
Di balik meja kasir, seorang pria “raksasa” dengan wajah yang terlalu menyeramkan untuk seorang kasir berdiri, lalu tersenyum pada mereka. Pria itu mengenakan topi denim berwarna hitam dan kaos hitam, yang bertuliskan AKU “SENANG” BEKERJA DISINI, yang membuat bulu kuduk Indi merinding.
“Ku harap dia memiliki makanan,” bisik Fanny.
Indi maju ke meja kasir, tetapi juga menjaga jarak sejauh satu meter dari pria itu. Terlalu banyak menonton film membuatnya menjadi paranoid terhadap pria asing yang ada di depannya.
Ia menghela napas, dan mencoba memikirkan alasan yang tepat mengapa tiga orang gadis yang penuh dengan luka, berada di toko yang menjual barang yang aneh sebagai souvenir, di malam hari.
“Ada yang bisa kubantu? Kenapa bisa anak gadis seperti kalian berada jauh dari perkotaan, di malam hari?” tanya pria itu dengan suara yang berat dan aksen bahasa yang tak pernah didengar Indi sebelumnya.
“Eh… kami hendak melakukan perjalanan, ke desa eh..” Indi mulai berkata.
“Ya tapi dalam perjalanan, mobil kami mengalami kecelakaan,” sambung Fanny.
“Kecelakaan?” kata pria itu, “Benarkah?”
“Ya, ban mobil kami meledak, sehingga membuat kemudi oleng dan hilang kendali. Mobil kami lalu melesat menuju hutan, dan menabrak sebuah pohon. Hal itu membuat kami harus turun dari sana. Belum lagi ponsel kami menjadi rusak karenanya dan kami terluka, kami terus berjalan untuk mencari pertolongan hingga menemukan tempat ini.” Jelas Liona dengan lantang. Jelas kalau gadis ini terlalu sering menonton film drama.
“Oh, gadis\-gadis yang malang,” kata pria itu lagi\-lagi dengan aksen anehnya. “Kalian datang di tempat yang tepat, kalian dapat beristirahat dan merawat luka\-luka kalian disini. Ada tempat bagi kalian untuk tidur di bagian belakang toko. Istirahatlah disana, aku akan mencarikan sesuatu untuk kalian makan.”
Wow, Indi tak percaya dengan apa yang didengarnya, tapi sepertinya pria itu juga pecinta drama, karena mudah percaya dengan alas an yang dibuat Liona. Setidaknya mereka tak harus tidur di hutan, dan yang paling penting, mendapatkan makanan secara gratis.
“Sudah kubilang kan, peri baik terhadap manusia.” Kata Indi bangga.
Mereka lalu mengucapkan terima kasih, dan masuk ke dalam. Di bagian belakang toko juga dipenuhi oleh souvenir-souvenir aneh itu. Ada tulang dari seekor kuda, yang kepalanya tampak bolong, ada bingkai yang diisi penuh oleh bunga-bunga indah yang tak pernah Indi lihat sebelumnya. Indi berpikir, orang macam apa yang menjual benda-benda aneh tersebut sebagai souvenir kenang-kenangan.
Mereka bertiga masuk menuju ruangan kamar, di belakang toko. Ruangan itu tampak normal ketimbang toko diluar mereka. Fanny dan Liona langsung berbaring ketika melihat kasur.
Kamar itu hanya memiliki satu kasur. Di dinding kamar terdapat sebuah gambar dari pemilik toko, dan sebuah bingkai yang memajang beberapa kunang-kunang yang sudah diawetkan.
Indi tampak penasaran dengan pajangan itu. Tak seperti kunang-kunan pada umumnya yang ukurannya begitu kecil. Kunang-kunang yang dipajang di bingkai itu, memiliki ukuran yang tampak lebih besar. Indi hendak mengambil pajangan itu dari dinding, namun hal itu dihentikan oleh suara ketukan pintu.
__ADS_1
“Hei, aku tengah menyiapkan makanan untuk kalian. Setelah beristirahat kalian dapat pergi ke dapur, kalian hanya perlu berjalan lurus ke kanan dari ruangan ini.” Kata Pria itu dari balik pintu, dengan sesimpul senyum yang begitu menyeramkan bagi Indi.
“Terima kasih.” Balas Indi.
Beberapa menit berselang, ketiga gadis itu menuju ke dapur. Dan benar saja, terdapat sebuah meja makan bundar, kulkas, dan pria raksasa itu yang tengah memasak sesuatu. Bau dari masakannya benar-benar membuat mereka semakin lapar.
