
"Udah, gak usah di dengerin." ucap mbok Sri.
"Nggak didengerin gimana mbok, lha wong dua ibu itu bicaranya keras banget." jawab Jihan.
"Pura-pura budek." ucap Mbok Sri.
"Kalau budek beneran gimana, Mbok." jawab Jihan.
"Ya jangan sampai." ucap Mbok Sri kembali.
"Mbok Sri ini, pagi-pagi sudah membuatku kesal saja."Jawab Jihan yang kemudian menarik tangan Mbok Sri untuk membeli beberapa sayuran segar dan buah-buahan.
"Memangnya Mbok Sri tahu tentang pria itu?" tanya Jihan.
"Tahu banget." jawab Mbok Sri.
"Lalu?" tanya Jihan.
"Ya enggak usah tanya lalu, kau tahu sendiri kan." jawab Mbok Sri.
"Aku benar-benar sangat kesal dengan kelakuan pria itu, aku sudah berkali-kali menolaknya. apa dia tidak malu menginginkan seseorang yang gadis seumuran keponakannya." ucap Jihan.
"Itu namanya tua-tua keladi, makin tua makin menjadi." jawab mbok sri yang membuat Jihan tertawa terbahak-bahak.
"Mbok ini tahu banget kata-kata gaul." ucap Jihan yang kemudian mengajak Mbok Sri untuk segera pergi dari pasar.
Sesaat kemudian sebuah kejahilan nampak tersirat di otak Jihan, langkah kakinya terhenti Di tempat ibu ibu yang membicarakan nya.
"Oh ya Mbok, kalau ada orang yang terus-menerus membicarakanku dan membuatku kesal apa kita memberi dia pelajaran aja." ucap Jihan sambil melirik dua ibu-ibu itu.
"Tentu saja, kenapa tidak." jawab Mbok Sri.
"Bagaimana kalau aku pecat saja orang-orang yang bekerja di pabrik perhiasan, setelah itu..., pabrik itu mau aku pindah ke kota." ucap Jihan.
Dua ibu-ibu itu nampak tersentak, jika pabrik perhiasan ditutup maka pengangguran yang ada di desa itu akan semakin bertambah.
"Kok gitu!" seru ibu-ibu.
"Lho..., ibu-ibu ngapain berteriak seperti itu?" tanya Jihan yang dengan sengaja mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Tentu saja kami berteriak, Kenapa Nono Jihan mau menutup pabrik perhiasan itu? jika pabrik itu ditutup bisa-bisa penduduk yang ada di desa ini menjadi pengangguran semuanya!" seru ibu ibu.
"Ngapain juga aku memikirkan nasib warga desa." jawab Jihan.
"Ya gak bisa begitu mbak!" seru ibu-ibu.
"Ayo mbok, lebih baik kita pulang. aku mau mengurusi semua permasalahan ini!" seru Jihan yang kemudian menarik Mbok Sri untuk pergi dari pasar.
Dua ibu-ibu nampak begitu tersentak dengan kata-kata yang diucapkan oleh Jihan,
"Bagaimana nasib anak-anak kita, Bu?" ucap Ibu A.
"Iya Bu, Bagaimana."jawab Ibu B.
"Apa kita bicara sama Pak RT aja." ucap ibu A.
"Iya, kalau begitu Sebaiknya kita langsung ke rumah Pak RT. mungkin saja Pak RT bisa menolong kita!" seru Ibu B yang kemudian menarik ibu untuk segera pergi ke rumah Pak RT.
Jihan dan Mbok Sri yang melihat hal itu nampak mereka berdua ingin menertawakan semua yang dilakukan oleh 2 ibu-ibu itu.
Di tempat lain terlihat Daniel membuka laptopnya, dia membicarakan perihal koran itu kepada ayah Jefri.
"Tentu saja aku sangat percaya pada istriku, Ayah. tapi aku ingin sekali memberikan pelajaran kepada pria itu." ucap Daniel.
"Tentu saja kau bisa melakukannya, aku akan membantumu untuk membuat pria itu menjadi pria miskin karena terus-menerus mengganggu putriku!" seru Ayah Jefri yang membuat Daniel begitu lega. karena mertuanya mau membantu dirinya.
