Indi Go!

Indi Go!
Chapter 12: Episode 49


__ADS_3

CHAPTER 12


Jeannet si Hantu Nakal


Mereka terbang dengan lingkar cambuk pada pinggang Vega, yang terhubung langsung dengan Garuda. Aku pasti sedang berada dalam pengaruh narkoba batin Indi.


Mereka terbang dengan kecepatan yang tak dapat diukur Indi. Anehnya Indi tak merasakan sedikitpun belaian angin. Ia mungkin belum belajar banyak tentang mahkluk-mahkluk alam negerinya, tapi sepertinya ini semua berkat si Garuda. Setidaknya Indi tak lagi merasakan mabuk naga dalam perjalanan ini.


Di bawah mereka, tampak wilayah kota yang dipenuhi dengan cahaya, yang tampak seperti kunang-kunang sedang terbang dengan cepat. Bulan mulai tampak di langit, dan Indi masih belum memikirkan apa yang selanjutnya akan ia lakukan.


Ia berhasil menipu Garuda untuk perjalanan menuju kota. Namun untuk turun ke kota sepertinya ia butuh rencana yang lebih banyak bumbu drama.


Indi menoleh pada Jeannet yang tampak begitu tenang belakangan ini. “Oke, apa kau sudah memiliki rencana?”



“Rencana,” kata Jeannet sambil menelan ludah \(Entah ia memiliki ludah atau tidak\), ia tampak begitu berbeda dengan Jeannet yang selama ini dikenal Indi.



“Apa kau baik\-baik saja Jeannet?”



“Baik,” katanya. “Aku hanya sedikit takut dengan segala kemungkinan yang mungkin menunggu kita,”



Indi menghela nafas dalam. Ia sadar bahwa mungkin keputusan yang ia ambil salah. Indi tidak memiliki senjata apapun yang dibawanya. Saat ini ia hanyalah seorang remaja perempuan, yang tengah mengenakan kaos abu\-abu “Souvenir Langka” yang “agak gosong”, dengan berbekal kemampuan “Indigo” yang bahkan sampai sekarang tidak tahu digunakannya.

__ADS_1



Indi meletakkan tangan di bahu Jeannet. “Tenanglah, setidaknya kita melalui ini bersama, sebagai teman. Benarkan?” kata Indi sambil tersenyum, berusaha menyemangati Jeannet.


Jeannet menatap Indi. Matanya mulai berair. Mulutnya gemetar. Ia menghela nafas panjang (Ia tampak seperti menghela nafas, meskipun tak ada yang dihirupnya) lalu tersenyum, “Kau betul. Kita sudah sampai sejauh ini. Kita pasti bisa menemui ibumu dan menyelesaikan semua hal bodoh ini.”


Indi memandang Jeannet, dan merasa sangat bersyukur. Baru saja beberapa jam yang lalu ia berniat untuk mendorongnya dari atas naga, tetapi sekarang ia menjadi satu\-satunya teman yang benar\-benar ada di sisinya, yang kembali membuatnya teringat pada Fanny.



“Kau tau, sebenarnya aku sudah memikirkan ini dari tadi,” kata Jeannet.



“Apa itu?”



***


Dari atas Indi dapat melihat kelap\-kelip lampu kota tempatnya tinggal. Meskipun baru beberapa minggu, tapi Indi merasa telah meninggalkan kota itu begitu lama. Berkat bantuan Garuda mereka bahkan tak perlu waktu lebih lama untuk sampai \(walau tengah malam\). Indi menarik nafas dalam. Sekarang waktunya memainkan rencana batinnya.



“Kita sudah tiba di kota yang kau maksud,” kata Garuda.


Jeannet mengangguk, tampak mengisyaratkan sesuatu pada Indi.


“Ya kau benar! Kota inilah jalur pertandingannya,” kata Indi percaya diri (Dengan kebohongannya).

__ADS_1


Garuda memerhatikan sekeliling kota itu dari atas. Walaupun sudah terbang dengan kecepatan penuh berjam-jam, mahkluk itu tak terlihat terengah-engah sedikitpun. Hal itu membuat Indi menjadi sedikit gugup dengan rencananya.


“Lantas dimana peserta yang lainnya? Tidak kah harus ada panitia yang menjaga tiap lintasan? Bahkan penonton pun tak ada sama sekali,” kata Garuda mulai curiga.



“Tidak. Semua hal ini sudah sangat benar. Sepertinya sudah terlalu lama sejak kau mengikuti pertandingan,”


Garuda mengangguk, “Ya, terakhir kali, sejak pandemic virus itu berakhir. Aku bertanding bersama mahkluk-mahkluk terbaik antar negara,”


“Aku mengerti. Pantas saja kau tak mengerti system pertandingan ini,” kata Indi, nada bicaranya mulai meyakinkan. “Pertandingan kali ini diadakan secara tertutup. Penjurian yang berlangsung juga hanya dilakukan pada garis akhir. Selama pertandingan berlangsung setiap peserta diperbolehkan untuk saling memperlambat dengan cara apapun. Hal itulah yang terjadi pada kami. Dan, kami begitu bersyukur karena kau datang. Saat itu kami sudah benar\-benar tak mampu lagi untuk melanjutkan pertandingan. Di saat itu juga kau datang bagi kami. Kaulah pahlawan kami,”


Sang Garuda jelas tidak mengerti sama sekali. Tapi mendengar pujian yang terlontar membuatnya sedikit membusungkan dada. “Aku mengerti. Itu berarti aku menyelamatkan kalian dari kekalahan? Dan akulah yang akan menjadi sosok yang menggantikan kalian di pertandingan ini?”


Indi mengangguk riang. “Kami akan sangat terbantu atas pertolonganmu. Selain itu kau juga dapat membawa harum negaramu sebagai perwakilan terbaik,” sambung Indi yang membuat Garuda semakin besar kepala.


“Kau benar. Akulah harapan negaraku. Tidak ada waktu lagi, aku harus segera menyusul peserta lainnya. Gadis kerdil, dimana jalur berikutnya dari pertandingan ini? Setelah semua ini berakhir aku akan kembali sebagai pelindung negara ini!” kata Garuda bangga.



“Itu mudah, kau hanya perlu terbang terus ke utara, hingga kau menemukan pulau berikutnya. Dari sana kau akan menemukan peserta lainnya yang mungkin saat ini sedang beristirahat.”



“Baiklah, aku akan pergi. Terima kasih atas kesempatan ini. Kau gadis kerdil yang baik.”


Mahkluk bersayap itu lalu melepaskan cambuknya dari pinggang Vega. Mengepak-ngepakkan sayap burungnya, lalu melesat begitu kencang, yang membuat Vega terhempas beberapa meter.


Satu masalah beres, batin Indi.

__ADS_1


***


__ADS_2