Indi Go!

Indi Go!
Episode 85


__ADS_3

Hantu cilik itu masih berdiri tepat di depan Indi dan Fanny. Sementara Catherine masih mematung, tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia tampaknya baru saja menyadari bahwa, rencana yang sudah dianggapnya berhasil malah gagal sepenuhnya.


“Sayang sekali. Aku tak bermaksud untuk menganggu kesenangan kalian, tapi aku juga punya tujuan sayang. Dan aku rasa kalian tidak akan mengerti dengan tujuanku. Oh ya, jangan pernah menggunakan serangan seperti *doll viventem* pada orang yang menciptakannya ya,” kata Jeannet yang dirasuki Noella \(Aku tahu, bagaimana mungkin hantu dirasuki saat dia sudah menjadi hantu, tapi itulah yang saat ini sedang terjadi\), lalu berkedip pada ketiga gadis itu.


Fanny yang sedari tadi diam, secara impulsive melempar belatinya yang selama ini disandangkannya di pinggangnya. Belati itu melesat dengan cepat ke arah hantu cilik itu, KRAKK! Pisau itu tertahan oleh sesuatu. Bunyi kertakan kayu tiap sendinya memecah keheningan itu.


Tubuh kayu boneka itu menghentikan belati Fanny. Benda itu tertancap tepat di bagian dada boneka ventriloquist itu. Senyum sumringah lalu menghiasi wajah hantu cilik yang dirasukki itu.


“Oh, aku lupa. Sudahkah aku mengatakan bahwa seluruh kemampuanku masih sama walaupun aku dalam wujud lain?” katanya dengan nada menyebalkannya, walau dengan suara anak kecil.


Hantu cilik itu lalu menatap Catherine dengan tersenyum, “Ah, terima kasih juga karena kalian telah menceritakan hal-hal yang belum ku ketahui sebelumnya. Aku baru tahu kalau di pihak kalian ada seseorang yang bisa menguasai teknik ilusi sehebat itu. Sekarang aku bisa menyusun ulang semua hal yang dapat kulakukan, ya walaupun sedikit terlambat, tapi tak apa, karena ilusi itu sudah hilang sekarang. Dan terima kasih karena telah menunujukkanku arti ramalan itu,” katanya sambil memandang Catherine.


“Kau tak bisa memprovokasi kami, kaulah yang di pihak kalah. Saat ini mereka tengah kemari untuk menangkapmu. Dan aku tak yakin kalau satu orang akan berhasil menghadapi kami,” kata Fanny, nadanya memberontak.


Raut Fanny jelas mengisyaratkan kalau ia tak menerima kenyataan dengan apa yang dikatakan Noella.


“Benarkah begitu? Kalau begitu dimana mereka sekarang?” tanya Jeannet yang dirasuki Noella dengan senyuman lebarnya.

__ADS_1


Mendengar itu jelas membuat Fanny tampak meragukan dirinya sendiri, sedang Catherine masih terpaku pada apa yang sedang terjadi.


“Kalian tidak bisa menjawabnya. Itu jelas menunjukkan kalau kalian sudah ka\-“


SWUSH!!! Hembusan angin besar menghentikan perkataan hantu cilik itu. Sementara di depannya Indi tampak mantap dengan pose avatarnya yang baru saja melakukan hal itu. Rautnya tampak geram pada hantu kerasukan yang ada di depannya (meskipun ia sedikit terlihat bodoh dengan posenya).


“hentikan semua ocehanmu itu dan segera keluar dari sana dasar tante tua pecinta boneka! Dan kalian berdua, aku sudah cukup menjadi orang bodoh hari ini, namun saat ini tak ada apa\-apa yang akan terjadi saat kita diam saja, dan mendengar semua ocehan drama tante tua dengan suara anak kecil yang menyebalkan itu. Dan aku sudah sangat geram mendengar nada bicara itu dengan suara anak yang tak berdosa,” kata Indi geram.


Jeannet (yang adalah Noella) tampaknya terprovokasi dengan apa yang baru saja dikatakan Indi, khususnya saat ia mengatakan “Tante Tua”. Kedua tangannya terkepal, walaupun ada di dalam raga seorang hantu, namun Indi masih jelas merasakan aura pekat Noella di sana.


“Kau akan membayar apa yang baru saja kau katakan!” seru Noella.


