IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU

IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU
Jihan marah


__ADS_3

Di perjalanan terlihat Daniel memukul setir mobilnya. Dia lebih memilih menolong Nisa tanpa memikirkan perasaan istrinya, pasti Wanita itu sangat marah, beberapa jam kemudian terlihat Daniel yang sudah sampai di rumah dengan membawa Nisa bersamanya.


Terlihat disana Deni sedang mengobati kaki Jihan yang mengeluarkan darah.


"Kamu bisa memakaikan perban tidak? Kalau tidak bisa lebih baik kau carikan aku Dokter. Kalau kau melakukan hal itu terus bisa-bisa kakiku ini hancur karena kelakuanmu." ucap Jihan.


Daniel nampak mendekati Jihan, pria itu hendak menolong istrinya. Dia tidak tahu kalau kaki Jihan terluka kembali. "Berikan perbannya padaku." pinta Daniel kepada Deni.


Jihan menatap wajah Daniel dengan emosi Yang meluap. "Tidak usah, aku bisa sendiri. pergi kau!" seru Jihan yang kemudian menarik perban yang ada di tangan Daniel kemudian membuangnya. "Gak usah pakai drama berbuat baik padaku, pergi kau dari sini dan jangan sok baik padaku!" seru Jihan.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, dengarkan aku.., pergila." ucap Daniel.


"Deni, Tolong Papah aku masuk ke dalam kamar. aku mau tidur sebentar." pinta Jihan.


Daniel melihat kemarahan yang ada di wajah Jihan benar-benar begitu besar, hingga membuat wanita itu tidak ingin disentuh oleh dirinya lagi. memang kebodohannya sendiri lebih memilih wanita lain daripada menolong sang istri, apalagi Daniel tidak tahu kalau kaki Jihan terluka kembali akibat memaksakan diri untuk berjalan.


Dua hari kemudian


Sudah dua hari Jihan tidak mau berbicara dengan Daniel, wanita itu menutup mulutnya rapat-rapat karena dia masih merasa emosi kecemburuannya. benar-benar tidak bisa terbendung rasa cinta yang sudah ada membuat, Jihan bertambah murka ketika melihat Daniel memberikan perhatian kepada Nisa.

__ADS_1


"Mau ke mana Mbok?" tanya Daniel kepada Mbok Sri.


"Mau ngantar makanan sama non Jihan, kelihatannya dari kemarin dia tidak mau keluar." jawab Mbok Sri.


"Udahlah Mbok, wanita aku itu biarin aja dia itu sok menjadi majikan!" seru Nisa.


Tak Berapa lama terlihat Deni sudah berlari ketempat Mbok Sri.


"Loh.. Deni, ada apa? kenapa kamu terburu-buru?" tanya Mbok Sri kepada Deni.


"Tadi Jihan menelepon Mbok, katanya tubuhnya panas dan meminta aku untuk membawanya ke rumah sakit." jawab Deni.


"Sakit, apakah kamu yakin?" tanya Daniel.


"Kelihatannya benar, Daniel. karena kemarin aku sempat menyentuh dahinya Mbok rasa dahinya Memang panas." jawab Mbok Sri.


Daniel langsung berlari ke kamar Jihan, pria itu begitu ketakutan dengan semua yang dikatakan oleh Mbok Sri dan Deni. Deni yang berada di belakang dan nampak dia melihat sebuah kamar yang begitu gelap tanpa penerangan sama sekali.


"Mbok, ambilin aku kompres ya." pinta Jihan dengan nada yang begitu lemah.

__ADS_1


Daniel melangkahkan kakinya, menghidupkan saklar lampu dan menatap wajah istrinya yang begitu pucat. karena silau dengan sorot lampu Jihan membuka matanya, menatap seorang pria yang sudah berada di depan matanya. "Ngapain kamu kesini? keluar!" bentak Jihan.


"Apa yang kau lakukan disini, cepat keluar dari kamarku!" seru Jihan sembari terbatuk bahkan nafasnya sedikit terengah-engah. saat berteriak kepada Daniel.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit!" seru Daniel.


"Tidak usah, aku tadi sudah menelepon Deni untuk mengantarku ke rumah sakit. kau tidak usah memberikan ku perhatian. perhatikan saja kekasihmu itu, setelah aku sembuh Aku akan kembali ke kota dan aku akan menuntaskan permasalahan kita!" seru Jihan dengan nada suara yang begitu keras namun bergetar.


"Kau tidak usah berteriak seperti itu, kelihatannya tubuhmu benar-benar sakit." ucap Deni yang kemudian menggendong sang istri.


Sorot mata Jihan benar-benar menunjukkan kebencian kepada Daniel. "Aku membencimu, Aku sangat membencimu." ucap Jihan dengan suara parau yang kemudian terlihat wanita itu malah pingsan saat berada ada di gendongan Deni.


"Segera kita bawa dia ke rumah sakit!" seru Daniel.


"Iya Mas." jawab Deni yang kemudian menggendong Jihan keluar dari rumah.


"Mas aku ikut!" seru Nisa.


"Cukup Nisa, cukup kau selalu menghancurkan kebahagiaanku!" seru Daniel.

__ADS_1


** bersambung **


__ADS_2