
***
Tanpa berpikir panjang, dengan cepat Indi berlari melewati kerumunan. Ia bahkan kini melupakan, bahwa sebelum penglihatan ini, ia bahkan tak bisa berpindah dari tempatnya berdiri.
Namun saat ini adalah hal yang berbeda. Ia tak dapat menahan, ekspresi rintihan serta kertak gigi dari orang-orang yang terikat di tengah tiang. Ia tak dapat menahan, rasa sakit yang tak hanya datang dari tiap jengkal kulit yang terbakar, tetapi juga dari emosi mereka, yang terus menerus berteriak meminta pertolongan.
Hanya melalui penglihatan pun, Indi segera tahu bahwa kehidupan ketiga orang yang dilihatnya sama sekali tidak pernah berjalan dengan normal.
Hal yang lebih menyakitkan bagi Indi, adalah melihat ratusan orang yang hanya diam, seolah-olah hal yang tengah mereka saksikan adalah normal. Ia jelas sama sekali tidak asing dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia hendak menyelamatkan orang-orang yang kini terbakar, di depan matanya.
Tepat ketika ia sudah berada di tengah perapian, tempat itu seketika berubah. Penglihatan yang dilihat Indi, kini terbalut dalam bayangan, lalu hilang. Dari belakang Indi, kepingan-kepingan suatu penglihatan kini kembali menyusun. Perlahan, Indi dapat melihat suatu kejadian lain yang mulai bergerak.
“Kami dengar, anak bapak dapat membantu kondisi ekonomi kami,” ujar seorang pria paruh baya.
Raut wajah serta garis pada setiap kulitnya, membuat Indi dapat mengambil kesimpulan kalau dia adalah seorang pekerja kasar. Namun, hal lain yang juga turut Indi sadari, adalah emosi dari pria ini juga kasar.
Di depan pria itu, berdiri lelaki tua renta dengan pakaian pria tua pada umumnya (hal ini tergantung dari Negara mana kau berasal. Karena bahkan Indi tak dapat mengatakan dari Negara mana penglihatan yang dilihatnya sekarang ini), bersama seorang anak lelaki yang sepertinya berusia antara sepuluh atau dua belas tahun. Anak itu berpakaian kaos tanpa lengan berwarna oranye, dengan corak gambar serial kartun lawas yang tak dapat diingat Indi (walau sudah dipaksanya untuk mencoba).
Indi mencoba mengedarkan pandangannya. Scene yang dilihatnya saat ini, ada pada sebuah ruangan kecil, dengan ukuran yang tak jauh lebih besar dari ruang gudang sekolah Indi. Ruangan itu ditutupi oleh papan-papan yang sangat tidak estetik, dan terlihat lapuk. Di ruangan itu pula hanya ada dua buah bangku rotan usang, dan sebuah patung salib kecil yang tergantung, di tengah-tengah dinding ruangan kecil itu.
Pria tua itu lalu menguraikan senyumnya, “Maaf Pak, tapi hal yang terjadi kemarin merupakan suatu kebetulan belaka. Aku maupun cucuku tidak pernah tahu bagaimana hal itu bisa terjadi,” tutur pria tua itu ramah.
Perlahan, raut dari pria paruh baya itu, berubah. Wajahnya kita merah padam, “Aku datang ke sini baik-baik. Tidak banyak yang kupinta, hanya sedikit bantuan untuk aku dan keluargaku. Aku bahkan tidak pernah mempermasalahkan kalaupun kau dan cucumu kini bermain ilmu hitam maupun bersekutu dengan iblis. Selama kau dapat menolongku,” pinta pria itu dengan nada yang mulai membentak.
__ADS_1
“Sekali lagi, aku memohon maaf kalau cucuku tak bisa membantumu. Lagi pula ia hanyalah anak-anak, dan sekali lagi kami tidak pernah tahu bagaimana hal itu dapat terjadi. Dan aku yakin apa yang terjadi pada orang itu taka da sangkut pautnya dengan cucuku,” jelas kakek itu masih dengan tuturnya yang lembut.
“Halah! Kau terlalu banyak bicara pak tua! Bilang saja kalau kau menginginkan kemampuan cucumu itu hanya untuk dirimu sendiri. Kau ingin memanfaatkannya bukan! Kau tidak memberiku pilihan lain,”
Lelaki itu lalu dengan kasar menarik tangan anak lelaki itu dari genggaman pria tua yang ada di depannya. Anak itu lalu mulai menangis dan meronta, mencoba melepaskan tangannya.
“Kakek!” seru anak itu.
