Indi Go!

Indi Go!
Chapter 5: Episode 22


__ADS_3

CHAPTER 5


Hantu Pawang Api?


Indi berada di suatu ruangan. Ruangan itu gelap. Di dinding\-dindingnya tertempel potongan\-potongan surat kabar. Salah satu surat kabar ditulis dua puluh tahun lalu.


Kematian keluarga paranormal, judul Koran itu. Indi lalu melihat seorang pria yang mengenakan setelan hitam, dan wanita paruh baya yang wajahnya samar.


“Kau kehilangan kartu as kita,” kata pria itu.



“Aku salah dalam menentukan langkah,” wanita itu angkat bicara.



“Kita akan kesulitan untuk mencarinya kembali.”



“Tenang saja, ia akan kembali.” Balas wanita itu.


Bayangan itu lalu mengabur. Kali ini Indi berada di sebuah penjara tebaknya. Ruangan itu gelap dan panas. Di ruangan itu ia melihat seorang perempuan yang dirantai. Ia tampak tak berdaya. Seseorang lalu mendekatinya. Orang itu mengangkat kepala perempuan itu.


“Kau telah melakukan kesalahan!” kata orang itu.


Perempuan itu tertawa, “Setidaknya aku berhasil! Kalian tak akan bisa memanfaatkannya!”


Indi lalu terbangun. Ia berada di tempat tidur di suatu ruangan. Tubuhnya memberi tahu bahwa hari sudah pagi, meskipun ruangan itu begitu gelap. Indi mencoba untuk duduk. Ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Ia tak dapat mengingat mengapa ia bisa ada di ruangan itu.


Ruangan itu begitu sempit. Dinding dan lantainya dibangun menggunakan papan yang sudah terlihat lapuk. Bau lembap menyeruak ke ruangan.


“Dasar putri tidur!” celetuk hantu cilik pirang, Jeannet.


Indi menatap gadis cilik itu lamat-lamat. Ia mengenalnya, tapi entah mengapa, kepingan-kepingan memori mengenai anak yang ada didepannya lambat untuk tersusun.


“Ayo bangun pemalas! Kita tak bisa berlama\-lama disini,” oceh Jeannet, yang sepertinya sudah terlalu lama menunggu Indi terbangun.

__ADS_1



“Jeannet?”


Hantu itu memutar kedua bola matanya, “Bukan aku Isabella. Tentu saja aku Jeannet! Kenapa tingkahmu sama seperti adegan drama! Ayo bergegas kita sudah terlalu lama berada disini, mereka pasti akan mengejar kita.” Kata Jeannet yang membuat Indi semakin bingung.


Pintu ruang itu lalu terbuka, disertai bunyi derit. Seorang anak perempuan berambut hitam bergelombang. Wajahnya penuh luka, begitupula tangannya. Anak perempuan itu mengenakan hoodie hitam yang sudah usang, akibat kecelakaan tebak Indi.


“Oh kau sudah bangun. Tenang saja, kau tak perlu memikirkan mereka. Aku sudah memantau, dan mereka sepertinya tidak mendapati jejak kita,” tutur anak itu.


Sekelebat ingatan lalu menampar Indi. Sekilas ia mengingat malam itu. Rico, Lisa, dan Catherine, “Apa yang terjadi?” Tanya Indi.


Gadis kecil itu menghela napas, “Apa yang  terakhir kau ingat?” tanyanya.


“Aku tak terlalu ingat, tapi kau disana, dan mereka mengincarmu,”



“Kau benar, dan kau juga salah. Sedari awal mereka tak pernah mengincarku,” anak itu menunduk, “tetapi mereka mengincarmu.”


Anak itu terlihat lebih dewasa daripada umurnya “Dengar, aku tahu ini mungkin akan terdengar aneh bagimu, tapi kau, kau lebih dari seorang Indigo pada umumnya. Kau Indigo yang langka,”


“Kau mungkin tidak menyadarinya, tapi kau memiliki lebih dari satu kemampuan seorang Indigo,” anak itu lalu duduk diatas kasur, tepat disamping Indi.



