
Siang ini Jihan sedang duduk manis di dalam rumahnya, kelihatannya wanita itu sedang bersantai bersama sang suami dan Mbok Sri.
"Kau suka makanannya?" tanya Mbok Sri.
"Suka banget mbok." jawab Daniel.
"Tentu saja kau suka, karena ini istrimu yang masak." jawab Mbok Sri.
"Benarkah? pasti Mbok bohong ya?" tanya Daniel.
"Memangnya kau tidak percaya kalau aku bisa masak?" tanya Jihan yang tidak terima karena suaminya tidak percaya kalau dia bisa memasak.
"Benar kau yang memasaknya, sayang?" tanya Daniel.
"Tentu saja aku yang memasaknya, Kau kira aku tidak bisa masa gitu?" tanya Jihan dengan nada suara yang sangat emosi. dari tadi dia bergulat di dapur bersama Mbok Sri untuk membuatkan masakan spesial buat suaminya. Namun ternyata malah Daniel mengatakan hal itu yang membuat Jihan langsung memalingkan wajahnya dan ingin pergi dari sana.
"Maaf-maaf sayang, gitu aja kok marah." ucap Daniel yang kemudian menarik tangan sang istri.
Sesaat kemudian terlihat suara yang begitu ramai.
"Mas Daniel, Mbak Jihan!" seru beberapa orang yang sudah berada di taman depan rumah.
"Siapa yang teriak-teriak, mbok?" tanya Jihan.
"Tidak tahu." jawab Mbok Sri.
Sesaat kemudian penjaga rumah terlihat mendatangi Jihan.
"Mbak Jihan, ada tamu!" seru penjaga rumah.
"Bapak ini enggak bisa ya enggak teriak-teriak, Nanti tak kirain Tarsan loh.." ucap Jihan yang membuat bapak penjaga rumah Jihan nampak tersenyum.
Dulu Jihan selalu bersikap begitu kasar dan sombong, namun sekarang sikapnya yang begitu baik dan begitu Ramah membuat para penjaga yang ada di rumah Ayah Jefri sangat menyukainya.
"Ya nggak gitu mbak, aku kira enggak dengar loh..," jawab penjaga rumah.
"Memangnya siapa Pak?" tanya Jihan.
"Para warga Mbak." Jawab penjaga rumah.
__ADS_1
"Memangnya ngapain mereka kesini?" tanya Jihan kembali.
"Tidak tahu Mbak, Mbak ke sana aja biar tahu." jawab penjaga rumah yang kemudian pergi meninggalkan Jihan terlebih dahulu.
"Ada apa,Sayang?" tanya Daniel kepada sang istri.
"Nggak tahu Mas, katanya ada tamu." jawab Jihan.
"Siapa?" tanya Daniel lagi.
"Para warga." jawab Jihan.
"Apa mungkin gara-gara perkataan kita tadi ya..," ucap Mbok Sri.
"Memangnya kalian mengatakan apa?" tanya Daniel.
"Itu lo Daniel, tadi kan orang-orang membicarakan mengenai foto yang ada di koran. setelah itu aku dan Jihan mengatakan sesuatu." jawab Mbok Sri.
"Memangnya apa?" tanya Daniel kembali.
"Aku bilang kalau aku mau menutup pabrik perhiasan." jawab Jihan yang membuat Daniel langsung menatap wajah istrinya.
"Mungkin saja." Jawab Jihan yang kemudian mengajak sang suami dan Mbok Sri untuk keluar menemui para warga yang sudah berkerumun di depan rumah Jihan.
Sudah lama tidak dengar kabar Nisa, terlihat pagi itu Nisa baru datang saat mendengar kabar Kalau para warga berdatangan kerumah Jihan.
"Ada apa ini?" tanya Jihan.
"Mbak Jihan, Kami ingin menanyakan sesuatu." jawab Pak RT.
"Ada apa Pak? kenapa Pak RT sama warga berbondong-bondong ke sini?" tanya Daniel.
"Karena ada masalah yang sangat penting, Mas." jawab Pak RT.
"Memangnya ada apa?" tanya Daniel kembali.
"Apa benar katanya Mbak Jihan mau menutup pabrik perhiasan?" tanya pak RT yang terlihat cemas karena dia juga bekerja di pabrik perhiasan.
