
"Semuanya baik-baik saja Tuan bahkan kami sudah menemukan beberapa harta karun berkat kemuliaan Tuhan." jawab pria penanggung jawab pertambangan.
"Kenapa tempat ini kelihatannya malah lebih canggih daripada rumah itu?" tanya Jihan kepada Daniel.
"Apakah kau ingin tempat itu di fasilitasi dengan wi-fi atau komputer?" tanya Daniel
yang membuat Jihan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memesan beberapa peralatan dan akan ku pasang sendiri." jawab Daniel.
"Aku ingin melihat perkembangan perusahaan ku yang ada di kota. Aku tidak ingin kehilangan perusahaan ku." jawab Jihan.
"Lagi pula kita tidak akan tahu berapa lama kita berada di perusahaan ini, di tempat ini. kau tahu sendiri kan beberapa perkembangan perusahaan di kota tergantung dari perusahaan yang ada di sini, jika perusahaan pertambangan dan perhiasan mulia yang ada disini hancur maka seluruh perekonomian perusahaan Ayah Jefri akan hancur." jawab Daniel.
"Mengapa tidak kau biarkan saja?" tanya Jihan.
"Kalau aku melakukan hal itu, maka Aku adalah seorang pria yang tidak mempunyai pemikiran. aku tidak bisa berterima kasih dan Aku adalah orang brengsek yang tidak mempunyai perasaan sama sekali." jawab Daniel.
"Mengapa seperti itu?" tanya Jihan.
"Sebenarnya aku adalah bocah yang berasal dari tempat ini namun bukan berasal dari desa ini. sebuah desa yang sangat jauh dari tempat ini. saat itu keluargaku sudah meninggal aku sebatang kara dan tidak ada yang mau menerimaku. Tuhan mempertemukan aku dengan ayah Jefri, pria itu menabrakku dan membawaku pulang ke kota." jawab Daniel.
"Waktu itu usiamu berapa tahun?" tanya Jihan kepada Daniel.
"Sekitar 10 atau 12 tahun." jawab Daniel.
"Berarti waktu itu aku masih kecil dong." ucap Jihan.
"Tentu saja kau masih kecil, aku ingat betul Bagaimana ibumu selalu meminta ku untuk menjagamu. aku tidak boleh melepaskan pengawasanku dari mu, Ibu mu selalu meminta ku untuk menjagamu sebagai sesuatu yang paling berharga di dalam hidupku." jawab Daniel.
DEG..
"Apa maksudmu?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Sebelum meninggal ibumu selalu berpesan padaku untuk selalu menjagamu Apapun yang terjadi, aku tidak boleh sampai kehilangan dirimu." jawab Daniel.
"Karena itu kau selalu mengawasi ku?" tanya Jihan. Daniel menganggukkan kepalanya.
"Tempat ini bukan seperti tempat penambangan di tempat-tempat lain." ucap Jihan.
"Tentu saja ayahmu tidak ingin menghancurkan tempat ini, walaupun dia melakukan penambangan dia juga memperbaiki tempat ini agar tidak hancur karena penggalian yang terus-menerus." jawab Daniel.
"Tempat ini bukanlah tempat yang terlalu terpencil, bahkan ditempat ini beberapa swalayan, toko, rumah makan dan beberapa minimarket juga sudah ada." ucap Jihan.
"Mungkin, tapi butuh waktu lama untuk membangun itu semua." jawab Daniel.
Seorang pria yang telah bersamanya semenjak kecil.
"Apakah kau mengenal Mbok Sri sejak kecil?" tanya Jihan.
"Tentu." jawab Daniel. perbincangan sepasang suami istri itu seolah adalah perbincangan seorang teman, mereka berjalan menyusuri tempat penambangan sambil berbincang-bincang.
"Apakah kau mau masuk dan melihat proses sortir batu-batu berharga itu?" tanya Daniel kepada Jihan.
"Tentu saja boleh, siapa yang berani melarang mu." jawab Daniel.
Tatapan mata Jihan menatap sebuah tempat yang ada di perusahaan itu,
"Mengapa ayah memilih tempat ini sebagai tempat yang sangat berharga atau jantung dari seluruh perusahaannya?" tanya Jihan kepada Daniel.
"Aku tidak tahu, karena di tempat inilah semuanya berawal." jawab Daniel. Jihan mengangguk, wanita itu menatap semua proses yang dilakukan hingga membuat batu-batu itu menjadi barang berharga.
"Apakah beberapa batu di datangkan dari tempat lain atau negara lain?" tanya Jihan kepada Daniel.
"Tentu, tidak semuanya berasal dari tempat ini." jawab Daniel.
"Berapa lama kita akan tinggal di sini?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin saja butuh waktu yang lama atau mungkin butuh waktu yang sangat cepat." jawab Daniel.
"Apakah aku sanggup tinggal di tempat seperti ini?" tanya Jihan.
"Itu semua tergantung padamu, mungkin saja suatu saat kau akan menemukan seseorang yang benar-benar kau sukai di tempat ini." ucap Daniel.
"Lalu status pernikahan kita bagaimana?" tanya Jihan.
"Kalau kau sudah menemukan seorang pria yang benar-benar mencintaimu aku akan melepaskan mu, untuk masalah Ayah Jefri biar aku yang menjelaskan semuanya." jawab Daniel. Jihan tersenyum ternyata pria yang selalu bersamanya ini benar-benar adalah seorang pria yang sangat murah hati.
Waktu mulai berjalan pelan di sebuah desa yang ada di pelosok.
Dua minggu kemudian
"Kau benar-benar tidak ingin makan-makanan itu?" tanya Daniel kepada Jihan.
"Apakah semua itu bisa dimakan?" tanya Jihan kepada Daniel.
"Tentu saja bisa, dari tadi aku memakannya kan." jawab Daniel.
Sesaat kemudian terlihat Nisa sudah datang diantara perbincangan Daniel dan Jihan.
"Mas Daniel lagi ngapain?" tanya Nisa kepada Daniel.
"Sedang mengupas buah-buahan untuk wanita ini." jawab Daniel.
"Ngapain juga sih harus di kupasin, tangannya kan masih lengkap." guman Nisa dalam hati yang mencibir kelakuan Jihan. Jihan nampak tidak menatap kehadiran Nisa. wanita itu tetap memakan buah-buahan yang tadi dibersihkan oleh Daniel.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Daniel kepada Nisa.
"Sebenarnya sih tidak ada apa-apa, Mas. cuma mau lihat-lihat tempat ini saja, mungkin saja Mbok Sri butuh bantuan." jawab Nisa. padahal wanita itu hanya mencari alasan untuk mendekati Daniel.
"Tadi aku sudah membantu Mbok Sri bersih-bersih, Jadi kalau tidak ada keperluan sebaiknya kau pergi saja." ucap Jihan yang kemudian melanjutkan memakan buah-buahan nya.
__ADS_1
** bersambung **