“Kau satu\-satunya, kau\-“



“Tunggu, apakah kau akan mengatakan kalau aku adalah seorang avatar? Karena semua penjelasanmu merujuk kesitu,” potong Indi.



“hmmm, mungkin, sejenisnya, ya mirip seperti itu,” kata anak itu terbata, karena pernyataan Indi yang membandingkannya dengan avatar si pengendali elemen.


__ADS_1


“Maksudmu aku adalah seorang elementum yang bisa mengendalikan kelima elemen?” kali ini nada Indi bersemangat.



“Tidak, tentu saja tidak. Kau bukan pengendali lima elemen. Bisakah kau sedikit tenang ketika aku menjelaskan sesuatu?” protesnya.


Indi mengangguk, “Kau mungkin sudah tahu tentang enam tipe kemampuan indigo dari UCI. Beberapa anak terlahir dengan satu kemampuan, dan yang lainnya terlahir lebih dari satu kemampuan. Tapi, belum pernah ada kasus indigo yang memiliki semua kemampuan itu. Dan kau mungkin adalah satu-satunya.”


Indi terdiam mendengar apa yang dikatakan anak yang namanya tak diketahui Indi.  Ia tak ingin mempercayai apa yang baru saja ia dengar, tapi satu per satu ingatannya pulih.


Ia mengingat saat ia dapat mendengar suara-suara yang selalu membuatnya tak tenang. Ia mengingat dimana ia dapat merasakan perasaan orang yang disentuhnya. Ia mengingat semua mimpi yang pernah ia impikan, satu per satu menjadi kenyataan. Ia mengingat saat di asrama, ia menghempas Fanny dan gadis-gadis hantunya.


“Apa karena itu, The Sanctus mengejarku? Apa karena itu aku harus kehilangan mam\-, tidak aku ingat. Aku bisa ingat dengan jelas. Seseorang memberitahuku bahwa mama masih hidup,” Matanya mulai berair.


Anak itu mengangguk, “Kau benar, karena itu The Sanctus mengejarmu, dan, dan ibumu masih hidup,”


Dada Indi serasa sesak. Jantunganya berdegub sangat cepat. Selama ini, semua orang di UCI membohonginya. Indi tak mengerti. Ia tak mengerti lagi. Di satu sisi ia senang karena ibunya masih hidup, tapi di sisi lain ia begitu marah dengan semua yang terjadi padanya. Titik bening lalu mulai berjatuhan dari matanya.


“Lalu kenapa? Kenapa mereka membohongiku? Kenapa mereka malah mengurungku di tempat itu!”


Anak itu menatap Indi iba. Dari pandangannya, ia paham betul dengan apa yang pernah dialami Indi.


“Aku mencoba untuk mengatakannya malam itu. Aku bahkan mengajakmu untuk pergi dari tempat itu. Tempat itu bukanlah tempat untuk mengamankan anak-anak Indigo, tidak Indi,”


Anak itu lalu beranjak dari atas tempat tidur. Ia memerhatikan sekeliling, “Tapi tempat itu adalah laboratorium dan markas militer pihak tertentu,”


Indi tampak bingung, Ia menatap anak itu dengan ekspresi tak paham.


“Awalnya UCI didirikan sebagai tempat aman bagi beberapa anak indigo yang tak diterima masyarakat, maupun anak\-anak indigo yang terlantar dan tak punya rumah di luar sana. Namun, sebuah kejadian menyebabkan tempat itu berubah menjadi seperti yang sekarang,”



“Kejadian?”


“Itu terjadi\-“


__ADS_1


“Gadis hantu akan menjadi hantu, peperangan antar darah ungu akan terjadi, dan seorang gadis akan menjadi penentu kemenangan. Namun hati yang beku, akan menjadi tembok penghalang”


Indi menatap Jeannet yang barusan mengatakan hal itu, dan mulai berteriak histeris.


__ADS_2