Indi Go!

Indi Go!
Episode 41


__ADS_3

“Karena lahir tanpa ayah, ibuku menjadi orang yang tidak diterima di desanya. Sehingga kami harus tinggal di pinggir hutan dekat desa. Ibuku mulai melakukan segala hal agar kami bisa terus melanjutkan hidup. Walaupun penuh derita, namun ibu selalu baik padaku. Semua mulai baik-baik saja kala itu. Masyarakat desa mulai menerima ibuku. Ia sering menjual hasil kebunnya di desa. Sampai ketika aku berusia tujuh tahun. Hari itu ibuku baru saja pulang dari desa. Ia baru saja menjual hasil panen kami yang melimpah. Kami merayakannya dengan makan kue, ayam panggang, dan meminum susu. Semuanya tampak baik-baik saja,” kengerian lalu mulai menggelapi wajah gadis mungil itu.


“Namun, saat malam tiba aku mendengar seseorang mencoba masuk ke rumah kami. Ada tiga orang. Aku membangunkan ibu karena suara itu. Ibu menyuruhku untuk diam, dan keluar dari kamar untuk memeriksanya. Beberapa menit kemudian aku mendengar jeritan ibu, diikuti gelak tawa suara pria. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku hanya menangis dan menutup kedua telingaku. Salah satu pria itu lalu mendapatiku di kamar dan hendak membawaku. Aku berteriak, lalu dari tubuhku kobaran api mulai menjalar. Hal itu membuat pria itu ketakutan,” Liona diam beberapa saat. Satu per satu titik bening mulai terjatuh dari matanya.


“Malam itu, aku bertanggung jawab atas kematian ibuku, dan tiga pria itu. Aku membakar rumah itu. Rumah kumuh yang menjadi bukti kehangatan kasih ibuku yang terjadi padaku. Aku lalu terdiam di depan rumah itu. Menyaksikannya terbakar hingga menjadi abu. Di hari itu juga aku dijemput seseorang yang sudah kalian kenal. Maddam Noella,”


Mendengar nama Maddam Noella membuat rasa penasaran Indi menjadi-jadi, “Apa maksudmu?” tanya Indi.

__ADS_1


“Maddam Noella mengajakku ke UCI. Katanya aku akan aman disana. Aku akan memiliki tempat tinggal, dan warga desa tidak akan mengejarku karena aku telah membunuh orang. Kau tau Indi, aku juga pernah menjadi salah satu siswa di UCI. Karena itu aku mengenal Catherine dan juga Fanny. Sejak saat itu kami berteman. Semuanya normal, sampai saat aku berusia delapan tahun, aku dipanggil Maddam Noella ke suatu ruangan. Saat itu aku tak tahu apa yang hendak dilakukannya. Ruangan itu besar, namun begitu gelap. Tak ada sumber penerangan. Maddam Noella menyuruhku agar tenang dan tidak panik. Katanya aku hanya perlu menutup mata,” tubuh Liona mulai gemetar, tampak jelas kalau ia benar-benar tidak ingin melanjutkan.


Fanny menatapnya iba. Ia lalu duduk di samping Liona dan merangkul gadis mungil itu. Gadis berperawakan Jepang itu lalu menatap Indi. Indi yakin kalau Fanny akan memarahinya.


“Kau ingat dengan apa yang kulakukan terhadap Vega saat di gua?” tanya Fanny.


“Maddam Noella adalah seorang spiritus sama sepertiku. Dia memiliki kemampuan yang mirip, hanya saja lebih kuat. Spirit Puppet. Ia dapat menarik roh seseorang dari tubuh mereka,”

__ADS_1


“Itu artinya tubuh yang rohnya ditarik akan mati?” tanya Indi menyela penjelasan Fanny.


Fanny menangguk suram, “Sebuah tubuh tanpa roh sama saja mati. Maddam Noella juga seorang cerebellum jadi sebelum ia menarik roh seseorang, ia akan menghapus semua ingatan orang itu, lalu menarik rohnya agar ia lebih mudah ia mengontrolnya.”


Indi mengingat ruangan itu. Ruangan Maddam Noella. Ia mengingat boneka yang selalu mengikutinya. “Jangan katakan kalau semua roh yang diambil dimasukkan ke tiap bonekanya? Katakan kalau pernyataanku salah.”


Mereka semua diam. Indi menatap Fanny nanar. Lantas mengapa masih banyak anak indigo di UCI? Mengapa Maddam Noella melakukan hal sekejam itu? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Indi berharap kalau ia memiliki kemampuan membaca pikiran saat ini.

__ADS_1


“Saat itu Maddam Noella gagal untuk menarik roh Liona. Dia membakar ruangan itu dan melarikan diri. Hari itu juga, aku, Catherine, Rico, dan Lisa membantunya keluar.” Kata Fanny.


__ADS_2