Indi Go!

Indi Go!
CHAPTER 18: Episode 84


__ADS_3

**CHAPTER 18


Anak Ramalan**?


Okey, Indi masih berusaha tidak memikirkan merek suatu sabun yang sering dipakainya sekarang. Ia juga tak bisa memungkiri kalau ia merasa sedikit bodoh dengan pemikirannya barusan.


“*Lux*?” tanya Indi sedikit ingin meyakinkan dirinya kalau ia salah dengan pemikirannya kalau itu sama seperti merek sabun.


Catherine mengangguk pelan, lalu mulai mendekatkan dirinya pada Indi. Ia menjulurkan kedua tangannya pada kepala Indi lalu menyentuhnya.


Indi tak mengerti kalau mungkin penglihatannya salah karena benturan yang dialaminya, namun ia melihat dari kedua telapak tangan Catherine, ada cahaya putih yang terang namun tampak samar.


Ketika kedua tangan Catherine menyentuh kepalanya, Indi dapat merasakan sesuatu yang aneh. Setiap nyeri yang dirasakannya, yang bahkan membuatnya terlalu susah untuk berdiri perlahan mereda. Adegan dari film-film yang sering ditontonnya kini dialaminya sendiri. Luka-luka yang ada disekujur tubuhnya mulai menutup dengan sendirinya.


Pandangan Indi kini sejelas pandangan saat ia marathon drama Korea favoritnya. Ia dapat merasakan energinya pulih kembali. Ia merasa sangat amat sehat dari sebelumnya. Bahkan ia dapat merasakan aura-aura yang sebelumnya tidak ia rasakan. Indi menatap Catehrine yang kini telah mengangkat kedua tangannya.


“Iya *Lux*,” kata Catherine pelan yang tampaknya sudah menebak apa yang ada di dalam kepala Indi.



“Bagaima\-“



“Oke, bisakah kalian hentikan semua pembicaraan itu dan fokus pada hal terpenting?” protes Fanny yang kini sudah sukses melingkarkan tali yang terlihat seperti kabel bagi Indi.

__ADS_1


Catherine tampak tertawa kecil lalu membantu Indi untuk berdiri. Bulan di langit perlahan mulai memudar ditutupi awan, dan semilir angin semakin membuat Indi menggigil. Mengingat hal-hal beruntut yang terjadi padanya membuatnya harus mengenakan baju kaos yang selama dalam beberapa hari dan tanpa mandi.


Belum lagi pertarungan beruntut yang dialami turut membuat bajunya tampak seperti kain lap yang sering dipakai Ayahnya. Indi sebenarnya memiliki ratusan pertanyaan yang mengitari kepalanya saat ini, tapi ia sadar kalau bukan saat yang tepat untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan miliknya.


“Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?, karena kalian mungkin tidak merasakannya, namun aku dapat merasakan aura yang amat kuat sedang mengarah kesini, dan saat aku bilang sangat kuat, maksudnya mereka tampak benar\-benar kuat. Dan dari apa yang kuingat, Noella mengatakan kalau mereka adalah bagian dari rencananya, dan aku tidak tahu pasti apa rencana miliknya,” kata Indi mencoba meyakinkan.



“Kau tidak salah Indi. Tapi tenang saja, mereka bukanlah musuh kita. Mereka bagian dari rencana kita. Untuk saat ini kita akan menunggu mereka disini sesuai rencana. Yang terpenting, kita sudah menangkap rajanya,” jelas Fanny yang tampak tenang.


Indi ingin memprotes pernyataan Fanny yang mengatakan kalau Noella adalah raja, mengingat dia adalah seorang wanita, namun ia mengingat kalau Fanny juga dapat membaca pikirannya jadi ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pemikirannya.


Indi mengarahkan pandangannya pada Noella yang saat ini masih diam mematung dengan tubuh yang sudah terikat. Bagaimana bisa Noella dengan semudah itu kalah dengan doll viventem mengingat kalau dia adalah seorang pimpinan UCI, dan seorang spiritus yang memiliki aura yang sangat pekat. Indi bahkan dengan segala kemampuan avatar dan mutant miliknya tak menggores sedikitpun pakaiannya.


Belum lagi pikirannya tentang Catherine, “Hentikan semua itu Indi,” bentak Fanny yang tampaknya sedari tadi telah membaca apa yang ada dalam kepala Indi.


“Kami bukan apa yang kau pikirkan. Dan sejak awal Noella tidaklah lemah. Karena itu kami harus merencanakan semua hal ini selama bertahun\-tahun, dan dari sekian ratus rencana yang kami sudah buat akhirnya ada yang berhasil, dan itu adalah hari ini,” Fanny menghentikan perkataannya, meski malam itu semakin gelap, namun Indi dapat melihat beberapa tetes bening di kedua titik matanya. Indi dapat merasakan apa yang dirasakannya, ia sedih tetapi bahagia.



“Maafkan aku. Aku tak seharusnya mengatakan hal itu,” kata Fanny pelan.


Catherine yang melihat situasi tidak menyenangkan yang terjadi kemudian mulai berdehem pelan, “Setidaknya kita sudah menang dalam pertandingan ini kan? Dan kita tak akan lagi melihat boneka-boneka mengerikan itu berkeliaran di UCI plus hantu-hantu pengawas keriput jelek tak akan disana lagi untuk mengatur segala hal,” kata Catherine mencoba mencairkan suasana, yang tampaknya berhasil, terlihat dari simpul senyum Fanny.


“Begitukah?” ucap suara dari belakang Indi.

__ADS_1


Seketika pandangan ketiga gadis itu tertuju pada asal suara itu. Disana berdirilah hantu cilik itu. Jeannet. Sepertinya ia sudah tenang (bukan mati karena dia sudah mati) dengan keadaannya. Kutukan yang diberikan Noella tampaknya telah hilang. Tanpa aba-aba dengan cepat Indi berlari ke arah Jeannet untuk memeluknya.


“Indi berhenti dia\-“


BANG! Kata-kata Fanny seketika berhenti ketika hentakan dahsyat melempar Indi ke arah Fanny. Dengan sigap Fanny menahan tubuh Indi yang menabraknya lalu berusaha untuk menghentikan hempasan dengan kedua kakinya. Daun-daun pinus di lantai hutan tampak beterbangan, diikuti dengan kepulan debu dari tanah.


Indi terbatuk, dadanya serasa sesak karena hempasan yang ia terima. Di belakangnya, raut Fanny tampak menahan rasa sakit. Gadis itu berhasil menahan hempasan itu sehingga mereka tak harus membentur pohon.


“Dia bukan Jeannet,” kata Fanny pelan.


Indi masih mencoba memproses apa yang barusan di dengarnya, meskipun sulit dengan kondisi dadanya yang sesak. Jeannet kemudian berjalan mendekati mereka, hingga ia berada tepat di depan Indi. Ekspresinya datar, dan pandangannya tampak kosong (Okey sulit menjelaskan bagaimana seseorang yang tak lagi bernyawa dengan pandangan kosong, namun jika kau adalah seorang Indigo spiritus kau pasti paham).


Hantu cilik itu mengamat-amati Indi, lalu mengalihkan pandangannya pada Catehrine.


Seutas senyum lalu menyimpul di wajah pucatnya. Indi sangat jelas mengenal senyum itu.


“Menarik. Rupanya selama ini aku salah,” katanya.


Suara Jeannet masih sama namun Indi jelas mengingat cara bicara itu.


“Bagaima\-“



“Sudah ku bilang padamu sayang masih terlalu cepat serratus tahun bahkan bagi tiga Indigo untuk mengalahkanku.”

__ADS_1


__ADS_2