
Ketika sore telah menjelang, terlihat Jihan sudah pulang dari pabrik konveksi, wanita itu berjalan menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di rumahnya. saat berada di ruangan tengah terlihat seorang wanita yang tidak dikenal oleh Jihan, tatapan matanya menatap seorang wanita yang berusia sekitar 50 tahun lebih, sama seperti usia ayahnya.
"Tamu siapa ini." ucap Jihan sambil menatap wanita tua itu.
Terlihat Rita benar-benar menikmati waktunya di rumah Ayah Jefri, Wanita itu sudah bersiap-siap untuk menjadi seorang Nyonya dari rumah sederhana namun begitu besar itu.
"Tumah ini benar-benar sangat besar, walaupun tidak susun rumah ini akan menjadi rumahku. sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya rumah ini." ucap Rita yang terus menetap bangunan dan aksesoris yang ada di dalam rumah itu.
Nampak jihan terus menatap Rita yang dari tadi melihat satu-persatu barang-barang yang ada di rumah itu, wanita itu benar-benar risih dengan kehadiran wanita asing yang terus-menerus melihat seluruh ornamen yang ada di rumahnya.
"Siapa wanita ini, kenapa dia benar-benar begitu menyebalkan. lihatlah dari tadi dia melihat satu-persatu barang-barang yang ada di rumahku." ucap Jihan yang terus-menerus menatap Rita. sesaat kemudian datanglah Mbok Sri yang sudah melihat Jihan berada di ruang tengah.
"Kau sudah pulang, Jihan!" seru Mbok Sri kepada Jihan.
"Sudah Mbok, Memangnya kenapa?" tanya Jihan.
"Masuklah dulu." ucap Mbok Sri.
"Siapa wanita itu, Mbok?" tanya Jihan kepada Mbok Sri.
Rita yang mendengar suara seseorang, seketika wanita itu menatap seorang wanita muda yang sudah berada ada di ruang tengah.
"Pasti dia adalah anak dari pria itu, pasti dia adalah istri dari anakku." ucap Rita yang melihat Jihan.
"Siapa wanita itu, Mbok?" tanya Jihan kembali.
"Aku tidak tahu, Jihan. tadi ayahmu membawanya pulang. katanya Mereka berdua tidak sengaja menabrak wanita itu." jawab Mbok Sri.
"Lalu Mengapa dibawa ke sini?" tanya Jihan.
"Aku tidak tahu, jangan tanyakan itu padaku. tanyakan saja pada ayahmu." jawab Mbok Sri.
"Apa Mbok nggak tahu?" tanya Jihan kembali.
"Mbok nggak tahu apa-apa." jawab Mbok Sri yang kemudian menarik tangan Jihan untuk segera ikut dengannya ke kamar Jihan.
"Ada apa sih Mbok, dari tadi tanganku ditarik tarik terus?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Udah diam aja," bisik Mbok Sri yang kemudian mengajak Jihan untuk segera masuk ke dalam kamarnya.
Rita tidak menghiraukan hal itu, wanita itu terus menatap ornamen yang berharga lumayan mahal jika dijual. kalau dari ornamen-ornamen yang ada di rumah ini, aku yakin kalau harganya cukup mahal." ucap Rita yang melihat sebuah patung kecil berlapis emas.
"Ini pasti harganya mahal." ucap Rita kembali yang terlihat menatap situasi yang ada di sana.
"Kalau tidak ada orang pasti akan ku ambil patung ini dan akan ku jual." ucap Rita yang kemudian berpura-pura untuk pergi dari sana.
Sedangkan di dalam kamar, terlihat mbok.sri menarik tangan Jihan dan menyuruh wanita itu untuk segera duduk.
"Ada apa sih Mbok?" tanya Jihan yang sedikit marah kepada Mbok Sri.
"Diam sebentar." jawab Mbok Sri yang kemudian mengunci pintu kamar Jihan
"Ada apa Mbok?" tanya Jihan kembali.
"Kamu lihat wanita tadi kan?" tanya Mbok Sri.
"Memangnya ada apa?" tanya Jihan balik.
