
Satu minggu kemudian
"Kau sedang apa?" tanya Jihan kepada Daniel.
"Lagi baca surat undangan yang dikirim sama Pak lurah." jawab Daniel.
"Surat undangan apa?" tanya Jihan yang kemudian duduk di samping Daniel.
"Belum tahu, tadi mau ku buka kau sudah tanya." jawab Daniel sambil berdiri hendak ke dapur.
"Kau mau kemana?" tanya Jihan.
"Mau buat kopi, Apa kamu mau teh?" tanya Daniel kepada sang istri.
"Nggak usah, biar aku buatin aja jangan buka dulu undangannya. kalau aku datang baru kita baca sama-sama, kau dengar!" seru Jihan. Daniel menganggukkan kepalanya.
Jurus andalan Daniel cuma satu, mengalah aja daripada istrinya marah-marah apalagi ngamuk belum selesai ngamuknya tiba-tiba ada Dewi peperangan yaitu Nisa.
"Memangnya Kamu tahu Aku sukanya minum kopi pahit atau manis?" tanya Daniel.
"Tentu aku tahu, beberapa hari yang lalu aku sempat ngincip kopi buatan Mbok Sri buat kamu." jawab Jihan yang kemudian pergi ke dapur.
Sekitar 10 menit kemudian Jihan sudah membawa orange juice sama kopi susu untuk sang suami, Jihan dan Daniel masih belum saling mengakui hubungan mereka. Namun waktu akan membuat perjalanan ini mengukuhkan cinta mereka walaupun cinta itu sudah ada tapi tetap samar karena tertutupi oleh kebisuan hati mereka.
"Ini kopinya." ucap Jihan yang kemudian memberikan secangkir kopi susu untuk sang suami.
__ADS_1
"Boleh aku minum? nanti aku tidak apa-apa kan?" tanya Daniel yang membuat Jihan begitu jengkel.
"Aku tadi sudah memberikan setetes racun tikus di dalam kopi itu." cibir Jihan yang membuat Daniel menatap sang istri.
"Kamu bercanda atau beneran?" tanya Daniel yang ikut menanyakan padahal dia yakin tidak mungkin istrinya melakukan hal itu.
"Coba saja kalau kau sampai terkapar itu bukan salahku." jawab Jihan yang kemudian berdiri sambil kedua bola matanya melotot.
"Maaf, maaf. aku cuma bercanda tidak usah marah seperti itu istriku tersayang." ucap Daniel sambil menggoda sang istri. walaupun seperti itu Jihan nampak tersenyum malu saat Daniel memanggilnya dengan kata sayang.
"Tidak usah menggodaku dengan kata-kata seperti itu, kau kira kau mengatakan hal itu aku akan senang? lalu aku akan diam saja gitu." jawab Jihan sembari memalingkan wajahnya. padahal bukan itu maksud Jihan, dia ingin tersenyum menyembunyikan senyumannya Ketika sang suami memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Kau membaca undangan ini atau tidak? Kalau tidak aku baca sendiri." ucap Daniel yang membuat Jihan langsung menaruh jus di meja dan duduk di samping Daniel.
"Memangnya itu undangan apa?" tanya Jihan.
"Undangan Putri Pak lurah, maksudnya?" tanya Jihan.
"Ini undangan ulang tahun dari Putri Pak lurah." jawab Daniel.
"Lalu, Siapa yang diundang? kau atau aku? tanya Jihan yang sudah dalam mode cemburu hingga membuat Daniel langsung menelan ludahnya dengan sangat susah.
"Sebenarnya itu undangan untuk pak Jefri, tapi karena kalian berdua lagi disini jadi undangan itu jadikan satu. lihat sendiri kan undangan itu ada nama Daniel dan Jihan!" seru Mbok Sri yang tiba-tiba datang ke ruang tamu sembari memberikan cemilan yang tadi dia buat.
"Kok tahu mbok?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Ya tentu saja Mbok tahu, tadi Mbok yang naruh di meja sana." Jawab Mbok Sri. sebenarnya undangan itu undangan bertuliskan nama Daniel, karena Mbok Sri tidak ingin jika terus-menerus cemburu jadi dia menambahkan nama Jihan di belakangnya. ternyata mbok Sri itu orangnya pengertian juga.
"Orang satu kampung ini diundang semua ya?" tanya Jihan kepadatan Daniel.
"Ya.., Aku tidak tahu. kalau mau tahu tanya saja sama Mbok Sri. memangnya aku keluyuran ke rumah Pak lurah." jawab Daniel sambil melirik kepada Jihan.
BUK..
Daniel yang dipukul oleh Jihan.
"Buktinya waktu itu dia aja nemuin kamu di rumah sakit, tidak mungkin kan kau tidak mengenal wanita itu? Dasar buaya air tawar!" seru Jihan.
"Lho kok aku yang kena. Aku kan nggak tahu apa-apa, kenapa juga aku mencari wanita lain, Sedangkan di dalam rumahku ada Istriku yang masih hidup, selalu ngomel-ngomel hingga membuatku tidak bisa kemana-mana karena aku takut kehilangan dia." jawab Daniel sembari menata dinding di sebelahnya.
Jihan yang mendengar kata-kata romantis dari Daniel wanita itu nampak tersenyum, namun senyuman itu terlihat disembunyikan karena dia tidak ingin Daniel tahu.
"Dasar abg-abg tua, Masa sudah umur segitu sok-sokan jual mahal. mereka kira mereka itu masih SMA apa." gerutu Mbok Sri yang kemudian meninggalkan ruangan itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Mbok mau kemana?!" seru Jihan.
"Mau buat makanan ringan." jawab Mbok Sri.
"Ajarin aku dong Mbok!" seru Jihan.
"Jangan Mbok, nanti dia membuat kerusuhan." canda Daniel yang membuat Jihan langsung menoleh dan melotot ke arah sang suami.
__ADS_1
** bersambung **