Dari dahulu Ayah Jefri tidak menyukai keberadaan Roni yang selalu mengejar-ngejar Jihan, karena Pria tua yang berumur 45 tahun itu bagaikan penyakit yang akan menggerogoti Jihan.
"Baiklah kalau begitu, sekarang kau akan merasakan bagaimana rasanya menjadi orang bodoh." ucap Jihan.
30 menit kemudian
"Assalamualaikum!" seru Jihan.
"Waalaikumsa-lam." jawab Jihan yang sedikit terkejut karena baru kali ini Jihan mengucapkan salam.
"Kok jawabnya gitu?" tanya Jihan.
"Tentu saja kaget, kan kamu baru ngucapin salam." jawab Mbok Sri.
__ADS_1
"Kok bisa gitu?" tanya Jihan.
"Tentu saja bisa." jawab Mbok Sri.
"Kalian jahat banget sih." ucap Jihan.
"Alhamdulillah, Mbok. berarti istriku sudah bisa menjadi istri yang akan mengantar suaminya dengan doa." jawab Daniel.
Jihan tersenyum, karena dia berharap untuk bisa menjadi seorang istri yang sangat baik untuk suaminya para ibu-ibu yang ada di desa mereka semua begitu heboh karena mendengar kata-kata yang diucapkan Jihan.
"Bagaimana ini pak RT, Masa Mbak Jihan mau menutup pabrik perhiasan dan mau dipindah ke kota." ucap ibu-ibu.
"Kata siapa tadi ibu-ibu?" tanya pak RT.
"Tadi Mbak Jihan yang bilang sendiri kalau pabriknya mau ditutup." jawab ibu-ibu.
Beberapa ibu-ibu yang mendengar hal itu, nampak mereka langsung heboh karena semua yang telah diucapkan oleh dua ibu-ibu yang tadi membicarakan Jihan.
"Kok bisa begitu?" tanya Mbok Sri.
"Sudah, sudah. lebih baik kita segera ke tempat Mbak Jihan dan menanyakannya." jawab Pak RT.
Sebenarnya Pak RT juga sangat ketakutan dan kebingungan, Jika benar pabrik perhiasan akan ditutup maka penduduk desa itu akan menjadi pengangguran semuanya. mereka menggantungkan hidup dari pabrik perhiasan karena kondisi desa yang sedikit miskin. berkat keberadaan pabrik perhiasan milik Ayah Jefri kami menggantungkan hidup dari pabrik itu, jika benar pabrik itu ditutup maka Apa yang akan terjadi ucap para warga.
"Sudah-sudah, Kalian tidak usah saling berdebat seperti itu, lebih baik kita ke tempat Mbak Jihan. karena Mbak Jihan juga belum mengatakan hal itu padaku." ucap pak RT.
"Apa karena kita membicarakan masalah foto-foto Mbak Jihan yang ada di koran ya." ucap salah satu ibu-ibu.
"Iya, kenapa juga kita harus mengatakannya. jadinya seperti ini kan." jawab Salah satu ibu-ibu kembali.
"Dasar mulut ibu-ibu ini tidak bisa dikontrol sama sekali, Kalau terjadi sesuatu bisa bisa kita semua jadi pengangguran." ucap seorang bapak-bapak yang ada di desa.
"Makanya Bu, ibu-ibu itu tidak boleh mengatakan hal itu. kita itu menggantungkan hidup dari pabrik milik Pak Jefri, pantas saja Mbak Jihan marah karena kalian mengatakan sesuatu yang buruk ya?" tanya seorang bapak-bapak yang ada di desa.
"Sudah Pak, jangan banyak bicara. lebih baik kita ke tempat Mbak Jihan saja, kita tanyakan mengenai kebenaran penutupan pabrik itu!" seru Pak RT yang kemudian mengajak beberapa warga untuk ke tempat Jihan.
Siang itu beberapa warga benar-benar mendapatkan guncangan yang sungguh luar biasa, karena mereka telah membicarakan masalah foto yang ada di koran. sebenarnya Jihan tidak ingin melakukan hal itu, wanita itu hanya ingin membuat para ibu-ibu tidak terlalu bergosip.
** bersambung **
__ADS_1