Apa yang akan terjadi padanya jika pabrik itu ditutup, jabatannya hanya seorang RT berapa penghasilannya. jika terjadi sesuatu pada pabrik perhiasan maka dia akan menjadi pengangguran bersama para warga desa yang begitu banyak.
__ADS_1
"Memangnya kenapa aku tidak boleh menutup pabriku sendiri? itu kan pabrik ku, jadi semuanya terserah padaku." jawab Jihan yang benar-benar ingin memberikan pelajaran kepada para ibu-ibu agar mulutnya tidak terlalu bergosip di pagi hari.
"Jangan seperti itu dong Mbak, pabrik perhiasan milik ayah Mbak adalah sumber penghasilan kami, jika pabrik itu ditutup maka kami tidak akan mempunyai pekerjaan." seru beberapa warga.
"Biarin, Memangnya kenapa aku harus memikirkan nasib kalian. kalian saja tidak memikirkan Bagaimana perasaanku, kalian bukannya membantuku malah membuatku semakin tersiksa dengan semua pemberitaan itu, kalian ini gimana sih aku itu pimpinan di pabrik itu, seharusnya kalian membantuku bukannya membuatku bertambah tersiksa." jawab Jihan.
Sesaat kemudian Daniel mengelus punggung sang istri, biarin, biarin aja biar mereka tahu mereka kira aku ini diam saja karena takut sama mereka. Biar mereka tahu rasa jika pabrik itu langsung Aku tutup." jawab Jihan yang kemudian terlihat menunjuk satu persatu para warga yang ada disana. nampak para warga terdiam mereka benar-benar tidak akan mengira kalau sosok Jihan sangat-sangat kejam Jika sudah marah.
"Maafkan kami Mbak, kami tidak bermaksud seperti itu." ucap para warga.
"Ngapain juga kalian harus meminta maaf, kalian aja bener-bener kejam sama aku!" seru Jihan.
"Kami akan melakukan apapun untuk membantu Nona Jihan. bahkan untuk menangkap pria itu pun kami mau." jawab para warga. saat mendengar perkataan para warga terlihat senyum licik sudah tersirat di bibir Jihan.
"Bagaimana? kalau begitu Apakah kalian mau berbicara denganku di gudang? kalau di sini nanti di dengar orang lain." jawab Jihan yang kemudian mengajak beberapa warga ke gudang.
Sekitar ada 25 warga termasuk Pak RT dan Nisa.
"Apa yang akan kau lakukan sayang?" tanya Daniel.
"Tentu saja aku akan meminta imbalan kepada mereka, karena mereka sudah bekerja di pabrik dan numpang hidup di pabrik Ayah." jawab Jihan sambil menyiratkan senyum liciknya.
"Apakah kau memikirkan sesuatu?" tanya Daniel yang membuat Jihan tersenyum kembali, Mbok Sri sedikit tahu kemana arah pembicaraan Jihan dan apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
"Mbok ikut aku!" seru Jihan yang meminta mbok Sri untuk ikut juga, saat berada di gudang Jihan meminta Mbok Sri untuk menguncinya.
"Baiklah, aku akan mengatakan mengenai sesuatu yang akan menghancurkan pabrik ini. walaupun pabrik ini tidak aku tutup tapi ada seseorang yang mau berniat menghancurkan pabrik perhiasan yang sekarang menjadi tempat kalian mencari nafkah." jawab Jihan.
Akhirnya dia menceritakan semua permasalahan yang ada di pabrik perhiasan, ada beberapa orang yang berniat untuk menghancurkan pabrik itu dan membuat pabrik itu gulung tikar.
Para warga yang mendengar hal itu mereka sontak begitu marah,
"Siapa memangnya orang itu,Mbak?" tanya beberapa ibu-ibu.
"Kalau aku tahu aku akan menangkapnya." jawab Jihan.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan,Mbak?" tanya Pak RT.
"Bapak itu sudah bekerja di pabrik Berapa tahun dan menjadi orang kepercayaan Ayah berapa tahun? masa Bapak tidak tahu kalau ada penghianat." jawab Jihan yang membuat Pak RT sedikit malu karena sindiran yang diucapkan oleh Jihan.
__ADS_1
** bersambung **