Indi Go!

Indi Go!
Episode 40


__ADS_3

Jeannet menyenggol Indi, “bukankah kau tadi hendak menceritakan sesuatu.” Bisiknya.


Indi menggeleng, “Tidak jadi. Bukan waktu yang tepat.”


Mereka lalu duduk di bawah pohon itu. Liona membakar beberapa ranting kayu. Mereka duduk melingkari api itu. Indi memakan buah-buahan yang dibawa Liona. Pikirannya benar-benar mengganggunya sekarang. Keheningan terjadi diantara mereka. Indi lalu menatap Fanny.


“Setelah kita sampai di negaraku? Kemana tempat perhentian kita?” tanya Indi memecah keheningan.



“Kita akan ke tempat dimana kau berpisah dengan ibumu hari itu,” kata Fanny.



“Kenapa tidak langsung ke rumahku saja?”



“Hal itu tampaknya terlalu beresiko Indi. Bisa jadi UCI atau The Sanctus sudah menunggu kita disana,” jelas Fanny.

__ADS_1



“Lalu bagimana kita bisa menemukan ibuku di tempat itu? Tempat itu adalah jalan raya,”



“Setiap tempat tetap menyimpan suatu kejadian dan kisah Indi. Dimana pun kau berada. Beberapa dari mereka yang memiliki kemampuan tempus memiliki bakat untuk melihat kejadian di masa lalu yang berkaitan dengan suatu tempat. Kita akan menggunakan kemampuan itu untuk mencari informasi di tempat itu.”



“Aku tidak ingin kau merasa gagal dengan rencanamu tetapi diantara kita tidak ada yang memiliki kemampuan tempus seperti perkataanmu barusan. Kalian mungkin akan berpikir, oh kita memiliki Indi, dia seorang Indigo yang berbakat dan menguasai seluruh kemampuan Indigo, tapi aku tidak tahu caranya membaca masa lalu di suatu tempat! Kalaupun aku memiliki kemampuan yang berkaitan dengan masa lalu, aku lebih memilih kemampuan untuk melupakannya!” kata Indi meledak\-ledak.




“Untuk sekarang kita harus fokus kepada rencana kita. Kita harus meminimalisir segala resiko yang mungkin akan terjadi. Sebisa mungkin kita menghindari pertempuran. Malam ini kita akan beristirahat disini. Kami mendapat informasi dari para peri angina dalam perjalanan kemari. Di jalur timur, ada portal dimensi yang terhubung langsung dengan dimensi negaramu. Dan hanya perlu memakan waktu dua belas jam menuju kesana melalui udara.”


Indi penasaran apakah Fanny juga terlibat dengan Liona. Atau mungkin ia sama seperti Indi, belum mengetahui apa-apa tentang Liona. Ia mungkin hanya terjebak dalam rencana yang dibuat oleh Liona. Begitu juga dengan Catherine. Pikiran Indi begitu kalut. Sesuatu dalam dirinya percaya bahwa ia tidak mimpi, Lisa benar-benar berbicara dengannya.

__ADS_1


“Ehm, mungkin aku agak keluar dari konteks pembahasan, tapi bisakah aku minta penjelasan lebih spesifik tentang The Sanctus? Kenapa mereka mengejarku? Apa sebenarnya tujuan mereka? Apakah mereka jahat atau baik? Apa kaitan mereka dengan UCI\-“



“Sampai sekarang kita belum tahu hal yang pasti tentang itu! Karena itu kita harus bertemu dengan ibumu. Ia pasti tau sesuatu tentang semua pertanyaanmu, karena itu cobalah untuk tenang dan berpikir jernih!” bentak Fanny menginterupsi segala lontaran pertanyaan Indi.


Jeannet menatap Fanny gugup. Hantu itu tampaknya benar-benar takut dengan Fanny. Dari balik api Liona tampak diam. Ia menggigit bibir bawahnya tampak ingin berkata sesuatu.


“The Sanctus adalah suatu kelompok yang dibentuk oleh dua orang indigo. Tujuannya sendiri masih belum diketahui. Namun berdasarkan rumor yang beredar mereka saat ini sedang gencar\-gencarnya melakukan pencarian pada beberapa indigo.” Kata Liona, yang membuat semua mata di tempat itu tertuju padanya.



“Bagaimana kau bisa tahu semua hal itu?” tanya Indi.


Liona menghela nafas, “Karena aku adalah salah satu anak yang diincar mereka,”


“Liona, kau tak harus\-“


__ADS_1


“Tak apa Fanny. Aku harus menceritakannya. Dan aku tak menyalahkanmu karena menaruh rasa curiga kepadaku Indi. Aku adalah salah seorang anak indigo yang mungkin tidak terlahir dengan kemujuran sama seperti kalian. Bahkan kalau aku bisa meminta, aku meminta untuk tidak dilahirkan. Empat belas tahun yang lalu aku terlahir di sebuah desa kecil. Aku tak memiliki ayah. Sampai sekarang aku bahkan tak mengetahui siapa ayahku. Aku dibesarkan ibuku seorang diri, di rumah kami yang kecil,” mata Liona mulai berkaca\-kaca.


__ADS_2