
Gadis aneh yang berbicara dengan boneka mengerikan itu, tak lain dan tak bukan adalah Noella. Indi tengah melihat masa lalu Noella. Hal ini tentunya, sangat menyebalkan bagi Indi karena, selain ia benci dengan adegan flashback pada serial anime favoritnya yang selalu dimunculkan pada setiap episodenya, ia juga membenci pada sesuatu yang tidak diinginkannya namun terpaksa harus melihatnya. Apalagi setiap kali ia melihat sesuatu dari masa lalu, ia harus melihat hal-hal aneh dan menyesakkan hati, seperti mantan pacar ibunya yang amat norak, kehidupan adik dari Rico yang harus berakhir tragis, dan hal-hal aneh lainnya.
Inikah penderitaan yang harus dirasakan seorang tempus? Anak itu yang ternyata Noella sama sekali tidak beranjak dari tempat itu. Iya tetap menangis terisak sambil memohon maaf. Dan Indi baru menyadarinya kalau di samping Noella, boneka mengerikan itu sudah robek menjadi dua bagian. Meski ia benci mengakuinya namun, walaupun hanya dalam sebuah penglihatan Indi dapat dengan jelas merasakan kesedihan dari Noella.
Selama beberapa menit Indi hanya dapat melihat Noella kecil yang terisak, dan terus menangis, hingga perlahan suara tangisnya berhenti.
“Siapa kamu?” kata Noella sambil mencoba menahan isaknya.
Indi tidak bisa mengatakan dengan pasti apa yang tengah dilihatnya, namun ia dapat merasakan adanya aura suatu entitas di ruangan itu, yang baru saja muncul. Dan aura itu begitu dingin dan gelap. Sangat amat dingin dan gelap. Indi sudah pernah melihat dan merasakan banyak macam aura selama hidupnya, dan ia paham betul kalau selama ini saat ia maupun kedua orang tuanya mengatakan kalau ia demam ataupun kelelahan, sebenarnya ia tengah merasakan suatu aura atau keberadaan entitas.
__ADS_1
Di depan pandangan Indi ia dapat melihat kalau Noella kini mulai ketakutan dengan apapun yang dilihatnya. Bahkan tangis dan isaknya kini tiada lagi terdengar. Mata gadis itu seakan terhipnotis pada apa yang tengah dilihatnya. Namun Indi masih dengan jelas merasakan ketakutan dari Noella.
“Kau akan membantuku?” ucap Noella serak, pada sesuatu yang ada di depannya.
Indi tidak tahu apa yang saat ini tengah diucapkan sesuatu yang ada di depannya, namun perkataannya membuat Noella menyimpulkan sebuah senyuman dan beberapa anggukan bahagia. Raut bahagia Noella benar-benar mengingatkan Indi setiap kali Ibunya menjanjikan benda yang ia inginkan. Itulah yang dilihat Indi pada Noella.
Indi tak lagi berada di ruangan gelap nan sempit itu. Kali ini ia melihat pemandangan hamparan rumput hijau yang begitu luas. Tidak ada apa-apa disana selain hamparan rumput dan beberapa buah kursi yang diletakan melingkar di tengah-tengah padang rumput itu. Orang biasa mungkin akan menebak apa yang dilihatnya sebagai sebuah piknik keluarga yang direncanakan, melihat cuaca yang begitu cerah dan padang rumput dengan semilir angina yang membelai.
Namun tidak. Indi bahkan berharap kalau penglihatannya dapat kembali ke ruangan gelap tadi. Di masing-masing kursi kayu, terikat beberapa orang yang mengenakan jubah berwarna hitam. Indi tak dapat menebak siapa mereka, karena selain yang dilihat Indi adalah masa lalu dari Noella, kepala orang-orang yang terikat itu ditutup kain hitam.
__ADS_1
“Noella, apa yang kau lakukan sayang. Aku sudah meminta maaf atas apa yang kulakukan sebelumnya. Ingatlah sayang, meski aku bukanlah ibumu, namun akulah satu-satunya orang yang merawat dan membesarkanmu. Aku menyayangimu, yang kulakukan sebelumnya terjadi karena amarah sementaraku. Sekarang aku mohon agar kau melepaskan orang tua renta ini, dan kita kembali ke rumah lalu menikmati segelas coklat panas kesukaanmu?”
Raut Indi jelas membeku mendengar apa yang baru saja didengarnya. Ia jelas masih mengingat suara itu. Orang yang baru saja berbicara. Seorang wanita tua. Ia adalah wanita tua yang dilihatnya pada penglihatan sebelumnya. Wanita tua modis itu. Suara tawa lalu menghanyutkan keheningan Indi.
“Itukah kata-kata terakhirmu nenek tua? Baiklah kaulah yang memintanya. Aku akan melakukannya padamu terlebih dahulu,” ucap suara seorang gadis yang tengah berdiri di tengah-tengah lingkaran itu.
Ia memakai sebuah jubah hitam panjang yang menyentuh tanah. Rambut panjanganya kini terurai dan menyentuh belakangnya. Indi dapat melihat wajahnya dengan jelas. Tampilan gothic, bibir berwarna hitam. Senyuman itu. Noella.
“*Manet intra inclusumque cauo*,”
__ADS_1