
Apa aku sudah mati? Batin Indi. Ia mengerjapkan matanya, dan membukanya perlahan. Samar-samar dilihatnya cahaya yang masuk dari sela-sela reuntuhan. Kali ini Indi benar-benar membuka kedua matanya. Ia baik-baik saja.
Ia mengedarkan pandangannya. Di sampingnya Catherine dan Liona juga tampak baik-baik saja. Indi menengadahkan pandangannya, di atas kepala mereka tampak reruntuhan-reruntuhan yang entah bagaimana tak menimpa mereka.
"Kalian baik\-baik saja?" tanya seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Seroang wanita, tebak Indi. Anehnya suaranya begitu tak asing di telinga Indi.
Di depan mereka, tampak seseorang dengan topeng wajah wanita Jepang, yang mengenakan pakaian serba putih. Tangan kanannya terangkat, sedangkan tangan kirinya mengarah pada Indi, Liona dan Catherine. Indi mengangguk pelan, menunjukkan kalau ia baik-baik saja.
"Syukurlah. Aku masih sempat. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Aku tak bisa menahan ini lebih lama lagi. Berpeganganlah satu sama lain, aku akan membawa kita keluar dari sini." Kata wanita di depan mereka.
Wanita bertopeng itu mengangguk. Indi lalu merasakan sesuatu. Kedua kakinya kini tak lagi berpijak di atas tanah. Ia melayang. Raut wajah Indi seketika berubah panik. Aku sudah mati! Dan wanita bertopeng di depan adalah malaikat maut! Batin Indi. Sebuah sentuhan lalu dirasakan Indi di bahunya.
"Indi tenanglah, kau belum mati," kata Liona yang tengah tersenyum padanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Lalu kenapa kita melayang? Ini artinya, roh kita sedang diterbangkan menuju surga kan!"
Mendengar perkataan Indi, membuat Catherine yang tampaknya baru saja sadar, terkekeh pelan. Tunggu baru saja sadar? Batin Indi. Indi mencubit tubuhnya dengan kuat. Ia merintih. Sakit, batinnya.
"Yang kita rasakan sekarang adalah kemampuan tinggi seorang cerebellum, telekinesis!" kata Liona semangat.
Indi melihat kedua temannya yang juga ikut terangkat. Tak hanya mereka, wanita di depan mereka juga tampak terangkat. Tidak, dia terbang. Mereka terbang melewati banyak reruntuhan bangunan.
Mereka terus terbang dengan cepat, hingga tampak cahaya yang jatuh dari celah-celah reruntuhan bangunan. Terdengar suara rekahan, saat mereka keluar dari reruntuhan.
Sedetik kemudian, mereka telah benar-benar keluar dari reruntuhan bawah tanah. Indi mengedarkan pandangannya. Matanya mencoba beradaptasi dengan apa yang sedang dilihatnya. Di di depannya, tempat dimana UCI berdiri, tak lagi sama seperti yang ia ingat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" kata Indi gugup.
Di depan mereka, tampak gedung-gedung UCI yang terbakar dan memunculkan kepulan-kepulan asap, bekas pertarungan. Tempat dimana asrama-asrama para Indigo berdiri, kini tampak di tutupi kabut hitam yang tebal.
Di belakang mereka, Indi melihat bekas reruntuhan tempat mereka keluar tadi. Pada setiap edaran pandangannya, yang Indi lihat hanyalah kehancuran dan hamparan anak-anak Indigo yang terluka.
"Sudah dimulai," kata Liona.
Indi jelas tak mengerti dengan apa maksud dari Liona. Wanita bertopeng tadi lalu mendekati Indi. Di bawah cahaya, Indi jelas melihatnya. Ia mengenakan Topeng dengan wajah wanita jepang, pada zaman dahulu. Rambutnya diikat dengan model ekor kuda. Pakaiannya, Jas putih yang menutupi kaos putih dibaliknya. Ia mengenakan celana kain gombrang putih yang menutupi kaki jenjangnya, hingga menyentuh mata kakinya.
"Syukurlah kau baik\-baik saja, aku benar\-benar merindukanmu," kata wanita itu yang kini memeluk Indi erat.
__ADS_1
"Mama?"
***