana pun. terkadang Daniel harus menghela napasnya berulang kali, karena merasa kesal selalu menunggu Jihan berbelanja dengan waktu yang sangat panjang.

__ADS_1


Sekitar satu setengah jam lamanya Jihan mencari barang-barang yang dia incar, terlihat wanita itu keluar sembari menatap Daniel yang sudah tertidur di ruang tunggu. Jihan mendekati pria itu sambil memotretnya secara sembunyi-sembunyi.


"Aku harus segera menikah denganmu, karena aku tidak mau terus menerus dipaksa oleh ayah untuk menikahi para pria pria kurang ajar dan Brengsek itu. Aku tidak mau menjadi bahan tertawaan bahkan mesin pencetak uang bagi para pria itu." ucap Jihan sambil menatap wajah Daniel.


Tak berselang lama Jihan membangunkan Daniel, wanita itu membangunkan Daniel dengan cara yang benar benar terkadang menyebalkan, kaki Jihan dipukul dengan kaki Jihan.


"Adakah cara lain bagimu untuk membangunkan ku, jangan menendang kaki ku terus menerus. bagaimana menjadi seorang istri yang sangat baik jika kau membangunkan suamimu dengan cara menendang kakinya.." ucap Daniel yang membuat Jihan langsung terkejut.


"Kau belum tidur ya?" tanya Jihan dengan suara yang begitu keras.


"Tentu saja aku belum tidur." jawab Daniel.


"Kalau belum tidur, Mengapa kau memejamkan matamu. kau berniat mengerjai Ku ya?" tanya Jihan.


"Mataku ini terasa panas, jika aku membuka kedua mataku terus menerus mungkin mataku akan terus berair." jawab Daniel.


"Itu cuma alasan mu saja!!" seru Jihan.


"Kau ini wanita yang tidak mempunyai perasaan sama sekali, aku itu selalu menjadi tameng buatmu Di setiap kali kau mendapat masalah. Hari ini aku ingin memejamkan mataku saja kau berteriak hingga membuatku terasa seperti di area pemakaman.."ucap Daniel.


"Bisakah kau membawaku aku ke tempat makan?" tanya Daniel.


"Apakah kau lapar?" tanya Jihan balik.


"Tentu saja aku lapar, aku belum sempat Makan." jawab Daniel.


"Lalu Mengapa kau tidak makan dirumah tadi?" tanya Jihan lagi.


"Tidak ada waktu." jawab Daniel.


Akhirnya Daniel membawa Jihan ke salah satu rumah makan yang ada di kawasan tersebut.


Terlihat Daniel sudah sangat hafal di tempat itu, bahkan para pelayan yang ada di restoran itu nampak sangat akrab dengan Daniel. memang wajah Daniel tidak setampan para pria yang dijodohkan kepada Jihan, namun Daniel adalah pria sopan yang benar-benar membuatnya digandrungi oleh banyak wanita. buktinya 2 gadis yang bekerja di restoran itu nampak memberikan makanan pesanan Daniel sembari tersenyum dan menatap wajah Daniel dengan waktu yang sangat lama.


Jihan nampak ikut menetapkan, tidak ada sesuatu yang menarik di wajah Daniel. tentu saja Jihan memandang Daniel dengan cara seperti itu karena dia belum merasa kan perasaan yang berbeda dengan pria itu.

__ADS_1


"Makanlah, karena aku sangat lapar."ucap Daniel kepada Jihan.


"Kelihatannya Kau sering sekali kesini?" tanya Jihan.


"Aku sering ke sini bersama Ayahmu." jawab Daniel.


"Benarkah?" tanya Jihan.


"Tentu.." jawab Daniel balik.


"Ternyata kau dan ayahku mempunyai kesamaan yang hampir membuatku menggelengkan kepala.." ucap Jihan.


"Benarkah?' tanya Daniel.


"Ya, kalian berdua itu benar-benar sangat menyebalkan." jawab Jihan sambil tersenyum.


"Terserah apa katamu, namun berpikirlah dengan pikiran yang jernih. Jangan membuat keputusan yang akan kau sesali nanti." ucap Daniel.


"Memangnya tentang apa?" tanya Jihan.


"Mengenai permintaanmu untuk menikah denganku." jawab Daniel.


"Memangnya apa yang salah?" tanya Jihan.


"Aku adalah seorang pria yang tidak memiliki harta, tidak memiliki kedudukan Bahkan aku hanyalah pegawai dari ayahmu. lalu jika kau menikah denganku Bagaimana pandangan para teman bisnismu itu.."ucap Daniel.


"Aku tidak peduli, Yang penting aku melaksanakan permintaan Ayah." jawab Jihan.


Daniel hanya tersenyum, sesaat kemudian pria itu memencet pelipisnya.


"Jika kau menikah denganku..Apakah kau sudah siap hidup susah denganku?" tanya Daniel.


"Itu bisa dipikirkan nanti, karena aku tidak ingin memikirkan hal itu sekarang." jawab Jihan.


Daniel hanya menghela nafasnya, karena dia sangat tahu benar Bagaimana sifat dari Jihan.

__ADS_1


** bersambung **


__ADS_2