IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU

IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU
Jihan terluka


__ADS_3

"Jihan, Jihan!!" seru Daniel. "Panggil ambulans!" seru Daniel. Daniel benar-benar sangat terkejut, darah yang keluar dari dahi Jihan benar-benar sangat banyak. dengan segera Deni memanggil ambulans.


"Apa yang terjadi, kenapa seperti ini!" seru Daniel.


"Aku tidak tahu, tadi ada seseorang yang membawa balok besi. kemungkinan besar balok besi itu mengenai kepala Jihan." jawab Deni. karena begitu terkejut akhirnya Daniel meminta Deni untuk mencari mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.


Daniel menggendong Jihan, memeluk erat istrinya yang beberapa bulan dia nikahi.


"Bawa aku ke rumah sakit!" seru Daniel.


Deni juga sangat ketakutan saat melihat dahi Jihan mengeluarkan darah apalagi wajah Nisa Jihan terlihat sangat pucat karena mengeluarkan darah yang sangat banyak.


"Aku ikut!" seru Nisa.


"Kau jangan ikut di sini saja, kau selalu mengacau!" seru Daniel dengan suara yang begitu kasar.


Akhirnya Deni mendapatkan mobil dan membawa Daniel dan Jihan ke sebuah rumah sakit kecil yang tidak jauh dari desanya itu.


Sekitar 20 menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit.


"Dokter, Dokter!" seru Daniel.


Para perawat yang melihat hal itu nampak mereka langsung mengambilkan ranjang dorong dan membawa Jihan ke ruang IGD.


"Tuan, tunggu disini. anda tidak boleh ikut!" seru para perawat.


Daniel terlihat cemas, pria itu tubuhnya seperti terkena serangan jantung karena melihat Jihan tahun kondisi seperti itu.


"Bagaimana bisa Jihan sampai seperti itu, bagaimana kau membawanya!" seru Daniel.

__ADS_1


"Maaf aku tidak tahu." jawab Deni.


"Bagaimana bisa aku memaafkanmu, kondisinya seperti ini!" seru Daniel.


Deni nampak tidak berani menjawab kembali, pria itu terdiam sembari menundukkan kepalanya. sekitar 30 menit kemudian terlihat salah satu perawat sudah keluar.


"Bagaimana kondisinya?!" seru Daniel.


"Lukanya masih kami jahit, Tuan." jawab para perawat. sesaat kemudian seorang Dokter sudah keluar dengan menyuruh para perawat membawa Jihan ke sebuah kamar. Daniel berlari karena melihat Jihan sudah keluar dari kamar.


"Kau pulanglah dahulu, bawa mobil itu pulang agar pemiliknya tidak mencari!" seru Daniel yang membuat Deni menganggukkan kepalanya.


"Besok pagi aku akan ke sini!" seru Deni.


Daniel menganggukkan kepalanya kemudian memasuki kamar Jihan. terlihat disana Jihan nampak masih memejamkan matanya.


"Kalau ada sesuatu Panggil kami, Tuan!" seru Seorang perawat.


Terlihat Daniel berdiri sembari menatap wajah Jihan yang terlihat begitu pucat.


"Lihatlah wajah cantikmu kini berubah pucat seperti itu, sikap mengesalkan dari dirimu tiba-tiba tidak terdengar lagi." ucap Daniel yang kemudian menarik kursi dan duduk di samping Jihan. pria itu terus mengelus wajah istrinya, membelai rambutnya nya Kemudian mengusap pipi sang istri. "Kau tidak boleh seperti ini, kau membuatku merasa kehilangan nyawa." ucap Daniel tidak ada pergerakan sama sekali.


Daniel terus berusaha membuka matanya, pria itu benar-benar sangat mengkhawatirkan kondisi dari istrinya. suara hembusan dari AC yang ada di ruangan itu membuat Daniel benar-benar tidak bisa terjaga. dia memejamkan matanya sembari memegang erat tangan sang istri,


Entah pukul berapa Jihan mulai tersadar. wanita itu menatap tempat keberadaannya sekarang, semuanya berwarna putih, Jihan nampak hendak menggerakkan salah satu tangannya namun yang terjadi tangannya terasa berat karena ditarik oleh sesuatu.


Jihan menatap tangannya, terlihat Daniel terus memegang tangannya dengan begitu erat. sebuah senyum nampak terukir begitu indah di bibir Jihan.


DEG..

__ADS_1


DEG..


jantung jihan terus berdebar tidak terhenti ketika melihat Daniel terus memegang tangannya. ada sebuah perasaan yang begitu aneh, bahagia dan tidak ingin dilepaskan oleh Daniel. Jihan menatap wajah Daniel yang tertidur sembari terduduk di kursi.


"Mengapa pria ini membuat jantungku terus berdebar." guman Jihan yang terus menatap wajah Daniel. "Jangan bilang kalau aku jatuh cinta pada pria ini." guman Jihan kembali dengan nada yang benar-benar tidak percaya kalau dirinya akan jatuh cinta kepada Daniel.


"Tidak, tidak mungkin aku jatuh hati pada pria ini." sangkal Jihan. wanita itu mencoba membohongi hatinya, namun ketika menatap wajah Daniel kembali senyum indah itu kembali terukir.


"Memangnya aku salah kalau aku jatuh cinta kepada suamiku sendiri." ucap Jihan. sesaat kemudian terlihat pergerakan dari tubuh Daniel yang membuat Jihan kembali berpura-pura pingsan. wanita itu menutup matanya dengan debaran jantung yang begitu kencang.


Daniel menatap wajah istrinya yang begitu pucat, matanya belum terbuka hingga membuat Daniel menghela napasnya. "Kenapa kau belum bangun juga. Apakah kau tidak capek terus-menerus memejamkan mata." ucap Daniel yang didengar oleh Jihan.


"Hua....,"Daniel menguap. pria itu nampak membuka jaketnya dan hendak keluar keluar sebentar. karena jari-jemari Jihan nampak bergerak, Hal itu membuat Daniel langsung kembali ke tempatnya sembari menatap wajah Jihan. kedua tangan Daniel memegang pipi Jihan.


"Apakah kau sudah bangun?!" seru Daniel.


Jihan mulai membuka matanya sedikit demi sedikit, ternyata Gadis itu pandai juga berakting. dengan segera Daniel memanggil salah satu perawat dan memberitahukan kalau istrinya sudah terbangun.


"Bagaimana suster?" tanya Daniel.


"Istri anda baik-baik saja,Tuan. dia sudah bangun dari pingsannya." jawab perawat.


Daniel menghela nafasnya. "Terima kasih Tuhan." ucap Daniel.


"Kalau begitu saya keluar dulu, Tuan." ucap si perawat yang kemudian meninggalkan Daniel dan Jihan.


"Aku lapar." ucap Jihan yang baru terbangun.


"Apa yang ingin kau makan? apakah kau ingin sesuatu akan kubelikan!" seru Daniel.

__ADS_1


Entah mengapa Jihan nampak begitu senang dengan semua kemanjaannya kepada Daniel dan pria itu memberikan perhatian yang sangat lebih.


** bersambung **


__ADS_2