"Aku benar-benar tidak menyukai kehadiran wanita itu." ucap Mbok Sri.
"Nggak tahu." jawab Mbok Sri.
"Udah udah Mbok, emangnya wanita itu siapa sih?" tanya jihan yang sedikit kebingungan.
"Aku kan udah bilang aku nggak tahu, tanya ayahmu sama suamimu. mereka yang membawa dia habis pulang kerja tadi." jawab Mbok Sri.
"Lalu, wanita itu dari mana?" tanya Jihan kembali.
"Mbok sih kan udah bilang nggak tahu, ya Jangan tanya terus dong." jawab mbok Sri.
Sesaat kemudian terlihat Jihan meletakkan pakaiannya kemudian masuk ke kamar mandi.
"Jangan pergi dulu mbok, aku mau mandi dulu badanku udah gerah." ucap Jihan yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi. terlihat mbok sri membersihkan kamar Jihan, wanita tua itu menatap foto Jihan waktu masih kecil.
"Aku nggak nyangka kalau sekarang gadis kecil yang suka ngamuk ini sudah dewasa." ucap jihan yang kemudian meletakkan kembali foto Jihan.
__ADS_1
Sekitar 15 menit kemudian Jihan sudah keluar dari dalam kamar mandi, wanita itu membersihkan dirinya lalu menatap Mbok Sri kembali sambil menganggukkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Mbok Sri yang melihat Jihan menganggukkan kepalanya.
"Coba Mbok Sri katakan mengenai wanita itu? Kenapa wanita asing itu ada di sini? memangnya dia Siapa?" tanya Jihan.
"Nanti kamu tanya saja sama ayahmu, Mbok. soalnya mbok Sri nggak tahu." jawab Jihan.
"Ya udah kalau gitu, sebaiknya kita turun aja karena aku benar-benar penasaran dengan wanita itu, kelihatannya wanita itu bukan wanita baik-baik deh." ucap Jihan yang terlihat juga tidak menyukai sosok dari Rita.
Malam itu Jihan sudah berada di ruang makan wanita asing itupun juga berada di sana, terlihat tatapan mata Rita menatap Mbok Sri yang juga ikut makan di ruang makan.
"Kenapa pembantu itu ikut Makan disini?" tanya Rita yang menatap Mbok Sri duduk di samping Daniel.
Ke empat orang itu langsung menatap Rita yang mengatakan hal itu, seorang wanita asing yang begitu lancangnya mengatakan mbok Sri adalah pelayan.
"Wanita tua apa yang kamu lakukan, berani sekali kamu mengatakan wanita ini pembantu!" seru Jihan.
Ayah Jefri juga melihat Rita dengan tatapan mata yang benar-benar tidak suka, pria itu hanya diam saja karena takut menyinggung Rita.
"Sudah-Sudah Tidak usah dihiraukan, cepat kita makan nanti makanannya dingin loh..," ucap Mbok Sri.
"Terlihat Jihan sudah memakan semua makanan itu, kemudian meletakkan piring itu sambil menatap wanita asing yang ada di tempat itu.
"Oh ya, Jihan. Nanti ayah mau bicara sama kamu." pinta Ayah Jefri.
"Ya, Ayah. kita ke ruang tengah saja." Jawab Jihan.
"Udah sayang jangan marah seperti itu dong." ucap Daniel yang kemudian memberikan kecupan di pipi sang istri. tatapan mata Rita menatap putranya yang bersikap begitu romantis kepada wanita galak yang ada di sampingnya.
"Kelihatannya wanita ini akan menjadi penghalang untuk jalan yang akan kan aku lakukan." ucap Rita yang kemudian membereskan meja makan.
"Oh ya, sebaiknya kau letakkan saja Rita. biar nanti para pembantu yang akan membereskan nya." ucap ayah Jefri.
"Oh ya Mbok, Lebih Baik mbok sri istirahat aja, karena besok Mbok Sri harus membantu para pekerja yang lain yang ada di rumah ini." ucap Ayah Jefri.
"Tenang aja Tuan, pasti akan aku lakukan." jawab Mbok Sri.
__ADS_1
** bersambung **