Indi Go!

Indi Go!
Chapter 17: Episode 74


__ADS_3

**CHAPTER 17


Boneka**



Indi mengingat betul kalau Catherine memiliki beberapa bekas luka di tubuhnya. Gadis berambut cokelat yang berada di depan Indi, jelas tampak sangat berbeda. *Apa yang sebenarnya terjadi*? Batin Indi.


Melihat Indi, membuat Catherine harus duduk dengan kedua lututnya. Senyum manis khas miliknya, kembali dilihat Indi. Ia lalu menyentuh bahu Indi.


“Kau akan baik\-baik saja. Tapi saat ini, tak ada lagi waktu. Hari ini semuanya harus berjalan sesuai apa yang telah dilihat, dan kaulah orang yang dapat menjawabnya,” jelas Catherine, diikuti raut Indi yang menyorotkan tanda tanya besar.



“Apa maksudmu?” katanya, kali ini suaranya berhasil terdengar, walaupun berbeda.



“Ramalan, penglihatan, gadis berdarah ungu,” gumam Jeannet pelan. Sorot matanya meredup saat menatap Indi.


Catherine mengangguk pelan, “Hari ini semuanya akan terpenuhi, ataupun tidak,” kata Catherine.


“Itu semua tergantung padamu.” sambungnya.


Indi menangkap tatapan Catherine, “Gadis hantu akan menjadi hantu, peperangan antar darah ungu akan terjadi, dan seorang gadis akan menjadi penentu kemenangan. Namun hati yang beku, akan menjadi tembok penghalang,” ucapnya dengan nada memastikan, diikuti anggukan yang bersamaan dari Catherine dan Jeannet.


“Kalian benar\-benar meremehkanku!” sahut Rico, dengan bilah pedangnya yang kini siap menebas Catherine.


Dalam sekejap, Rico terhempas dan tersandar dengan keras pada sebuah pohon. Tampak tangan kanan Indi terangkat, dan dihadapkannya pada Rico. Perlahan ia merasakan kalau tenaganya kembali. Seluruh badannya gemetar, namun Ia memaksakan tubuhnya untuk berdiri.


“Cih, sepertinya seseorang telah kembali. Tidak masalah, karena sebentar lagi kalian akan segera masuk dalam rencana besar kami. Dan ramalan itu, ramalan itu hanya realita yang nantinya berujung pada hal fana,” kata Rico, yang kini menyeka cairan kental yang menetes dari hidungnya.


Di kaki langit matahari mulai menggoreskan semburat jingganya. Ribuan helai daun pinus beterbangan dibawa angin lembut sore. Di balik sorot cahaya, Rico tersenyum lalu mulai berdiri, yang membuat Indi dan Catherine bersiaga.


“Akan kubuktikan pada kalian disini, kalau takdir bukan akhir dari kehidupan!” seru Rico.


Lelaki itu dengan cepat berlari ke arah Catherine. KLING! Bunyi dentingan terdengar jelas. Dia sangat cepat, batin Indi. Setiap gerakannya sama sekali tak bisa ditangkap oleh kedua mata Indi.

__ADS_1


“Tenang saja Indi, aku akan membunuh kalian dengan cepat, sehingga rasa sakitnya tak akan kau rasakan!” jelas Rico, dengan bilah dingin pedangnya, yang kini sudah berada tepat di leher Indi.



***GULP***! Indi menelan ludahnya. Sejak kapan? Batin Indi.



“Lepaskan Indi, dasar penggoda genit!” teriak Jeannet, sambil berlari ke arah Indi, dengan mengatup\-ngatupkan mulutnya, tampaknya ia begitu siap untuk kembali menancapkan gigi\-giginya yang tak lengkap.



***SWUSH***! Rico melompat di atas udara, lalu mengibas pedangnya pada hantu cilik itu.



“Jeannet!” teriak Indi.


Perlahan Indi dengan jelas melihat, entitas kehadiran Jeannet yang terpotong lalu mulai mengabur, sama seperti uap yang ditebas. Indi mengepalkan kedua tangannya. Emosi mulai menguasainya.


“Apa yang kau lakukan pada Jeannet?” geram Indi.


“Cate!” seru Indi.



“Sebaiknya kau mengkhawatirkan dirimu sendiri,”


JLEB! Alirah darah mengalir dari mulut Indi. Di perutnya, bilah pedang tertancap dengan darah yang kini mengotori pedang itu. Wajah Rico, kini berada tepat di depan Indi. Raut polosnya kini dihiasi senyuman manis khasnya.


“Maafkan aku Indi, tapi sepertinya akhir hidupmu harus kuhentikan disini,” bisik Rico.



“Sama seperti yang kau lakukan pada ayahmu,” tukas Indi.


