Indi Go!

Indi Go!
CHAPTER 20: Episode 98


__ADS_3

...CHAPTER 20...


...Inggrit ...


Di tengah-tengah tempat Indi berdiri, kilasan-kilasan memori yang sebelumnya berputar kini berhenti, dan mulai memudar, menyisakan kehampaan. Di sekililing Indi kini hanya ada hamparan kegelepan. Raut Indi masih menunjukan kekosongan. Bahkan aura Indi tak dapat lagi dirasakan. Kedua matanya masih terbuka, hidungnya masih menghembuskan nafas, bahkan suara dari detak jantungnya masih terdengar.


“Aku berhasil,” suara Noella memecah keheningan yang mengambang di tempat itu.


Bak tokoh five dari series Umbrella Academy, Noella muncul dari entah berantah tepat di depan Indi. Bibirnya kini tengah menyunggingkan senyuman khasnya. Bahkan warna ungu gelap dari lipstick-nya masih pekat menghiasi bibirnya.


“Terima kasih karena telah percaya padaku, sayang,” ucap Noella dengan salah satu tangannya yang membelai pipi Indi.



“Aku tak akan mengecewakanmu. Juga anak-anak yang sama denganmu, yang secara sukarela telah memberikan jiwa mereka untuk menciptakan masa depan yang cerah untuk orang-orang yang seperti kita,”


Wanita gothic itu lalu mundur beberapa langkah. Ia menarik lalu menghembuskan nafasnya. Mulutnya lalu mulai mengkomat-kamitkan sesuatu. Sepertinya mantera.


*Indi. Indi*. Indi mendengarnya. Ada suara lain yang didengar Indi.


Indi, sadarlah! Ucap suara itu, yang tampaknya hanya dapat didengarkan oleh Indi, melihat reaksi dari Noella. Dan entah bagaimana, kesadaran Indi, mulai kembali berkat suara itu.


Perlahan penglihatan Indi yang tadinya kosong, menangkap suatu gambaran buram di depannya. Indi tidak tahu bagaimana cara ilmiah dalam menjelaskan hal yang dialaminya saat ini, karena ia sempat berpikir kalau di dalam perangkap jiwa yang kebetulan dibuatnya sendiri, hal-hal yang berkaitan dengan alam dalam pikirannya tak ada lagi, namun ternyata banyak hal yang lebih ajaib dari dugaannya.


Penglihatan Indi masih remang karena cahaya yang entah dari mana asalnya. Indi mengernyitkan kedua matanya. Di depannya kini berdiri sosok wanita berpakaian serba putih, mulai dari blazer kulit, celana kain, hingga sepatu boots yang dikenakannya. Yang jelas dia terlalu keren untuk tolak ukur seorang malaikat yang akan membawanya ke dunia akhir, pikir Indi.

__ADS_1


“Akhirnya kita bisa bertemu tanpa adanya gangguan, anakku,” ucap suara itu lembut.


Mendengar perkataan itu, penglihatan Indi perlahan kembali terang. Wanita yang ada di depannya bukanlah malaikat, mungkin iya bagi Indi tapi tidak secara harfiah. Wajah wanita itu berbagi garis wajah yang sama dengan Indi.


“Mama?”


Wanita itu lalu merentangkan kedua tangannya ke depan. Tanpa aba-aba, dengan cepat Indi berlari untuk menjatuhkan tubuhnya pada pelukan yang sudah lama tak ia rasakan. Entah bagaimana ia bekerja, kedua matanya kini lembap karena dibasahi air mata. Meski diliputi oleh ratusan pertanyaan tentang bagaimana keberadaan Ibunya, Inggrit bisa ada di tempat ini. Kali ini ia tak begitu peduli. Ia sudah terlalu lama diliputi berbagai hal yang menyingkirkan sumber kebahagiaannya. Saking bahagianya ia bahkan lupa tentang cara untuk berkata-kata.


“Aku juga merindukanmu,” tutur Inggrit, yang tampaknya tahu dengan apa yang dipikirkan Indi, anak sematawayangnya.


Keduanya kini tenggelam dalam rasa rindu. Hingga salah satu pertanyaan yang begitu mencolok dari dalam kepala Indi mengambil alih. Bagaimana kalau yang dilihatnya bukanlah ibunya, melainkan salah satu hal dari permainan Noella, atau bagian halusinasi dari mantra yang telah diaktifkannya? Tenggelam dalam pikirannya sendiri, Indi segera melepaskan pelukan dari Inggrit.


“Kau tidak mungkin nyata. Bagaimana kau bisa ada di sini?” Tanya Indi.


Inggrit mengulum senyumnya, memunculkan lesung pipi yang hanya ada di pipi kanannya.


