
Malam itu sengaja Ayah Jefri mengajak Daniel dan Jihan jalan-jalan di sekitar Desa itu. walaupun Desa itu bukan desa yang sangat besar, namun Desa itu adalah desa yang akan menjadi tempat Jihan membesarkan semua keinginannya.
"Oya Sayang, apakah Kau suka tinggal di sini?" tanya ayah Jefri kepada putrinya.
"Mengapa Ayah menanyakan hal itu?" tanya Jihan.
"Kalau kau tidak suka ayah akan membawamu Kembali ke kota." jawab ayah Jefri.
"Ngapain juga aku ke kota, Memangnya ayah mau memisahkan Aku sama suamiku?" tanya Jihan.
"Memangnya kenapa?" tanya ayah Jefri balik.
"Aku senang berada di sini, Ayah. mungkin awalnya aku tidak senang tapi sekarang karena ada pria ini disisiku jadi aku senang. Apalagi aku harus menjaganya." jawab Jihan.
"Menjaganya dari apa? tanya ayah Jefri. padahal dia sudah tahu mengenai keadaan Jihan dari Mbok Sri.
"Ya tentu saja menjaga suamiku dari para wanita genit yang selalu ingin mendekatinya." jawab Jihan.
"Benarkah?" tanya ayah Jefri.
"Tentu saja, Ayah." jawab Jihan.
Terlihat Jihan langsung menggandeng tangan suaminya dengan begitu erat.
"Lihatlah, Setelah Kau menemukan dia.., kau tidak butuh lagi dengan ayah." sindir Ayah Jefri yang membuat Jihan menatap ayahnya.
"Tidak seperti itu juga, ayah. ayah itu Ayahku, tidak mungkin aku melupakan Ayah." jawab Jihan.
"Oh ya, apakah kau sudah tahu di mana keberadaan pria tua itu?" tanya ayah Jefri kepada Daniel.
"Kelihatannya pria tua itu tidak jauh dari sini, Ayah. karena dia selalu memantau keberadaan kami berdua." jawab Daniel.
"Segera kau temukan dia, karena aku benar-benar kesal dengan semua kelakuannya?" seru Ayah Jefri yang terlihat begitu marah. karena pria itu membuat putrinya seperti seorang wanita murahan yang menjual tubuhnya.
Di kota nama Jihan benar-benar sangat terkenal karena mereka mengira kalau Jihan adalah wanita murahan yang selalu bergonta-ganti pasangan.
"Kenapa Ayah harus marah seperti itu? biarin saja atau pria itu, pria yang tidak punya pekerjaan." ucap Jihan.
"Bagaimana mungkin aku bisa membiarkannya, Jihan. pria ya itu sudah membuatmu terkenal di kota." jawab ayah Jefri.
__ADS_1
"Memangnya terkenal kenapa?" tanya Jihan.
"Tentu saja mereka mengira kalau kamu itu menjual tubuhmu kepada pria kaya." jawab ayah Jefri.
Saat mendengar hal itu muka Jihan langsung merah padam, Wanita itu sangat marah karena begitu banyak orang mengira kalau dia mau menjual dirinya hanya untuk kekayaan.
"Dasar pria kurang ajar, lihat aja kalau aku sudah bertemu dengannya.., bakal Aku bunuh dia!" teriak Jihan. wanita itu benar-benar tidak terima, tidak terima karena dirinya dipermalukan seperti itu.
"Aku bakal meminta ibu-ibu dan para penduduk desa ini untuk mencari keberadaan pria itu." ucap Jihan.
"Maksudnya?" tanya ayah Jefri.
"Tentu saja karena aku mau membuka pabrik baru, mereka pasti akan melakukan segala hal untuk bisa membantuku dan mencari muka pada aku." jawab Jihan.
Daniel bisa membaca kemana arah pikiran istrinya, namun itu lebih baik daripada Daniel harus menggunakan kekerasan untuk melenyapkan pria itu.
"Bagaimana caranya?" tanya ayah Jefri yang terlihat kepo.
"Lihat saja, Ayah. aku akan membuat sketsa wajah pria itu dari fotonya, Aku akan membuat beberapa sketsa wajah dan kubagikan kepada para warga untuk pendatang baru yang harus mereka curigai." jawab Jihan.
