
"Bagaimana? apakah semua pesanan sudah selesai?" tanya Jihan.
"Sudah Mbak." jawab Ayah dari Deni.
"Baiklah kalau begitu, kami akan melihat terlebih dahulu barang-barang itu." ucap Jihan yang kemudian melihat perhiasan-perhiasan itu.
"Apakah ada masalah dengan barang-barangnya?" tanya Daniel kepada Jihan.
"Sebenarnya barang-barang ini tidak bermasalah, namun beberapa barang kelihatannya sengaja dirusak untuk membuat pabrik perhiasan ini." hancur jawab Jihan.
"Lalu, bagaimana kita mengetahui siapa yang melakukan hal itu? apakah dia pekerja bagian produksi atau orang lain yang menyuruh pekerja kita untuk merusaknya?" tanya Daniel.
"Aku tidak tahu, tapi yang jelas kemungkinan besar barang-barang ini kualitasnya memang dibuat rusak agar perusahaan kita hancur dengan semua kondisi perhiasan yang kualitasnya sudah turun." jawab Jihan.
"Aku harus mengakui kalau kau adalah wanita yang benar-benar sangat mengerti mengenai perhiasan." ucap Jihan.
"Aku tidak akan pernah menyangka kalau ada seseorang yang berusaha untuk menghancurkan tempat ini." ucap Daniel.
Hidup penuh dengan sebuah liku-liku yang begitu panjang, sekarang kita tidak akan tahu kemana jalan itu akan terhenti. salah satu pekerjaan yang ada di pabrik Ayah Jefri ternyata ada seorang penghianat. dia adalah orang kepercayaan dari salah satu musuh bebuyutan pria tua itu.
BRETTTT...
suara ponsel Jihan berbunyi, seketika wanita itu langsung melihat ponselnya.
"Ada apa?" tanya Daniel kepada Jihan.
"Ayo kita keluar sebentar dan pergi ke suatu tempat, karena aku sudah lapar." ucap Jihan yang meminta Daniel untuk segera pergi dari pabrik perhiasan.
"Oh ya ayah Deni, kalau begitu kami keluar dulu. Aku sudah lapar mau mencari makanan." ucap Jihan.
__ADS_1
"Baiklah Nona, Saya akan berjaga-jaga disini." jawab ayah Deni ingin segera Jihan menarik tangan suaminya untuk pergi dari pabrik perhiasan tak jauh dari tempat itu ada sebuah warung makan yang tidak terlalu lama dengan kondisi yang lumayan sepi.
"Ada apa? kelihatannya ada sesuatu yang penting?" tanya Daniel kepada istrinya.
"Sebentar." jawab Jihan.
kemudian wanita itu menghidupkan ponselnya dan menelepon ulang ayahnya."Halo Ayah!" seru Jihan.
"Bagaimana? Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya ayah Jefri yang terlihat suaranya sedikit takut kalau terjadi sesuatu dengan putrinya.
"Tidak apa-apa yah, semuanya baik-baik saja." jawab Jihan.
"Lalu? apakah kecurigaanmu itu ada benarnya?" tanya ayah Jefri.
"Kelihatannya kecurigaanku itu benar, ayah.aku dan Daniel sudah melihat semua tingkat kerusakan pada perhiasan-perhiasan itu." jawab Jihan.
"Lalu?" tanya ayah Jefri.
"Apakah kau bisa menyelesaikannya, Daniel?" tanya ayah Jefri.
"Tentu ayah, saya akan menyelesaikannya secepat mungkin." jawab Daniel. Jihan langsung menginjak kaki suaminya wanita itu melotot sembari memukul pundak sang suami.
"AUCH...." rintih Daniel ketika kakinya diinjak oleh Jihan.
"Ada apa Daniel?!" seru ayat Jefri dari seberang tempat. saat mendengar suara jeritan Daniel yang terlihat kesakitan.
"Tidak apa-apa, Ayah! semua baik-baik saja aku tidak sengaja menginjak kakinya karena kami sedang berada di warung makan." jawab Jihan.
"Kau tidak sengaja atau kau sengaja melakukannya?" tanya Ayah Jefri.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, ayah tutup dulu telfonnya." ucap Jihan yang kemudian mengajak Daniel ke suatu tempat.
"Nanti jangan dekat-dekat dengan Nisa, awas!" ancam Jihan.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh dekat dengan Nisa? Apakah kau cemburu?" tanya Daniel.
"Jadi kau mau bermain-main seperti itu? Baiklah kalau begitu kalau kau mau mendekati Gadis itu boleh saja, tapi aku akan mencari seseorang dan akan ku ajak dia kencan!" seru Jihan yang membuat Daniel langsung melotot.
"Kau tidak boleh melakukan hal itu!" seru Daniel
"Memangnya kenapa?" tanya Jihan.
"Pokoknya tidak boleh, gitu aja ngomong aku cemburu! Bukannya kau sendiri yang cemburu." ucap Jihan yang membuat Daniel langsung mengalihkan pandangannya.
"Maka dari itu jangan main-main dengan ku, kalau kau main-main...,awas!" seru Jihan kembali dengan nada suara yang mengancam.
"Bilang saja kalau kau cemburu!" seru Daniel.
"Sama." jawab Jihan yang kemudian duduk di atas motor.
Akhirnya Jihan mengajak Daniel pergi ke sebuah pasar yang sedikit jauh dari tempat mereka. Daniel sangat terkejut karena Jihan meminta pergi ke pasar tradisional yang ada di desa itu.
"Kau mau apa kesini?" tanya Daniel.
"Kalau kita pergi ke pasar itu berarti kita mencari bahan makanan." jawab Jihan.
"Untuk apa?" tanya Daniel.
"Tentu saja untuk makan, kau kira bahan makanan untuk diapakan? Apakah mau dibuat perhiasan." jawab Jihan dengan nada suara yang benar-benar kesal karena pertanyaan Daniel.
__ADS_1
Akhirnya pria itu mengikuti kemana langkah kaki sang istri, mengalah lebih baik daripada membuat istrinya benar-benar murka apalagi harus membicarakan mengenai Nisa.
** bersambung **