Indi Go!

Indi Go!
Episode 23


__ADS_3

“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Indi gugup.


“Siapa?”  anak itu keheranan.



“Jeannet!” seru Indi panik.


Indi lalu sadar. Tak semua anak Indigo bisa melihat makhluk tak kasat mata. Indi pun awalnya tak bisa melihat mereka. Jeannet meronta dan berteriak sambil memegang kepalanya. Indi mendekatinya.


“Jeannet kau kenapa, hei Jeannet,” kata Indi mencoba membuatnya berhenti.



“Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf!” seru hantu cilik itu.


Indi lalu mendekapnya, “Tak apa Jeannet, tak apa, semuanya sudah berlalu,”


Gadis hantu itu lalu berhenti menangis. Ia menatap Indi. Detik berikutnya, Indi melihat apa yang selama ini ia takutkan. Kulit Jeannet memunculkan memar dan lebam. Rambutnya menjadi basah. Dari kepalanya darah terus mengalir, yang membuat tubuh Indi mulai gemetar.


“Aku anak yang baik,” kata Jeannet dengan tatapannya yang kosong.



“Aku anak yang ba\-“


Hantu cilik itu lalu kembali seperti semula. Di depan Indi, kedua tangan anak perempuan itu berpendar menyala. Sepertinya ia yang membuat Jeannet kembali seperti semula.


“Bagaimana? Kau bisa melakukan hal itu? Ku pikir kau tak bisa melihat Jeannet,”



“Anggap saja itu bagian dari penyucian. Aku memang tak bisa melihatnya. Tapi yang barusan, bahkan manusia biasa bisa merasakannya,” jelas anak itu.



“Kita harus segera pergi, kemungkinan mereka sudah dekat,” sambung anak itu.


Bagaimana mungkin anak kecil ini bisa mengetahui semua hal itu? Ia bahkan baru saja menemuinya sekali di UCI, batin Indi.


“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanya Indi.



“Dari gadis hantu itu,”



“Lalu kita harus kemana? Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana bisa kita berdua lari dari mereka? Bagaiman\-“


Nyala api lalu menyambar dari kedua tangannya, “Pertama kau harus bisa tenang, rasa panikmu bisa membunuhmu. Kedua kita akan pergi mencari ibumu. Terakhir, kita tidak sendiri,” potongnya diikuti seseorang yang masuk di ruangan itu.

__ADS_1


Indi menautkan alisnya. Ia tak paham dengan apa yang dilihatnya. Orang yang selama ini tidak menyukainya.


“Fanny?”


***


Tak pernah terlintas dibenak Indi tentang  apa yang terjadi padanya hari ini. Ia harus berjalan lebih dari dua kilo, di sebuah desa mati, di megara asing yang tak diketahuinya.


Belum lagi ia harus melaluinya dengan seorang anak kecil yang tampak seperti psikopat, hantu cilik yang sedari tadi menghilang lalu muncul kembali, dan seorang gadis yang selalu cari perhatian dengan hantu.


Indi menatap Fanny yang sedari tadi berjalan di depan. Ia memakai jaket tebal yang sering digunakan pendaki gunung. Dia membawa sebilah belati yang disandangkannya di pinggang. Oh ya dan juga sebuah gelang manik berwarna hitam yang juga digantung berdampingan dengan pisaunya.


“Kenapa kita harus mencari ibuku?” Tanya Indi memecah suasana perjalanan mereka yang sedari tadi membisu.


Fanny menatap Indi sinis. Jelas kalau ia tak ingin menjawab pertanyaan apapun yang keluar dari mulut Indi. Sedang si gadis api Liona, hanya memilih diam. Indi menoleh ke belakang mencoba mencari Jeannet. Tapi ia tak mendapatkannya.


Sepanjang jalan Indi hanya bisa menatap pepohonan dan beberapa rumah yang disusun dari bebatuan, tampaknya sudah lama ditinggalkan. Setelah sebulan di UCI, Indi merasa aneh kembali berada di dunia “Nyata”. Karena menurut Liona, UCI berada di alam lain yang tak dapat di jangkau manusia.


Indi jadi teringat dengan beberapa tempat di negara asalnya yang memiliki mitos yang sama. Hanya saja sekarang Indi tahu kalau hal itu bukanlah mitos.


“Apakah hal ini merupakan hal yang normal?” Tanya Indi kepada Liona.



“Kita sudah berjalan cukup jauh, dan bahkan selama aku pingsan sepertinya tak ada yang mengejar kita.”



Indi menatap Fanny. Ia tak pernah mengerti kenapa gadis itu selalu membencinya. Indi mengumpulkan keberaniannya.


“Kenapa, kenapa kau begitu membenciku?” Tanya Indi gugup.



“Jangan GR ya, aku tak pernah membencimu.”



“Kau berbohong, sejak di UCI kau selalu membenciku, kenapa?”


Fanny menghela napas, “Aku tak pernah membenci siapapun. Aku hanya tak bisa percaya dengan siapapun. Bahkan diriku sendiri. Kau tahu, seseorang sepertimu, tak akan paham,” jawab Fanny, rautnya berubah.


“Lupakan saja!”


Liona yang mendengar kami lalu menyentuhku. Ia menggeleng. Indi tahu bukan waktu yang tepat untuk melanjutkan pembicaraan itu. Mungkin Cuma perasaan Indi, tapi sedari tadi ia merasa kalau perjalanan mereka tak memiliki ujung. Hal itu membuatnya memikirkan ibu dan ayahnya.


