IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU

IJINKAN AKU BAHAGIA BERSAMAMU
Pengakuan


__ADS_3

"Dia adalah isteriku, wanita yang telah aku nikahi beberapa bulan yang lalu." jawab Daniel.


"Tapi, kami tidak pernah mengetahui hal itu!" seru seorang wanita.


"Memangnya kenapa?" tanya Jihan.


"Kami tidak percaya kalau kalian telah menikah, jika benar.., kenapa harus di tutupi?" tanya pak lurah.


"Haruskah kami mengatakan, atau haruskah kami merundingkan masalah ini?" tanya Daniel.


Memang Daniel adalah orang yang jarang berbicara, namun sepatah dua kata dari Daniel benar-benar begitu menusuk orang-orang itu. setelah mengatakan hal itu akhirnya Daniel segera membawa Jihan pergi dari sana. di pesta itu orang-orang yang ada di desa nampak saling membicarakan, ada yang percaya dan ada yang tidak. kebanyakan dari para gadis desa yang ada di sana tidak mau percaya kalau Daniel sekarang adalah suami dari Jihan.


"Mereka itu benar-benar wanita yang sangat menyebalkan, sudah diberitahu Kalau pria ini adalah suamiku masih ngeyel juga." ucap Jihan.


Sekitar satu jam kemudian Daniel mengajak Jihan ke sebuah taman yang ada di desa, pria itu berulangkali menghembuskan nafasnya. entah terasa berat atau ada sesuatu yang benar-benar mengusik hati Daniel.


"Apa yang sedang kau bingung kan?" tanya Jihan kepada Daniel.


"Apakah kau tidak akan malu mengaku ku sebagai seorang suami, sedangkan aku adalah anak buahmu?" tanya Daniel kepada Jihan.

__ADS_1


"Mengapa juga aku harus malu, Seharusnya aku sangat bersyukur karena Tuhan mempertemukanku denganmu. dengan semua kekuranganku ini kau mau menerimaku dengan begitu tulus." ucap Jihan.


Benar apa yang dikatakan oleh Jihan, Daniel adalah seorang pria yang benar-benar begitu tulus mencintai Wanita itu.


"Apakah kamu tidak akan menyesal mengakuiku sebagai seorang suami?" tanya Daniel kembali.


"Tidak, kita mulai kehidupan ini berdua dengan keadaan sederhana tanpa kekayaan yang berlimpah hidup di desa ini." ucap Jihan yang kemudian memegang tangan Daniel.


Hanya satu kata yang benar-benar Daniel rasakan, pria itu sangat bahagia ketika Jihan mau hidup dengannya dengan kondisi seadanya,


"Aku akan belajar menjadi seorang istri, tidak akan menuntut dan aku harus belajar menjadi istri yang pengertian." ucap Jihan.


Apakah kau tidak percaya kalau aku ingin berusaha menjadi seorang istri yang baik bagimu tanya Jihan Tentu saja aku percaya namun aku sangat takut jika tiba-tiba kau tidak kuasa hidup di sini dan meninggalkanku lalu apa yang terjadi dengan ku ketika cinta ini sudah kau sambut lalu kau buang secara tiba-tiba ucap Daniel langkah kaki mendekati Daniel seorang pria yang terduduk di potongan kayak kayu itu nampak menatap langit-langit kedua tangan Jihan merangkul pundak sang suami sembari menempelkan pipinya kepalanya di leher sang suami jika aku bisa mengulur waktu aku ingin kembali ke masa lalu mengenalmu lebih dekat mencintaimu lebih dekat memahami ilmu lebih dekat dan membuka pintu hati ini dengan begitu lebar hingga kau bisa menjadikan aku seorang wanita yang sangat sempurna ucap Jihan.


DEG..


Daniel bagaikan tersiram air yang begitu dingin, hatinya begitu ringan serasa melayang di angkasa. "Apakah kau yakin?" tanya Daniel.


"Tentu, aku yakin karena itu ajari aku cara mencintaimu, menerimamu, merawatmu dan menjadi seorang wanita bagimu. menjadi seorang istri bagimu, menjadi seorang wanita yang kau cintai dengan tulus." ucap Jihan.

__ADS_1


Tidak pernah sekalipun Jihan melontarkan kata-kata seperti itu kepada satu pria pun, namun sekarang yang terjadi malah semua isi hatinya dia tumpahkan kepada Daniel.


"Aku ingin belajar mencintaimu, tapi Aku tidak ingin belajar menerimamu, karena aku sudah menerimamu setelah kau sah menjadi istriku. ajari Aku mencintaimu, menjadi seorang suami yang benar-benar kau inginkan, menjadi seorang pemimpin rumah tangga yang mampu menuntun mu." jawab Daniel yang kemudian memutar tubuhnya dan memeluk tubuh Jihan.


"Kalau begitu kita Dil beneran jadi suami-istri dong." ucap Jihan yang membuat Daniel sangat terkejut,


"Maksudnya?" tanya Daniel yang sedikit kebingungan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Jihan. suasana romantis seketika menjadi tanda tanya saat Jihan mempertanyakan kalau mereka sekarang menjadi suami istri beneran.


"Berarti kau tidak boleh melirik wanita lain, tidak boleh macam-macam dan tidak boleh mendekati muka tembok itu." ucap Jihan.


"Muka tembok? memangnya siapa muka tembok?" tanya Daniel yang kebingungan.


"Tentu saja Nisa, siapa lagi. Itu gadis muka tembok tebel banget...., udah dikatain kalau kau itu suamiku, masih ngotot tiap hari ngejar-ngejar kamu." ucap Jihan sambil menunjuk dada Daniel.


"Tadi bilangnya mau jadi istri yang baik, kok malah seperti itu lagi." ucap Daniel sambil menatap wajah Jihan.


"Oh iya, lupa." jawab Jihan sambil tersenyum dengan wajah yang sedikit merah.


** bersambung **

__ADS_1


__ADS_2