
Mata Jeannet melebar. Jelas jawaban itu bukanlah jawaban yang ia mau. "Apa kalian bertengkar karena menyukai pria yang sama, dan ternyata kau sadar bahwa kau terlalu jelek untuknya?" ucap Jeannet polos.
"Atau, ini karena kalian yang saling menyalahkan satu sama lain karena meninggalkanku gadis imut nan lucu ini sendirian diluar?" sambungnya.
Indi jelas ingin segera mendorong hantu cilik itu. "Bisakah kau diam?"
"Aku tak akan diam sampai kau menceritakan semuanya!" protes Jeannet.
Kira-kira sudah tiga jam Indi terbang, dan hantu cilik itu masih saja kekeuh meminta Indi untuk bercerita, tanpa adanya jeda maupun iklan. Andai ia tak sedang berada di atas langit, ia jelas sudah akan meniggalkan hantu ini sendirian.
Indi menarik nafas panjang. Ia lalu mulai menceritakan semuanya pada Jeannet, dengan bahasa yang terpaksa. Anehnya, setelah selesai bercerita, raut wajahnya tampak pucat, dan ia menjadi lebih diam.
Selama beberapa jam mereka terbang dalam keheningan. Dari ketinggian, Indi bisa melihat pegunungan, lautan, dan rumah-rumah yang tampak begitu indah.
Belum lagi pemandangan itu dilihatnya saat matahari mulai terbenam. Dalam keheningannya Indi kembali memikirkan Fanny dan Liona. Pikirannya mulai kembali menguras emosinya, hingga ia melupakan hal yang penting.
"Indi," kata Jeannet yang memecah keheningan Indi.
Indi melirik hantu cilik itu. Sepertinya masa galaunya sudah berakhir.
__ADS_1
"Ehm aku sudah memikirkannya dari tadi. Kemana sebenarnya tujuan kita setelah sampai di negaramu?" tanya Jeannet polos.
Oke. Indi benar-benar terbawa emosi dan melupakan hal yang paling penting. Pertama, ia tidak tahu bagaimana caranya mendaratkan naga ini. Kedua, apa yang akan orang-orang lihat? seorang gadis yang terbang mengendarai awan? Ketiga, ia tidak tahu navigasi menuju ke kota tujuannya. Ia bahkan sering gagal dalam ekskul pramuka di sekolahnya.
Indi lalu menatap Jeannet dengan tatapan bodohnya, lalu menggeleng.
"Apakah ini saat yang tepat untuk meminta tolong?" tanya Jeannet.
Indi masih memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini. Ia mencoba menarik tali kekang vega ke arah atas. Bukannya membuat makhluk itu terbang rendah, malah membuatnya terbang semakin cepat.
"Iiw\-win\-dii, kiwi\-tttaaa aawakaa ce\-wa\-ppa\-t mwa\-\*\*\-ii kwa\-llaa\-u swe\-pre\-ti iw\-ni!" ucap Jeannet dengan bibirnya yang ditampar angin.
Indi kemudian menarik kemudi ke belakang, dan makhluk itu berhenti melaju. Indi menghembuskan nafas lega. Satu masalah teratasi batinnya.
"Apalagi Jeannet?" keluh Indi lalu menoleh kebelakang, lalu terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"Hanya aku atau ada seekor ayam raksasa yang tengah terbang ke arah kita?"
"Itu sepertinya bukan ayam," kata Indi mengoreksi. "I\-itu burung garuda?"
Makhluk yang mereka lihat terbang dengan kecepatan tinggi mendekati mereka. Mahkluk itu begitu besar. Bahkan mungkin lebih besar daripada Vega. Mukanya tampak seperti gabungan elang dan ayam di pandangan Indi.
Kepalanya berwarna putih. Sayapnya merah keemasan sama seperti bulu ayam. Tubuhnya dilapisi bulu berwarna emas. Anehnya mahkluk itu memiliki badan dan tangan sama seperti manusia. Ia jelas seperti mahkluk hybrid.
"Hei Indi, apakah kau tahu bagaimana cara menembakkan api dari mahkluk ini?" tanya Jeannet panik.
"Bagaimana aku bisa tahu? Apa kau pikir mahkluk ini memiliki tombol ataupun tuas?" kata Indi.
"Oke paling tidak kita bisa lari kan? Cepat kendalikan mahkluk itu untuk lari!" keluh Jeannet.
__ADS_1
Indi hendak menarik tali kekang Vega ketika mahkluk itu sudah berada tepat di depan Vega. Setelah diperhatikan lagi. Makhluk di depan mereka memiliki jambul yang dari bulu-bulu emas, yang tampak disisr sama seperti rambut. Mata makhluk itu sama seperti elang. Paruhnya berwarna kuning pucat, terdapat beberapa luka gores di paruh itu.
"Siapa kalian? Dan apa tujuan kalian?" kata hybrid garuda itu dengan suara yang begitu menggema dan lantang.