Entah dimana mereka sekarang. Mereka mungkin sedang ditahan oleh The Sanctus.  Kalaupun ibunya baik-baik saja kenapa ia tak mencarinya. Dan kenapa Koran yang ditunjukkan Maddam Noella menunjukan bahwa ibunya telah meninggal hari itu.


“Mereka memalsukannya.”


Indi menatap Fanny kebingungan. “Kau, kau baru saja membaca pikiranku, atau hanya kebetulan?”

__ADS_1


“Bukan hanya kau yang menguasai lebih dari satu kemampuan,”


Indi  mengangguk canggung. Ia penasaran, selama ini banyak hal yang sudah diketahui Fanny tentang dirinya. Selama perjalanan ia pasti sudah mencari-cari hal-hal aneh yang pernah terjadi dalam hidupnya.


Fanny memutar kedua bola matanya, “Aku memang seorang cerebellum, tapi kemampuanku tak seperti Lisa yang dapat membaca seluruh pikiran serta ingatanmu. Aku hanya dapat membaca pikiran yang baru saja dipikirkan oleh seseorang, itupun kalau aku berusaha untuk melakukannya. Aku tahu kau mungkin tidak menyukaiku, tapi saat ini, kita harus bekerjasama.”


“Kau belum menjawab pertanyaanku,” kata Indi.



“Semua yang diperlihatkan di UCI adalah palsu. Hal\-hal mengenai ibumu juga kematiannya. Semua palsu. Beberapa anak cerebellum tentunya dapat dengan mudah memanipulasi maupun membuat sesuatu dengan alat\-alat doraemon mereka. Sejak awal mereka memang tak ingin agar kau tahu ibumu masih hidup. Mereka ingin kau tetap disitu,”


Jawaban Fanny membuatnnya semakin menimbulkan banyak pertanyaan, “Aku mengerti mereka menginginkanku, maksudku kemampuanku. Tapi, kenapa dengan memberitahukan bahwa ibuku sudah mati?”


“Agar kau tak mencarinya, agar kau memiliki sesuatu untuk disalahkan, dan agar kemampuan Indigomu lebih cepat untuk bangkit. Sejak kau tiba di UCI, semua hal sudah diatur oleh Maddam Noella. Dia melibatkan beberapa orang dalam hal itu, Lisa, Rico, Catherine dan aku salah satunya,”


Agak berat, namun semua penjelasan Fanny tampaknya membuat semua hal yang terjadi padanya mulai masuk akal, “Maksudmu semua yang terjadi padaku sejak awal hanya settingan. Bahkan Catherine?” menyebut Catherine membuat matanya berkaca.


Selama berada di UCI, Catherine adalah satu-satunya orang yang bisa ia sebut teman.


Fanny menggeleng, “Catherine berbeda. Begitupula denganku, juga Jeannet. Sejak awal ada beberapa hal yang mengganjal dengan tempat itu. Hanya saja anak-anak lainnya tak dapat melihatnya. Tempat itu memiliki sesuatu yang gelap Indi,” jelas Fanny, raut wajahnya menggelap.


Indi tahu bukan waktu yang tepat untuk kembali mengajukan pertanyaan. Tapi ia tak bisa, “Bagaimana dengan Catherine? Dimana dia sekarang?”


Fanny lalu menatapnya iba, “Ia tertangkap malam itu. Kami tak dapat menyelamatkannya,”


Indi terdiam. Pikirannya kalut. Beberapa hal memang tak bisa berjalan beriringan. Di satu sisi ia begitu bahagia bahwa ibunya baik\-baik saja, dan ia bisa keluar, tetapi di sisi lain ia merasa bersalah dan begitu mengkhawatirkan Catherine.



“Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi kita tak bisa kembali saat ini. Tidak setelah pengorbanan yang dilakukan Catherine,”



“Apa maksudmu? Dia mungkin tengah disiksa disana karena aku,”



“Dia baik\-baik saja,” sela Liona yang sedari tadi mendengarkan.



“Liona benar,” sambung Fanny yang sudah menyeka genangan air di kedua matanya, “Catherine pasti baik\-baik saja. Kita harus mencari ibumu, lalu kembali menyelamatkan Catherine,” sambungnya, yang tampaknya ragu dengan kata\-katanya.


Kedua perempuan itu lalu kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa hal benar-benar mengganggu benak Indi. Setelah semua kejadian ini, sepertinya ia harus kembali menemui psikiaternya.


Indi bertanya-tanya, apakah Fanny masih bisa membaca pikirannya di jarak ini. Ia belum jujur dengan kedua gadis itu. Ia belum memberitahu mereka alasannya terus mengikuti mereka.


Sejak awal ia sudah menetapkan, setelah ia bertemu dengan ibunya, ia akan pergi dan lari bersama kedua orang tuanya. Ia tak peduli dengan UCI setelah semua yang terjadi. Ia hanya ingin kehidupannya bersama keluarga kecilnya kembali. Ia memang merasakan kesedihan tentang Catherine, namun keluarganya lebih berharga.


Ia tak ingin kembali terjebak dengan semua hal-hal aneh ini. Mungkin sejak awal Catherine memang ingin menolongnya batin Indi mencoba membenarkan semua pemikirannya.

__ADS_1


***


__ADS_2