
Pintu keluar dari toko itu kini terhalang oleh sebuah kulkas, yang membuat ketiga gadis itu terperangkap. Monster itu mendekat. Wajahnya tersenyum, dan dari mulutnya ludah yang lebih mirip dengan lendir hijau satu per satu menetes. Monster itu lalu tertawa.
“Grrr…Sepertinya keberuntungan kalian sudah pergi. Menyerahlah, setidaknya kalian dapat menjadi salah satu investor besar untuk bisnis souvenirku.” Kata monster itu.
Ketiga gadis itu kini terpojok. Monster itu melangkah mulai mendekat. Liona terlalu lelah untuk kembali mengeluarkan apinya. Sedang Fanny, gadis yang mudah akrab dengan hantu itu tampaknya, tak memiliki kemampuan yang berguna saat ini.
Semua tergantung pada Indi. Dan satu hal lagi, hanya Indi yang benar-benar bisa melihat monster yang ada di depannya.
“Indi! Kita tak memiliki banyak waktu! Lakukan sesuatu!” kata Fanny tampak panik.
Indi berkonsentrasi. Memikirkan semua pelajaran yang ia dapatkan di UCI. Namun tak ada yang terjadi. Indi kembali mencoba untuk berkonsentrasi.
“Arggh!” teriak Liona, yang kini sudah berada di genggaman monster itu.
“Mari kita mulai dengan kau, gadis api yang cukup merepotkan.” Kata monster itu.
Fanny yang melihat Liona melayang dan meronta-ronta tampak panik. Ia tahu bahwa, ia tak bisa membebankan semuanya pada Indi. Ia tak ingin mengulang kesalahannya waktu di bus.
“Hei! Monster jelek! Lepaskan Liona!” kata Fanny mendekatinya.
Tidak mudah memang untuk dilakukan. Ia berhadapan dengan makhluk yang tak dapat dilihatnya. Jika monster itu menyerang, sudah pasti ia akan kalah. Tapi ia memberanikan dirinya. Setidaknya ia dapat memberi Indi waktu untuk menyerang.
Melihat Fanny membuat monster itu tertawa. Fanny mungkin tak bisa melihat dan mendengarnya, tapi bau busuk dari tawanya, jelas menunjukkan kalau monster itu berwajah jelek.
“Kau mau melawanku? Kau bahkan tidak memiliki harga sama sekali,” kata monster itu terkekeh\-kekeh.
Fanny berlari, kearah sumber bau itu. Di tangannya, ia menggenggam belati yang selalu dibawanya. Ia mengayunkan belatinya tanpa arah, berharap dapat sesuai dengan letak monster itu. Dengan secepat kilat monster itu menyerang Fanny, dan membuatnya terhempas dan menabrak etalase pajangan.
“Sekarang tinggal, bounty utama. Setelah menangkapmu akan langsung ku kirim kau dengan paket kilat kepada penawar tertinggi.” Jelas monster itu dengan ekspresi wajahnya yang jelek.
Indi terdiam. Sekarang semuanya bergantung pada dirinya. Ia melihat kedua temannya yang saat ini sudah tak sadarkan diri. Ia marah kepada dirinya karena begitu lemah.
Sesuatu lalu bergejolak di dalam kepalanya. Monster itu hendak menangkapnya dengan tangan kotornya, lalu sebuah etalase menimpanya.
__ADS_1
BUK!
Monster itu mengerang. Indi yang tak tahu apa yang barusan terjadi, segera menyelamatkan Liona, yang terlepas dari genggaman monster itu.
“Sepertinya harga tidak membohongi kualitas.” Kata monster itu tampak kesakitan.
Namun sebuah lemari etalase tampaknya tak cukup untuk mengalahkannya. Monster itu berdiri, dan menyingkirkan etalase yang menindihnya.
Hal itu membuat beberapa bingkai dan toples pajangan pecah, dan berhamburan. Indi melihatnya. Apa yang ada dalam bingkai-bingkai pajangan itu.
“Itu, para peri.”
