
Indi
jelas tak ingin segera mempercayai apa yang baru saja dikatakan Noella, karena
pertama; Jiwanya masih baik-baik saja, kedua; ia sudah sering menjadi korban
kebohongan dari Noella. Indi percaya kalau saat ini Noela sedang berusaha
sebaik mungkin agar dapat memperdayainya.
“Kau tak dapat membohongiku lagi,
tidak kali ini. Aku telah berhasil menahanmu di sini, dan semua rencanamu kini
telah berakhir,” kata Indi percaya diri, sambil mencoba meyakinkan dirinya
bahwa apa yang dipercayainya adalah benar.
“Aku menyukaimu Indi,” ucap Noella
pelan dengan tersenyum, “Meski tak akan merubah pendapatku tentang kebodohanmu,
namun kau adalah sosok yang berani, kau bahkan rela mengorbankan dirimu sendiri
demi mereka yang baru saja kau kenal. Demi sekolah yang sama sekali belum kau
ketahui seluk beluknya, bahkan aku menebak yang kuyakini benar, kau bahkan sama
sekali belum mengetahui apa rencanaku yang sebenarnya, dan apa yang membuatku sampai
kepada rencana itu,” sambung Noella.
Tenanglah Indi, ia hanya berusaha
memperdayaimu kau sudah melakukan hal yang baik, batin
Indi.
“Tanpa memberitahukannya padaku, aku
juga sudah tahu tentang rencanamu. Kau
ingin memusnahkan anak dalam ramalan yang menurutmu dapat menghancurkan
__ADS_1
rencanamu untuk menguasai dunia,” jelas Indi.
Noella
jelas tak ingin merubah suasana yang saat ini sedang diciptakannya, tapi
perkataan Indi barusan jelas tak dapat membuatnya menahan gelak tawa. Tawanya
pecah, bahkan terdengar bergema di ruangan batin itu.
“Kau benar-benar bisa dengan cepat
mengubah suasana hatiku. Oh sayang, kau pikir untuk apa aku harus membunuh anak
dalam ramalan hanya untuk menguasai dunia. Tidak sesimple itu sayang. Kau
bahkan belum melihat semua yang pernah kulihat, masa depan tak hanya
semenakutkan itu Indi, ia lebih buruk lagi. Karena itu ibumu selalu mengurungmu
dalam lingkaran itu,”
Lagi-lagi
akal sehatnya. Ia sudah cukup malu untuk kembali bertanya, bahkan saat tidak
berada di dunia nyata.
Noella
menangkap kebingungan di mata Indi. Ia lalu memutar kedua bola matanya. Ia
jelas dapat mengatakan kalau ia tidak bisa menjelaskan sesuatu pada Indi hanya
dengan kata-katanya.
“Meski ini akan memakan waktu yang
lebih lama, namun sepertinya akan sepadan dengan apa yang akan kudapatkan. Dan
juga, dengan hal ini aku tak lagi harus melihat kebodohanmu yang terjadi
berulang-ulang. Semoga kau bisa belajar, dan mengerti mengapa rencanaku tak
__ADS_1
sesimpel menguasai dunia. Selamat menonton dan bertahan,” ucap Noella yang lalu
terberai jatuh ke tanah, sama seperti pasir.
Bagus, sekarang genre film apa lagi
yang harus kutonton? Gerutu Indi. Tentu saja Indi berharap
agar apa yang ia akan lihat berikutnya, masuk dalam kategori anime, animasi,
ataupun romance. Meski ia agak merasa geli dengan genre romance yang mungkin
akan diperankan oleh Noella. Namun setidaknya tidak akan ada adegan sadis di
sana bukan? Sekeliling Indi lalu perlahan berubah. Sekitarnya seakan tengah
mengecat cikal bakal adegan-adegan yang akan ditonton Indi. Latar itu lalu
mulai Nampak jelas.
Dari
tempatnya berdiri, Indi mulai merasakan sesuatu yang bercahaya dan berkilauan.
Panas. Detik berikutnya Indi dapat melihat jelas apa yang ia rasakan
sebelumnya. Di depan matanya, Indi melihat tiga buah tiang kayu balok bundar
yang kurang lebih berdiameter sama seperti pohon yang ada di halaman rumahnya. Di
depan masing-masing tiang, terikat sosok manusia, yang beridiri tepat di atas
tumpukan kayu yang terbakar, dengan dikelilingi ratusan manusia. Pandangan yang
dilihat Indi berikutnya lebih mengerikan
dari film horror manapun yang pernah ditonton Indi. Lidah-lidah api mulai
menjalari, dan dengan cepat membakar manusia yang ada di ketiga tiang itu.
Meski tak terdengar satu suara pun, namun Indi dengan jelas dapat merasakan apa
yang tengah dilihatnya.
__ADS_1
“Hentikan!” teriak Indi.