Dengan cepat pria itu menarik anak lelaki itu, sedang sang kakek mencoba menolong cucunya sambil tertatih. “Tolong, cucuku tidak tahu apa – apa. Aku sudah mengatakan hal yang sebenarnya padamu. Tolong, jangan bawa cucuku. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki saat ini,” pinta Kakek.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” ucap anak itu.
Indi tidak tahu bagaimana untuk menjelaskan apa yang kemudian terjadi. Namun ia dapat mengatakan kalau ia merasakan sebuah aura yang sedari tadi telah ada di situ.
Detik berikutnya, hal yang tak pernah diduga Indi terjadi. Anak lelaki itu terlepas dari genggaman pria kejam itu, lalu pria itu terhempas beberapa meter keluar dari rumah itu. Hal yang barusan terjadi lalu menarik perhatian warga di sekitar situ.
Dengan raut kesakitannya, pria itu mencoba untuk berdiri, “Anak itu. Anak itu adalah anak iblis!” katanya parau. Matanya menatap penuh dengan kebencian pada anak itu.
Lagi-lagi, penglihatan itu mengabur dengan cepat, dan kini tergantikan dengan penglihatan lain. Di depan Indi, ia kembali melihat kobaran api yang membumbung tinggi. Indi mengenalinya. Ia masih berada di tempat yang sama. Ia melihat kejadian yang sama. Hanya saja, yang dilihatnya kali ini, rumah pria tua dan anak kecil itu dilalap api.
Apa lagi yang terjadi? Batin Indi. Di depan rumah yang tengah terbakar itu, berdirilah anak lelaki yang sebelumnya dilihat Indi. Bajunya sedikit hangus, beberapa memar terpapar di kulit coklatnya. Anak lelaki itu mematung melihat rumah panggung itu terbakar. Dimana lelaki tua itu? Apa yang terjadi padanya?
“Sama seperti penglihatan yang telah kau lihat sebelumnya,” ucap suara Noella yang bergema dari tempat Indi berdiri.
__ADS_1
“Lingkaran penderitaan ini tak akan pernah berhenti, selama kita masih dipandang berbeda dari manusia lainnya. Mereka tak pernah mau mengakui, kalau ada ciptaan yang lebih superior dari mereka, yaitu kita,”
Kobaran api yang dilihat Indi masih menjalari setiap inci kayu dari rumah itu. Kepulan asap hitam terus naik hingga menyentuh langit di siang itu (itulah latar yang dilihat Indi). Indi terdiam, setelah semua yang telah dilihatnya, ia takut kalau kali ini ia akan setuju dengan Noella.
“Itulah keinginanku Indi. Keinginan dimana orang-orang seperti kita dapat hidup dengan normal. Keinginan dimana kita tak perlu lagi menjadi orang yang bersembunyi. Keinginan dimana kita tak perlu lagi mendengar semua cemooh dari orang-orang yang sama sekali tak mengerti dengan kita,” ucap Noella yang kali ini suaranya tak lagi bergema.
Indi tak dapat menyangkalnya. Apalagi melihat segala hal yang pernah terjadi pada hidupnya. Ia terkadang muak dengan semua perlakuan teman-temannya. Kenapa harus dia yang dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan orang-orang yang tak sama dengannya, hanya karena ia berbeda. Kenapa bukan orang-orang biasa yang menerima keadaannya.
Di depan Indi, satu per satu kejadian-kejadian yang sudah dilihatnya berputar sama seperti video yang dipercepat. Penderitaan. Kesedihan. Penolakan. Amarah. Semua hal itu dirasakan Indi saat ini. Perasaannya seolah-olah sedetik saja dapat meledak, karena apa yang dilihatnya.
“Kita dapat menghentikan semua ini Indi. Kau dapat menghentikannya,” kini suara Noella terdengar berbisik di telinga Indi.
“Yang perlu kau lakukan hanyalah menolongku untuk mencapainya. Kita lakukan ini bersama-sama,”
Kilasan-kilasan kejadian itu kini berputar lebih cepat. Sedang Indi masih tenggelam pada emosi yang dirasakannya. Kedua telapak tangannya mengepal. Auranya kini memancarkan sesuatu yang berbeda. Warna mata Indi perlahan berubah. Hitam. Sesuatu jelas tengah terjadi padanya. Aura perlahan menjadi sama seperti aura Noella.
“Ya, seperti itu Indi. Yang perlu kau lakukan hanyalah meluapkan emosimu, dan membiarkanku membantu,”
Detik demi detik berikutnya, aura Noella semakin pekat membungkus Indi. Indi jelas telah kehilangan kontrol terhadap dirinya. Pikirannya kosong. Yang ia rasakan saat ini hanyalah luapan emosi. Aura Noella kini telah menyelubungi Indi seutuhnya.
__ADS_1
“Inilah akhirnya. Selamat tinggal Indi,” ucap Noella