Perkataan Indi tampaknya berhasil memancing perhatian Rico. Lelaki itu lalu tertawa. Dengan lembut ia membelai wajah Indi.

__ADS_1


“Sepertinya kau sudah tahu semuanya ya. Mereka ternyata benar tentang kemampuan yang kau miliki. Tapi tak apa, hal itu tak perlu lagi menjadi rahasia, lagi pula sebentar lagi, semua hal itu akan hilang bersama dirimu. Selamat tinggal, Indi. Sampaikan salamku pada keluarga kecilku disana.”



\*\*


Pandangan Indi mulai buram. Rasa sakit yang ia rasakan benar-benar merasuki seluruh tubuhnya. Aliran darah segar masih terus mengalir dari selah-selah tusukan pedang. Apakah ini akhirnya, batin Indi.


Di detik-detik akhir hidupnya, Indi tersenyum, mengingat hidupnya akan segera berakhir dengan segala ketidak tahuannya tentang apa yang terjadi. Setidaknya di akhirat nanti aku dapat merasakan hidup yang normal, batin Indi. Penglihatan Indi mengabur.


“Selamat Tinggal Indi,” bisik Rico.



“Kau yang selamat tinggal!” ucap suara di belakang Rico.


Indi tidak bisa melihat dengan pasti apa yang sedang terjadi, namun detik berikutnya ia sempat menangkap Rico yang kini terjatuh dari hadapannya. Pandangan Indi lalu gelap.


Sekerjap cahaya perlahan jatuh di pelupuk mata Indi. Apa aku sudah mati? Batin Indi. Saat ini, Indi jelas tidak dapat menjelaskan dimana ia berada. Sebuah ruangan di istana? tebaknya. Melihat dari dindingnya yang disusun dari bata-bata besar berwarna abu-abu, sama seperti di film-film yang pernah Indi tonton.


Selain itu, lukisan-lukisan, serta kandil-kandil yang terbuat dari emas menggantung di setiap dinding. Setidaknya benda-benda itu menjadi penghias kekosongan ruangan itu. Sepertinya Indi memasuki alam baka yang salah. Satu-satunya pintu di ruangan itu lalu perlahan terbuka.


Tampak bayangan seseorang mendekati ambang pintu. Itu pasti malaikat penjemputku, pikir Indi. Perlahan Indi sedikit terkejut dengan yang dilihatnnya. Apa yang dilihatnnya tidak tampak sama sekali seperti malaikat. Malah lebih mirip seperti manusia biasa.


Seorang pria, yang menurut Indi berumur sekitar 20 tahunan. Tubuhnya tegap dan menonjolkan otot-ototnya yang tampak terlatih. Dadanya begitu bidang, untuk pria seusianya. Wajahnya tampan untuk tolak ukur Indi. Sama seperti wajah aktor tampan Hollywood. Garis wajahnya tegas. Kedua matanya berwarna biru sebiru langit.


Rambutnya berwarna kecoklatan, dan dibiarkannya berjatuhan di dahinya, dengan model belah tengah. Yang membuat Indi sedikit bingung, adalah pakaiannya, yang terlalu eksentris untuk tolak ukur malaikat, yang ada di ingatan Indi.


Pria itu mengenakan kemeja kuning berlengan pendek, bermotif bunga dengan ragam warna pink, merah, maupun ungu. Celananya, jeans bewarna biru yang tampak jadul. Sepatunya adalah sepatu bertali yang bewarna coklat gelap.


*Apa inilah malaikatku? Aku pasti melakukan banyak hal yang begitu baik di dunia, sehingga Tuhan mengirimkanku malaikat setampan ini*, batin Indi bahagia. Walaupun sesuatu di benakknya, tampak familiar dengan wajah pria itu.


Di belakang pria itu, tampak siluet bayangan yang juga mengikutinya. Bayangan itu lalu mulai tampak dengan jelas. Pria itu diikuti seorang wanita, yang dari wajahnya tampak seumuran dengan Indi.


Wanita itu mengenakan kaos putih, dan rok pendek merah berlipid, bermotif garis kotak-kotak coklat, yang menggantung hingga menutupi lututnya. Kedua telapak kakinya ditutupi sepatu kets berwarna merah maron, yang tampak serasi dengan roknya.


Tubuhnya ramping, dan termasuk sedikit kurus untuk gadis seusianya. Wajahnya tampak menampakan garis keturunan Tionghoa. Hanya saja kedua matanya tak terlalu sipit.

__ADS_1


Rambutnya teruntai jatuh tepat di bahunya. Senyumnya jelas mengingatkan Indi pada seseorang. Tidak. Tunggu dulu. Wanita itu. Dia adalah Ibunya.


\*\*


__ADS_2