
3 hari kemudian
"Masss..., aku mau makan." manja Jihan.
"Iya, bentar." jawab Daniel dengan begitu sabar.
Entah kena jin apa, sekarang Jihan begitu manja kepada Daniel. bahkan wanita itu memanggil Daniel dengan panggilan Mas. padahal dia selalu memanggil Daniel dengan hei, kau dll.
"Mas, aku mau es campurrr." manja Jihan kembali.
Nisa yang melihat kemanjaan Jihan kepada Daniel nampak Wanita itu benar-benar sangat geram. ingin sekali wanita itu menjambak rambut Jihan karena membuat Daniel seperti pembantunya.
"Mas ajak aku jalan-jalan keliling kampung dong." pinta Jihan.
"Jangan dulu, kamu itu kan sedang sakit nanti malah bertambah menjalar sakitnya." jawab Daniel.
"Mas.., Kenapa sih wanita itu terus mengikutimu sampai ke kamar ini? apakah dia tidak punya malu?" tanya Jihan kepada Daniel.
Nisa yang mendengar hal itu dia sangat marah. "Memangnya kenapa aku tidak boleh dekat-dekat sama Mas Daniel? Memangnya kamu apanya, kamu kan cuma majikannya!" seru Nisa.
__ADS_1
Jihan melotot, wanita itu ingin sekali menampar Nisa yang begitu lancang mendekati suaminya. sedangkan Daniel nampak pria itu hanya diam karena dia akan menunggu Apakah sang istri akan memberitahu kalau mereka berdua adalah sepasang suami istri atau sebatas majikan dan pembantu.
"Kalau kamu masih berada di sini akan ku lempar barang-barang yang ada di kamarku ini!" seru Jihan.
"Sudah, sudah nggak usah marah Nisa. lebih baik kamu pergi Kalau tidak dia semakin marah." pinta Daniel kepada Nisa.
"Ngapain juga sih Mas belain wanita seperti dia ,lebih baik Mas keluar aja nggak perlu mau menolong wanita itu. biarkan saja dia cacat atau mati, toh wanita tidak berguna dan sombong." ucap Nisa.
Daniel yang mendengar kata-kata yang begitu menyakitkan tentu saja pria itu menatap wajah Nisa dengan raut muka yang sangat menakutkan.
"Apakah kau tidak punya sopan santun Nisa! Apakah orang tuamu tidak pernah memberikan pelajaran tata krama!" seru Daniel.
Jihan selalu melihat Daniel membelanya di situasi seperti apapun, pria itu menjadi tameng utama Jihan. hati Jihan berdebar tidak menentu wanita itu mulai merasakan sesuatu yang begitu berbeda di hatinya, Apakah benar kalau dirinya jatuh cinta kepada Daniel. walaupun Jihan jatuh cinta itu tidak ada salahnya dan tidak berdosa. tatapan mata jihan terus menatap Daniel, sudah 3 hari lamanya pria itu selalu merawatnya, Jihan bagaikan sudah terjatuh tertimpa tangga tapi mendapatkan anugerah. setelah kejadian di pasar malam itu ternyata Jihan malah mengalami kecelakaan sedikit hingga membuat kakinya terluka.
Terkadang rasa bersalah menyelimuti hati Jihan, semua perlakuannya kepada Daniel dulu mungkin masih berbekas di ingatan pria itu. Jihan tidak berani mengatakan terus terang bagaimana perasaannya, dia takut saat dia mengutarakan perasaannya Daniel akan menolaknya.
"Apa kamu mau aku ajak ke rumah makan yang waktu itu?" tanya Daniel.
"Mau Mas, jika tidak merepotkan kamu." jawab Jihan.
__ADS_1
Daniel sangat senang seketika Jihan selalu memanggilnya dengan sebutan Mas, pria itu seperti seorang pria sempurna ketika istrinya memanggil dengan kata-kata yang berbeda bahkan dengan suara yang lembut. tidak seperti dulu Jihan selalu menggunakan nada suara yang sangat keras.
"Kau mau naik mobil atau aku gendong?" tanya Daniel sambil tersenyum.
"Naik mobil aja mas, nanti kalo Mas gendong aku apalagi tempatnya jauh Nanti malam Mas keberatan lagi." jawab Jihan.
Sebenarnya Daniel tidak masalah jika harus menggendong istrinya ke tempat itu, walaupun jauh namun masih terlihat keengganan dari Jihan untuk mengungkapkan perasaannya. Daniel akan menunggu walaupun waktunya lama, pria itu akan bersabar mendengarkan perkataan Cinta dari sang istri walaupun dia sendiri juga belum pernah menyatakan perasaannya kepada istrinya.
"Kamu mau makan apa nanti kalau kesana?" tanya Daniel.
"Mau makan apa saja Mas." jawab Jihan
Siang itu Daniel membawa Jihan kesebuah warung yang dulu dia datangi bersama Jihan. sang pemilik warung nampak menatap gadis cantik yang sekarang kakinya terluka.
"Bagaimana kondisimu nona cantik?" tanya ibu pemilik warung kepada Jihan.
"Sudah baikan Bu, lebih baik dari yang kemarin." jawab Jihan. baru pertama kali itu Jihan menjawab pertanyaan Ibu pemilik warung, biasanya dia hanya diam membisu sembari menatap wajah sang pemilik warung.
"Ternyata suaramu benar-benar cantik sama seperti wajahmu." ucap Ibu pemilik warung.
__ADS_1
Jihan tersenyum wanita itu menatap Ibu pemilik warung. "Terima kasih Bu atas pujiannya." jawab Jihan yang kemudian meminta ibu pemilik warung untuk membuatkannya makanan dan es campur. "Bu buatkan aku es campur sama nasi campur ya." pinta Jihan. "Lalu kamu mau apa, Mas?" tanya Jihan. Ibu pemilik warung nampak menatap Daniel yang wajahnya begitu bahagia saat ditanyain oleh gadis cantik itu.
** bersambung **