
Dari hari ke hari Daniel semakin ingin menjaga istrinya, apalagi dia juga sudah mendengar kalau ada seorang pria yang selalu mengejar istrinya semenjak dahulu. dia adalah rekan bisnis dari ayah Jefri.
"Ada apa Mas? Kenapa mukamu seperti itu?" tanya Jihan kepada sang suami.
"Tidak apa-apa, Mas cuma memikirkan sesuatu." jawab Daniel.
"Lalu Kenapa mukanya seperti itu? kok gak enak banget dilihat." canda Jihan yang membuat Daniel menarik tangan sang istri hingga wanita itu terjatuh di pangkuannya.
"Aku tidak akan membiarkan pria manapun merebutmu dariku." ucap Daniel.
"Memangnya ada apa, Mas?" tanya Jihan.
"Aku terus memikirkan Pria tua yang selalu mengejarmu semenjak dahulu itu." jawab Daniel.
"Memangnya kenapa kau harus memikirkannya?" tanya Jihan yang seolah tidak tahu apa yang di apa yang ada dipikiran suaminya.
"Tentu saja aku takut kehilanganmu sayang, apalagi pria itu sangat kaya." jawab Daniel.
"Mengapa aku harus memikirkannya? kau kaya atau tidak. kau itu adalah suamiku, masa depanku." jawab Jihan.
Daniel tersenyum sesaat kemudian pria itu memeluk sang istri dengan begitu erat.
"Aku senang sekarang istriku pandai sekali merayu, Bahkan dia juga pandai menggombal." ucap Daniel yang membuat Jihan menaruh keningnya di kening sang suami.
"Aku juga sama sepertimu, Mas. aku takut kehilanganmu, kau selalu bilang kan kalau kita harus saling percaya dan kita harus saling menjaga satu sama lain." ucap Jihan.
"Terkadang seseorang bisa mengatakannya, belum tentu bisa melakukannya, Sayang. aku bisa berkata seperti itu padamu, namun ketakutan yang ada di hati Mas ini benar-benar begitu besar." ucap Daniel.
Jihan menatap suaminya dengan begitu intens, suasana yang begitu romantis itu tiba-tiba terganggu karena kedatangan mbok Sri yang membawa sebuah koran yang terpampang foto Jihan di dalamnya.
"Ada apa Mbok?" tanya Jihan.
"Kelihatannya ada sesuatu yang akan terjadi. ucap Mbok Sri.
"Memangnya ada apa?" tanya Jihan yang sedikit kebingungan.
"Lihat ini." jawab Mbok Sri yang kemudian memberikan sebuah koran kepada juga dan Daniel.
"Koran apa?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Ini fotonya, Daniel. baca saja sendiri jadi kau tahu apa isinya." jawab Mbok Sri.
Akhirnya Daniel melihat koran itu dan membaca Apa isi dari koran yang sekarang sudah berada di tangannya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Jihan.
Daniel nampak menatap koran tersebut, tatapan matanya menatap koran itu dengan begitu nyalang.
"Ada apa Sayang?" tanya Jihan kembali.
"Lihatlah, kelihatannya pria itu benar-benar ingin mengambil mu dari ku." ucap Daniel.
Jihan melihat koran tersebut, disana Sudah terpampang fotonya yang sedang mengenakan gaun pengantin dengan seseorang.
"Ini foto siapa?" tanya Jihan yang sangat kebingungan. "Ada apa? ini kenapa apa?"tanya Jihan kembali.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Sayang.itu kan fotomu." jawab Daniel.
"Tentu saja aku tahu itu wajahku, Lalu kapan aku aku berfoto seperti ini." ucap Jihan yang kemudian membolak-balikkan koran itu.
"Karena itu aku bilang Itu foto kapan? Lalu kenapa ada foto seperti itu?" tanya Daniel.
"Oya, Sayang. Kenapa di foto itu aku mempunyai tato di leher?" tanya Jihan kepada sang suami.
"Di mana?" tanya Daniel.
"Itu." jawab Jihan.
