
“Aku tak ingin kau kembali ke UCI. Kau bisa meneruskan perjalananmu, bersama mereka. Kau tahu sejak awal aku tak pernah ingin memanfaatkanmu. Aku hanya menuruti perintah dari Maddam Noella, sama seperti temanmu Fanny dan Catherine. Tapi, kau juga benar. Aku juga terlibat dalam membohongimu soal kematian ibumu. Dan aku minta maaf akan hal itu.”
“Bagaimana aku bisa percaya perkataanmu?” tanya Indi masih curiga.
“Ehm, kau bisa percaya perkataanku sama seperti perkataan Fanny padamu. Sepertinya dia sudah menceritakan padamu kalau semua yang kami lakukan adalah arahan dari Maddam Noella, iya kan?”
Indi hendak membantahnya, namun semua yang dikatakn gadis berambut putih itu benar. Sejak awal mereka hanya menuruti perintah dari Maddam Noella untuk membohonginya.
“Lalu bagaimana dengan kejadian malam itu. Kau dan Riko hendak menangkapku. Kau juga hendak mencelakakan Liona! Kau tak usah berpura-pura baik padaku, dan segera pergi dari sini.”
Lisa terkekeh. “Sepertinya perjalanan panjang merubahmu menjadi Indi yang sentimental bukan begitu?” Dia menghela nafas, “Aku mengerti, aku juga tak bisa berlama-lama disini. Tapi aku ingin kau tahu satu hal. Malam itu permainan kita disabotase. Bukan oleh orang-orang UCI. Salah seorang anggota The Sanctus berhasil menerobos masuk ke UCI sebagai mata-mata. Keberadaannya menjadi misi utama bagi Rico. Di loteng kami hendak menanyakan beberapa pertanyaan terkait orang itu. Karena aku sempat membaca pikiranmu. Kau pernah berjumpa dengan orang itu. Dan malam itu, aku dan Rico terpaksa harus bertarung dengannya setelah ia membakar gedung utama UCI. Aku tak usah memberitahukanmu siapa dia kan? Sepertinya kau lebih dekat dengannya sekarang.”
Gadis berambut putih itu lalu berdiri. Ia menatap Indi lembut. Setiap kali Lisa menatapnya, selalu berhasil membuat Indi merasa kikuk dan payah. Tapi kala ini, ia berkonsentrasi agar gadis itu tak bisa membaca pikirannya.
__ADS_1
“Aku tak perlu memercayaimu.” Kata Indi tampak ragu.
“Ya, kau benar. Itu menjadi keputusanmu. Aku tak memiliki hak untuk membuatmu percaya. Tapi tentunya aku tidak akan menjadi seorang cerebellum tanpa alasan yang logis kan? Kau bisa membuktikan perkataanku. Setelah kau tiba di negara tujuan kalian, pergilah ke tempat ini,” Lisa memberikan secarik kertas.
“Jika kau memang tidak percaya denganku, setidaknya biarkan aku membuktikan bahwa aku tidak berbohong.” Kata Lisa.
“Indi! Indi!” suara Jeannet tampak menyadarkan Indi.
Ia membuka kedua matanya. Cahaya langit tampak memancarkan semburat jingga. Apa yang terjadi dengannya? Apa semua yang barusan ia lihat adalah mimpi?
Jeannet memutar kedua bola matanya. “Kau tertidur selama tiga jam! Aku bahkan sempat bergosip ria dengan para peri bunga di ladang,”
Indi mencoba mengingat apa yang terjadi. Keberadaan Lisa tampak benar-benar nyata.
__ADS_1
“Selama aku tertidur, apa ada orang lain yang ada disini?”
Jeannet mengangkat satu alisnya tampak bingung, “Apa maksudmu? Jangan-jangan kau bermimpi sesuatu dalam tidurmu? Ceritakanlah!” kata Jeannet penasaran.
Indi hendak bercerita ketika ia mendengar suara kepakan sayap raksasa. Fanny dan Liona tampaknya telah selesai melakukan urusan mereka. Bahkan di punggung Vega Indi melihat empat pelana berwarna coklat lengkap dengan sabuk pengaman. Bahkan dari mulut Vega tampak tali kekang yang terhubung dengan pelana depan. Makhluk itu benar-benar tampak seperti kuda ketimbang naga.
“Maaf kami terlalu lama. Vega sempat kehilangan kendali ketika kami hendak memasang tali kekang padanya.” Kata Fanny yang sudah turun dari punggung naga itu.
Liona lalu turun tampak membawa beberapa buah-buahan yang di dalam sebuah tas belanja. Indi menatap gadis itu berjalan. Liona melemparkan senyuman hangat pada Indi, yang membuat dirinya ragu dengan yang terjadi.
Mungkin yang dilihatnya tadi hanyalah mimpinya. Lisa tak benar-benar berada disini. Indi hanya merasa lelah perjalanan kemudian ia bermimpi bertemu dengan gadis itu.
“Kau baik-baik saja Indi?” tanya Liona.
__ADS_1
Indi memaksa wajahnya untuk tersenyum, “Ya, aku baik-baik saja.”