Ia memfokuskan pikirannya, lalu mengarahkan kedua tangannya pada boneka yang beberapa meter lagi akan segera menabraknya. PLANK! Boneka itu terhempas, setelah membentur sesuatu yang tak tampak, ia terangkat beberapa meter ke udara lalu dengan hempasan yang cepat terjatuh ke atas tanah. BANG!!! daun-daun kering pinus kembali berhamburan di tempat jatuhnya boneka itu.


Noella yang berada di dalam hantu cilik itu memperlihatkan ekspresi tak percaya, saat melihat boneka itu tergelatak dan tak dapat digerakkan lagi. Kedua matanya lalu menangkap pandangan Fanny.


“Aku mengerti. Gerakanku barusan sangatlah gegabah. Aku bahkan lupa kalau kau adalah muridku yang berharga, murid dengan kemampuan spiritus terkuat di UCI. Sejak awal belati roh itu memang tidak menargetkan diriku, tetapi boneka itu bukan,” ungkap Noella dengan senyum tidak puasnya.

__ADS_1


Di belakang Indi, raut Fanny tampak puas dengan apa yang barusan terjadi, “Tak akan ku biarkan kemampuan bodohmu itu menjadi penghalang. Saat ini kaulah yang akan kalah karena ketidak tahuanmu,” kata Fanny sarkas.


“cih, kau memang sangat berbakat dalam seni peran rupanya. Baiklah sudah cukup pemanasannya. Aku akan serius sekarang. Lagi pula aku tak tertarik lagi dengan si avatar bodoh itu. Sekarang aku sudah tahu tujuanku, dan itu ada di depan mataku. Ramalan itu, akan ku akhiri disini,” cahaya mata Noella jelas terlihat bersungguh\-sungguh pada setiap perkataannya.


Indi dapat merasakan aura Noella yang makin lama makin memekat. Ia sebenarnya hendak melayangkan kepalan tangannya pada hantu cilik itu atas perkataannya tentang “Avatar bodoh” namun ia tahu ini saat yang tidak tepat, dengan pekatnya aura Noella yang ada di depannya.


“Aku sadar akan kurangnya pengetahuanku disini, tapi aku akan bertarung sambil belajar. Perlahan tapi pasti kemampuan *Lux* milikmu pasti akan kutemukan kekurangannya. Kalian memang menang tadi, melihat jumlah kalian yang lebih banyak, dan juga rupa kalian yang manusia sedangkan aku hantu. Karena itu, aku akan membuatnya adil, dan sedikit membalas kecurangan\-kecurangan kalian tadi. Mari belajar,” diakhir perkataannya, Indi dapat merasakan getaran dari bawah kakinya.


Tanah tempat ketiga gadis itu berpijak kita mulai bergetar, dan menyembulkan sesuatu dari dalamnya. Bunyi kertakan kayu mulai terdengar, dari segala sisi. Indi dapat merasakan aura dari Noella pada setiap boneka-boneka ventroluquist yang mulai bermunculan layaknya zombie. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh, lima puluh, jantung Indi lalu serasa terhenti saat ia berhasil menghitung banyaknya aura Noella pada boneka-boneka itu. Seratus.


Raut ketiga gadis itu kini berubah tercengang dengan keseratus boneka yang kini telah melayang beberapa meter diatas mereka.


“Fanny, bantuan kita akan segera datang kan?” tanya Indi pelan, diikuti dengan air ludah yang ditelannya.


Fanny menggeleng pelan, “kau adalah seorang spiritus, naturae, dan cerebellum kau seharusnya lebih tahu jawabannya dari pada aku,” protes Fanny.


Indi masih merasa bodoh dengan perkataan Fanny barusan. Hal itu membuatnya semakin gugup dan takut. Saat ini, Indi berharap agar ia tidak lagi mendapat prank kematian yang ketiga kalinya, setelah ia hamper mati sebanyak dua kali. Meskipun saat ini ada Fanny dan Catherine yang faktanya adalah seorang Ninja Medis karena meskipun Indi yakin kalau mereka berdua pandai dalam acting dan drama, namun raut mereka berdua saat ini jelas menunjukkan ketakutan.

__ADS_1


“Apakah kalian bersiap bermain boneka bersama?”


__ADS_2