Monster itu terkekeh, “Tentu saja! Mereka adalah barang yang mahal. Tetapi aku berterima kasih pada mereka karena membawamu kemari.”
“Mereka, mereka memintaku kemari bukan untuk menyelematkanku,” gumam Indi.
“Tentu saja tidak! Mereka membawamu ke tempat ini karena ketakutan atas kekuatanku, Tom sang Pemburu!” kata monster itu bangga.
Kemarahan membuncah dalam kepala Indi. Ia merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Ruangan itu lalu mulai berguncang. Benda-benda mulai beterbangan di sekitar Indi. Baru dipahaminya sekarang apa arti dari perkataan para peri yang ditemuinya di hutan.
Monster itu hendak menangkap Indi, namun lagi-lagi sebuah etalase menabraknya. Disusul oleh etalase lain, hingga ia tak bisa bangkit berdiri.
“Kau akan terus menjadi buronan Indi. Terus begitu hingga salah satu dari mereka mendapatkanmu. Dan kau\-“
Perkataan monster itu terhenti dengan sebuah kulkas yang menimpa kepala monster itu. Perlahan monster itu berubah menjadi sebuah batang kayu berlumut yang besar.
Indi merasakan pusing yang amat sangat. Matanya berkunang-kunang. Ia merasa dirinya akan ambruk. Pandangannya kalut, dan ia roboh ke lantai. Namun, sesuatu menahannya untuk jatuh.
“Kau tak apa\-apa?” Tanya Fanny pada Indi, suaranya gemetar.
“Ya,” Indi memutuskan, meskipun rasanya ia ingin muntah semua makanan yang baru saja dimakannya.
__ADS_1
“Apa yang terjadi dengan monster itu?”
“Semua yang berasal dari alam akan kembali ke alam. Sama seperti pajangan\-pajangan yang kita lihat.”
“Lalu bagaimana bisa monster itu tampak seperti manusia pada awalnya?”
“Topi ilusi, beberapa anak cerebellum mengembangkannya.” Jelas Fanny.
Liona mengerang, sambil mencoba berdiri. Anak itu kelihatan parah. Jaket hoodie hitam yang dipakainya, kini tampak seperti rompi. Rambutnya yang dikepang sekarang menjadi acak-acakan.
“Terima Kasih karena sudah menyelamatkanku, lagi.” ucapnya parau.
Indi menunduk malu. “Aku harus meminta maaf pada kalian. Andai aku bisa menjadi lebih kuat lagi, kalian tak harus mengalami hal ini.”
“Hei, kau sudah melakukan yang terbaik. Setidaknya sekarang kita belajar bahwa singgah di toko barang souvenir di malam hari dapat membawa petaka.” Kata Fanny, diikuti oleh tawa ketiga gadis itu.
Indi mungkin telah mengalahkan monster itu. Tapi, perkataannya barusan terus menjadi beban pikirannya. Sejak awal ia tak ingin terlibat dengan semua hal ini.
Namun sekarang ia harus menjadi buronan dari orang yang ia tak ketahui, dan mencari ibunya yang entah kenapa bisa menjadi kunci jawaban dari semua hal ini.
Ketiga gadis itu lalu mencari sesuatu yang dapat membantu perjalanan mereka di toko itu. Mereka menemukan beberapa uang di mesin kasir, dan makanan di kulkas.
Indi mencari-cari ponsel atau mungkin sesuatu yang dapat menjadi informasi baginya. Ia lalu menemukan sebuah alamat, yang dicatat di buku keuangan monster itu. Dirobeknya tagihan itu dan dijejalkannya di saku.
Ketika selesai mereka segera meninggalkan tempat itu. Diluar Indi kembali melihat para peri yang ditemuinya di hutan. Mereka tampak bahagia.
Salah satu peri mengucapkan sesuatu, yang diterjemahkan Indi sebagai terima kasih. Di kepala Indi, sebuah mahkota yang terbuat dari tanaman tercipta dengan sendirinya. Tampaknya ia telah diangkat sebagai duta para peri.
__ADS_1