Ayah Jefri terlihat menganggukkan kepalanya, pria itu tersenyum saat mendengar putrinya sekarang semakin bertindak dewasa dan lebih memikirkan rumah tangganya daripada kebahagiaannya sendiri. Hari itu Ayah Jefri, Jihan dan Daniel berjalan-jalan. di sana terlihat Ayah Jefri ingin bernostalgia di desanya, tempat kelahirannya.
"Kau tahu Daniel, di sinilah tempatku, disinilah aku hidup, disinilah aku mendapatkan cinta dan disinilah aku mempunyai kebahagiaan dan kehilangan kebahagiaanku." jawab ayah Jefri yang kemudian menepuk punggung menantunya.
Daniel menganggukkan kepalanya, pria itu tahu kalau mertuanya sedang merindukan sang istri.
"Bagaimana kalau besok Daniel antar Ayah ke makam Ibu." ucap Daniel.
"Terima kasih Daniel, Terima kasih karena kau selalu menjagaku dan putriku." ucap Ayah Jefri.
"Terima kasih Ayah, karena memberikan Aku seorang istri yang benar-benar membuatku pusing, membuatku bahagia dan membuatku terkadang emosi tidak bisa aku tahan." jawab Daniel sambil tersenyum simpul dan menatap sang istri yang sekarang mencari makanan yang ada di sekitar tempat itu.
"Memangnya ayah akan di sini Berapa lama?" tanya Daniel.
"Ayah bosan berada di kota, apalagi tidak ada kamu sama Jihan." jawab ayah Jefri.
"Apa tidak sebaiknya Ayah tinggal di sini saja sama kami." jawab Daniel.
"Entahlah, Ayah juga masih punya tanggung jawab pada perusahaan yang ada di kota." jawab ayah Jefri.
__ADS_1
"Apakah Ayah tidak ingin melihat perkembangan perusahaan Putri ayah? Jika dia sudah membuka pabrik itu?" tanya Daniel kembali.
"Aku tahu kalau kau akan menuntun putriku dan membuatnya semakin hebat, jadi ayah tidak akan perlu khawatir Jika dia kekurangan sesuatu disini." jawab ayah Jefri yang membuat Daniel menganggukkan kepalanya.
Sesaat kemudian terlihat Jihan sudah membawa makanan dan minuman,
Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Jihan.
"Sedang membicarakan pabrik yang akan kau buka." jawab Daniel.
"Bagaimana kalau besok aku ajak ayah ke pabrik itu?" tanya Jihan.
"Besok tidak bisa, karena Ayah mau ke makam ibumu dulu." jawab Ayah Jefri.
Keesokan hari
Pagi ini Daniel dan ayah Jefri pergi ke makam.
sedangkan Jihan terlihat ke gudang bekas pabrik teh, beberapa warga sudah berbondong-bondong untuk membantu Jihan membersihkan pabrik itu. siang itu Jihan meminta Daniel bersama para pekerja yang ada di rumahnya untuk mengambil beberapa tumpeng untuk diberikan kepada warga sebagai tanda syukur.
"Sudah ibu-ibu, bapak-bapak, berhenti dulu kita makan dulu!" seru Jihan.
"Nggak usah Mbak, kita selesaikan aja dulu." jawab para warga.
Sesaat kemudian terlihat Daniel dan para pekerja yang ada di rumah membawa begitu banyak makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh Jihan.
"Buat apa ini mbak?!" seru Ibu-ibu.
"Tentu saja kita akan tasyakuran Bu, mendoakan pabrik ini walaupun pabrik ini belum buka." jawab Jihan Sambil tertawa terbahak-bahak.
Para warga yang notabenenya adalah penduduk desa, mereka jarang sekali mendapatkan makanan yang seperti di kota.
"Ayo bu, kita berdoa biar pak ustad mendoakan pabrik ini dan membuat pabrik ini semakin maju." jawab Jihan.
Suara canda tawa terdengar begitu keras di dalam gudang yang akan menjadi pabrik pakaian itu.
"Mari kita doakan, biar pabrik ini menjadi pabrik yang besar dan akan menjadi pabrik yang kedua tempat kita mencari nafkah!!" seru para warga. Hal itu membuat Jihan bahagia karena para warga begitu menghargainya.
** bersambung **
__ADS_1