Sorot matanya langsung menatap orang tersebut, tatapan matanya menatap begitu intens.
"Benar, kenapa ada tato di leher wanita itu?" tanya Daniel.
"Kalau aku tahu aku tidak akan bertanya. semenjak Kapan aku suka tato, karena kau tahu sendiri kan aku tidak pernah menyukai tato, membuat tato itu sangat menyakitkan." jawab Jihan yang kemudian duduk di samping suaminya.
Mbok Sri yang berada tidak jauh di tempat itu, wanita itu menatap Jihan dan Daniel.
"Apa mungkin pria itu yang dulu sering ke tempat Pak Jefri dan mencoba untuk meminang mu?" tanya Mbok Sri.
"Apa Mbok tahu?" tanya Jihan.
__ADS_1
"Tentu saja tahu, seorang pria berumur 45 tahun atau 40 tahun itu mempunyai pemikiran yang sangat memalukan. Bahkan aku saja yang lebih tua darinya sangat jijik mendengar kata-katanya." jawab Mbok Sri.
"Biarkan saja Mbok, karena aku tidak pernah melakukan hal itu. lagi pula Ngapain juga aku harus menikah dengan pria seperti itu." ucap Jihan yang kemudian meminta Mbok Sri untuk pergi membantunya membeli beberapa bahan makanan. "Pasti Desa ini benar-benar sangat terguncang saat melihat foto itu, Mbok." ucap Jihan.
"Tidak usah dihiraukan, karena itu foto palsu kan." jawab Mbok Sri.
"Aku juga tidak mau menghiraukan foto-foto itu, Ngapain juga aku mempermasalahkan foto itu. karena suamiku lebih percaya padaku daripada semua berita yang ada di koran." ucap Jihan sambil tersenyum.
"Tentu saja Daniel tidak akan percaya, dari kecil kau itu selalu membuntutinya seperti ekor kuda. bahkan Kau sering sekali di mandikan olehnya." ucap Mbok Sri yang membuat Jihan langsung menghentikan langkah kakinya.
"Apa?! coba mbok Sri katakan lagi!" seru Jihan.
"Apanya?" tanya Mbok Sri.
"Itu tadi yang Mbok katakan, mbok bilang kalau aku sering dimandikan sama Mas Daniel." jawab Jihan.
"Apa kamu sudah lupa, kalau semasa kecil itu kamu sering sekali dimandikan oleh Daniel." jawab Mbok Sri.
"Ih mbok sri ini benar-benar mengganggu pagiku saja, Masa Mbak Sri mengatakan hal itu. memangnya Benar?" tanya Jihan.
"Tentu saja benar kamu, waktu masih kecil aku itu sudah tua, bahkan usia Daniel waktu itu sekitar 10 tahun. kau masih bayi sekarang Coba kau hitung usia kehamilan berapa." Jawab Mbok Sri yang kemudian berjalan meninggalkan Jihan.
Nampak dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Mbok Sri, pagi buta sudah di hebohkan dengan dua kabar. Siapa yang tidak akan terhenti langkahnya ketika mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh wanita yang selalu menjaganya itu.
"Heh..., apa-apaan nenek tua itu." gerutu Jihan.
Akhirnya pagi itu Jihan dan Mbok Sri pergi ke pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah Ayah Jefri, beberapa ibu-ibu nampak menatap Jihan yang berada di pasar.
"Bukankah itu Mbak Jihan, Putri dari pak Jefri." ucap salah satu ibu-ibu.
"Iya, tapi kan fotonya sudah terpampang di koran." jawab ibu-ibu yang satu.
"Apa benar berita yang ada di koran itu." ucap Ibu A.
"Enggak tahu juga sih, jangan keras-keras kalau nanti dia dengar bisa-bisa anak-anak kita yang bekerja di pabrik perhiasan nanti malah dipecat." jawab ibu B.
Jihan dan Mbok Sri mendengar perkataan dua ibu-ibu itu nampak mereka berdua hanya menggelengkan kepala.
**Bersambung **
__ADS_1