Melihat ketiga gadis itu, pria itu lalu menaruh makanan yang baru saja selesai dimasaknya di atas meja.
“Ayo duduk,” katanya.
“Eh, apa tidak apa\-apa? Kami benar\-benar merepotkanmu.” Kata Fanny berbasa basi.
“Tentu saja. Aku sering menolong orang\-orang seperti kalian.” Jelas pria itu.
Di atas meja terhidang, roti isi daging, steak, dan juga coklat panas. Lengkap dengan kentang goring dengan porsi besar. Tanpa aba-aba ketiga gadis itu melahap makanan di depan mereka. Indi bahkan sempat lupa caranya untuk bernafas selama makan.
“Apa kau sendiri disini?” tanya Liona.
Ia tidak makan apa-apa. Anehnya, sedari tadi, pria itu tampak enggan untuk melepaskan topinya. Mungkin adat di negara ini berbeda batin Indi. Tapi jika pria ini berada di rumahnya, memakai topi saat makan tentu akan dianggap tidak sopan.
“Jadi, souvenir apa saja yang kau jual? Karena aku mendapati beberapa hal aneh yang terpajang,” tanya Indi dengan nada yang berusaha membuat pria itu tak tersinggung.
“Ehm, kebanyakan yang kujual adalah serangga, terkadang juga bunga, dan beberapa hewan liar,”
“Apakah bisnis seperti ini cukup laris?”
Pria itu tertawa, “Tentu saja. Aku mendapatkan banyak penghasilan di awal aku membangun bisnis ini. Berbagai orang dari penjuru negara memesan souvenir-souvenir yang kubuat, dan mereka memebelinya dengan harga yang mahal,” jelas pria itu tampak bangga.
“Sayangnya, belakangan ini usahaku mengalami kemunduran. Sudah jarang kutemukan serangga maupun hewan liar di kawasan ini. Hal ini membuatku hampir mengalami bangkrut.” Sambungnya dengan wajahnya sedih \(yang tetap mengerikan\).
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Indi ikut bersedih. Walaupun wajah dari pria itu tampak mengerikan, tapi sepertinya ia memiliki hati yang baik.
“Lalu apa yang kau lakukan dengan bisnismu saat ini?” Tanya Fanny yang juga tampak iba.
Pria itu lalu menatap Indi, “Tenang saja, saat ini aku sedang memulai bisnis baru. Meskipun tak seperti yang dulu, tapi bisnis yang sekarang cukup membawa keuntungan yang besar. Khususnya pesanan pada hari ini.” Jelasnya.
Indi tak tahu bisnis apa yang dia maksud, tapi ia turut senang untuk pria itu, “Aku ikut bahagia,” kata Indi.
“Terima kasih. Lagipula aku tak akan bisa melakukannya tanpa kalian.”
“Ehm, Indi” Fanny menyenggol Indi sambil berbisik. “Perasaanku tak enak. Ada yang aneh dengan pria itu,” katanya tegang.
“Apa maksudmu? Ia jelas hendak menolong kita kan? Lagipula para peri yang mengantar kita kesini, dan mereka tak mungkin berniat jahat pada kita,”
“Sejak kita masuk disini, aku berusaha semampuku untuk membaca pikirannya. Namun tak bisa,” kata Fanny.
“Kau mungkin hanya kelelahan, karena itu kau tak bisa membaca pikirannya. Ingat Fanny, sudah terlalu larut bagi kita untuk meneruskan perjalanan, dan jarak menuju ke kota masih cukup jauh,” Indi berusaha meyakinkan.
Tempat itu memang tampak aneh, tapi Indi tak ingin pergi. Ia tak menaruh kecurigaan apapun pada pria itu, setelah semua kebaikan yang dia lakukan pada mereka.
“Ehm, kau tahu, Indi mengalami hal aneh sebelum kemari,” kata Fanny mencoba menarik perhatian pria itu.
“Apa itu?” Tanya pria itu.
“Ia melihat peri, dan mereka yang menuntun kita menuju kemari.”
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat ekspresi pria itu sedikit berubah, terkejut sepertinya, tapi kemudian kembali seperti semula, “Ya, beberapa orang yang berkunjung ke daerah ini memang sering melihat hal-hal aneh, peri contohnya.” Jelas pria itu yang membuat Liona berhenti mengunyah roti lapisnya.