
“Oke kita harus segera keluar dari tempat ini!” kata Fanny.
“Hei, kita harus menolong Jeannet!” seru Indi
“Indi, dia hantu. Naga itu tak dapat menyakitinya. Yang terpenting sekarang adalah\-“
Perkataan Fanny terhenti oleh suara auman yang menggetarkan gua. Auman itu diikuti oleh bau belerang yang begitu tajam, dan gadis cilik yang berlari sambil berteriak.
“Naga! Ada naga! Lari!” teriak Jeannet berlari kearah Indi.
Indi lalu melihatnya. Mahkluk yang selama ini ditontonnya di film-film fantasi favoritnya. Mahkluk itu setinggi tiga meter. Kulitnya berwarna hitam bersisik. Pupil matanya merupakan celah pipih, sama seperti mata reptile.
Kepala mahkluk itu dihiasi dua tanduk yang mencuat ke atas. Mirip seperti tanduk Maleficent di film. Diujung mulutnya terdapat paruh yang sama seperti burung, lengkap dengan gigi taring.
Kakinya terbungkus kulit yang sama seperti kaki ungags, hanya saja lebih tebal, dengan lima cakar yang tampak setajam pisau.
Makhluk itu merentangkan sayap burungnya yang menyentuh dinding-dinding gua. Ketiga gadis yang melihatnya terpaku. Indi bahkan gemetaran dibuatnya. Tangannya seperti mati rasa. Ia berdiri sejauh dua meter dari moncong mahkluk itu. Ia takut gerakan sedikit saja dapat membuat makhluk itu menerkam. Ia menelan ludah.
“Oke, aku sangat paham dengan situasi ini. Hal yang kuingat saat pelajaran tentang naga, adalah jangan bergerak secara tiba\-tiba. Ia mungkin memiliki pendengaran yang buruk, tapi penglihatannya sangat tajam,” bisik Indi pada teman\-temannya.
__ADS_1
“Apa maksudmu! Perkaataanmu benar\-benar menyinggun perasaanku.” Kata makhluk di depan Indi, yang membuatnya terbelalak.
“Apa Cuma aku? Atau naga itu baru saja berbicara?” tanya Indi pada teman\-temannya.
Ketiga gadis lainnya mengangguk sepakat. “Permisi, ehm… tuan atau mungkin nyonya naga. Kami tak bermaksud untuk mengganggu tidurmu, kami kesini hanya ingin mencari makhluk bernama Vega, berdasarkan rekomendasi para peri. Dan sekali lagi kami tak ada maksud untuk mengganggumu, jadi biarkan kami pergi dengan damai.” Kata Liona, memberanikan diri.
Mahkluk itu tertawa. Suara tawanya membuat cukup kuat untuk membuat, stalagmite di langit-langit gua bergetar.
Ketiga gadis itu melempar tatapan tajam pada Jeannet. Hantu cilik itu tersenyum tanpa dosa.
“Kalian tahu, aku sangat gugup kala itu. Dan kalian tahukan kalau aku hanya anak kecil.” Katanya dengan tawa yang dibuat-buat.
“Sudah ku bilang kan para peri itu hanya menjebak kita.” Bisik Fanny pada Indi.
Indi memberanikan diri untuk maju mendekat pada makhluk itu. “Aku minta maaf, ehm… Vega. Tapi kami datang kesini untuk meminta bantuanmu. Dan kami percaya dengan para peri yang mengatakan bahwa kau adalah makhluk yang baik, dan mau menolong kami,”
“Ah… para peri, tentu saja. Mereka adalah sahabat sekaligus kudapan yang enak. Dari masa ke masa tak pernah belajar dari kebodohan leluhur mereka,” kata naga itu lalu memamerkan taringnya \(mungkin tersenyum\).
__ADS_1
“Apa maksudmu? Kau membohongi para peri itu?”
“Membohongi? Tidak\-tidak, tentu saja tidak. Mereka hanyalah makhluk yang bodoh. Kalian tahu, sejak dimensi makhluk alam dan manusia dipisahkan aku kami bangsa naga mulai mengalami kepunahan. Makhluk\-makhluk dunia roh mengikuti jejak para manusia jahat untuk memburu kami, untuk mengincar jantung kami. Sejak saat itu aku terus bersembunyi di gua ini. Dan sejak saat itu, dengan kebaikan mereka yang tulus para peri datang kemari untuk menolongku, dan memberiku makanan dari buah\-buahan. Tapi, kalian tahu. Rasa dari kaum peri jauh lebih nikmat.”
“Dasar makhluk jahat, tidak berperi keperian! Kau begitu jahat dan juga jelek! Semoga kau mati dengan keadaan kelaparan dan menjomblo!” kata Jeannet kesal.
Raut makhluk itu lalu berubah. Dia mengaum. Asap berbau belerang keluar dari mulutnya. “Kau akan menyesali perkataanmu itu gadis pirang. Namun, setelah aku menyantap para manusia yang tampak lezat ini.” Katanya lalu menyerang.
Gigi naganya beradu. Indi berhasil melompat ke samping dan menghindari gigitan. Begitu juga Fanny dan Liona, yang kini sudah berada dekat dengan Indi.
“Bagus skali Jeannet!” kata Fanny, sarkas.
“Hei, bukan waktunya yang tepat untuk berargumen sekarang!” kata Indi.
__ADS_1