Indi tentunya memiliki ratusan pertanyaan yang dapat membuktikan apakah wanita yang ada di depannya, adalah ibunya atau hanya bagian dari ilusi lain yang diciptakan oleh Noella. Namun yang terbesit di benaknya hanya satu. Dan menurutnya pertanyaan yang akan dilontarkannya merupakan pertanyaan yang dapat merepresentasikan semuanya, dan tidak jika kalian berpikir kalau yang akan ditanyakan Indi adalah tanggal lahirnya (ia tidak terlalu bodoh untuk hal yang satu itu).


“Apa nama makanan yang selalu gagal dibuat oleh Mama meskipun ia sudah membaca resep maupun menonton tutorial di Youtube, namun selalu berhasil dibuat oleh Indi?” ucap Indi dengan percaya diri. Hingga pada titik ia menyadari bahwa membaca pikiran adalah salah satu kemampuan beberapa indigo.


Inggrit tampaknya tak lagi dapat menahan tawanya. Ia jelas selama ini telah membaca pikiran putrinya, yang terkadang memang sedikit konyol.


“Aku jelas tak harus membaca pikiranmu, untuk raut wajahmu itu Ili Ili kecil Mama. Dan mungkin daripada berpikir tentang membaca pikiran, aku lebih menyarankan, untuk merasakan aura. Mengingat kau memiliki semua kemampuan indigo,” goda Inggrit.


Kenapa hal itu tak terpikirkan oleh Indi. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah menutup mataku, dan merasakan auranya. Beberapa detik berikutnya, Indi terlihat diam, dan perlahan mulai terisak. Ia kini sama seperti dirinya di masa lalu saat ia tahu kabar tentang ibunya yang telah tiada.

__ADS_1


“Kenapa, kenapa, kenapa Ma?” ucap Indi terbata sambil menahan isak tangisnya.


“Kenapa harus Indi. Kenapa harus sekarang. Kenapa aku tak pernah bisa memiliki kehidupan yang sama. Kenapa kau harus berbohong kalau kau telah tiada. Kenapa kau tak mencariku. Kenapa selama ini kau tak pernah memberitahuku tentang semua ini. Kau tak tahu, betapa banyak hal yang harus kulalui, betapa banyak kesedihan yang harus kualami. Aku, aku-“ Indi tak dapat melanjutkan kata-katanya, ia hanya melanjutkan isak tangisnya.



“Aku bahkan hampir tak lagi mengenal dirimu,” sambung Indi.


Inggrit sendiri hanya bisa diam. Ia tahu kalau jawaban tak dapat merangkum semua yang telah dialami Putrinya. Inggrit menatap Indi dengan penuh rasa bersalah. Ia tahu kalau yang ia lakukan bukanlah hal yang benar. Namun, ada hal yang membuatnya terpaksa melakukan semua hal itu.


“Kau dapat menyalahkanku untuk semua hal itu Indi. Aku sadar kalau aku selama ini belum pernah menjadi Ibu yang baik, bahkan ibu yang cukup untukmu. Tapi satu hal yang dapat kubanggakan dari caraku membesarkanmu-“ Inggrit menggenggam kedua tangan Indi.



“dan hal itu adalah kepercayaan. Aku selalu percaya padamu. Bahkan saat dirimu masih belajar bagaimana caranya. Dan sekarang aku telah melihat hasilnya. Di saat aku sendiri hanya bisa lari dari kenyataan yang ada di hadapanku,” ucap Inggrit.



“Aku tahu, kalau kau masih belum bisa menerima semua hal yang terjadi. Aku bahkan mungkin tak akan layak lagi atas maafmu. Tapi percayalah Indi, semua hal yang kulakukan semata-mata karena aku menyayangimu,”



“Lalu apa yang kau lakukan? Membuatku tampak bodoh dan merasa kehilanganmu, dan juga ayah?” tutur Indi melampiaskan emosinya. Ia tahu yang dilakukannya adalah salah, namun Indi tak dapat menahannya lagi.


Inggrit masih tenggelam dalam raut kesedihan dan rasa bersalah. Ia lalu menarik nafas panjang, lalu meletakkan kedua tangannya pada pipi Indi. Ia lalu menyenderkan dahinya pada dahi Indi. Ia sadar, kalau saat ini tak banyak yang bisa ia lakukan, selain mendahulukan keselamatan Indi.

__ADS_1


“Kau mungkin tak akan mengetahuinya sekarang, namun suatu saat nanti kau akan mengerti kalau semua yang kulakukan semata-mata hanya untuk keselamatanmu. Karena aku menyayangimu, dulu sekarang dan selamanya. Indi Elisa, puteri sematawayangku,” ucap Inggrit lalu mengecup dahi Indi.


__ADS_2