
\* **Announcement \*
Hi Guys! Sebelumnya author minta maaf kalau updatenya lama. Dikarenakan akhir-akhir ini, author disibukkan dengan berbagai hal. Tapi tenang aja, author akan selalu menyempatkan menulis untuk para pembaca setia Indi Go! Terima kasih buat yang selalu setia membaca dan menunggu. Support kalian selalu menjadi penyemangat author untuk terus menulis Indi Go!
.
.
lewat ini juga author minta maaf karena part ini terlalu pendek, but tenang aja, author kasi bonus lain hasil dari hobi author. Happy Reading! GBu ✨**
\*\*
Suara tapak kaki seseorang, terdengar jelas pada daun-daun pinus yang mengering. Di tengah langit yang kian lama kian gelap, Indi dapat melihat bayangan sosok berjubah hitam, sedang mendekati mereka.
“Kalian tak perlu kemana\-mana lagi. Lebih tepatnya, kalian tak bisa lagi kemana\-mana,” ucap suara itu.
Suara perempuan yang cukup berat untuk suara seorang wanita. Namun, walaupun hanya beberapa kali. Indi masih jelas mengingat suara itu. Di balik jubah itu, tampilan gothicnya masih melekat dengan kuat pada wajahnya.
“Ma\-Ma\-Maddam,” ucap Jeannet terbata.
Rautnya jelas begitu ketakutan melihat wanita yang ada di depannya. Kedua matanya mulai berair, bibirnya gemetar, begitu pula dengan tubuhnya. Pipi pucatnya kini mulai dibasahi oleh air mata. Ia mulai menangis, dan merintih.
“Aku, aku hantu baik, aku hantu baik, aku hantu baik,” gumam Jeannet.
Indi teringat dengan kejadian yang sama yang pernah terjadi pada Jeannet. Hari itu, ia melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan saat ini. Melihat hal itu, Indi segera merangkul hantu cilik itu. Tubuhnya menjadi lebih dingin. Indi menatap wanita di depannya. Maddam Noella.
“Apa yang kau lakukan pada Jeannet?”
Senyum tersimpul dari wajah chubby wanita itu. Lipstik hitam keunguan miliknya, jelas menambah tampang aneh pada wajahnya.
__ADS_1
“Kenapa kau harus khawatir pada hantu itu, ia telah gagal sebagai seorang hantu UCI,” jelasnya dengan senyum sinisnya.
Indi mengepalkan tangannya. Ia jelas ingin sekali melayangkan pukulannya pada wanita bertubuh gempal itu. Mengingat semua kebohongan yang pernah dipercayainya. Mengingat perjalanan panjang yang harus dilaluinya. Mengingat apa yang terjadi pada ayahnya. Dialah dalang dari segala hal itu.
“Dasar pembohong. Aku pasti akan membuatmu menyesali semua perbuatanmu,” ucap Indi.
Tawa Noella lalu pecah, “Kau sangat lucu gadis kecil, mengingat apa yang akan terjadi padamu,” kata Noella.
“Apa sebenarnya rencanamu? Apa yang kau mau dariku?”
Senyum mengerikan Noella semakin melebar. Sorot matanya berubah tajam, menatap Indi lebih lekat.
“Hidupmu. Aku menginginkan hidupmu,” kata Noella pelan.
Perkataan itu jelas membuat jantung Indi berdegub lebih cepat. Tidak, bukan perkataannya yang menyebabkan hal itu. Tetapi aura yang dirasakan Indi dari wanita itu. Gelap dan begitu dingin.
“Aku hantu yang baik, aku hantu yang baik, aku hantu yang baik, aku anak baik, aku anak baik,” Jeannet kembali mengucapkan kata\-kata itu.
“Aku gadis baik?”
“Hentikan semua itu!” teriak Indi pada Noella.
Ia paham betul kalau semua hal yang terjadi pada Jeannet saat ini, pasti berkaitan langsung dengan perbuatan Noella. Indi mengangkat tangan kanannya, mengarahkannya pada Noella lalu berkonsentrasi.
SWUSH! Hembusan energi yang dahsyat membuat daun-daun pinus beterbangan. Indi dapat merasakan kalau ia mengeluarkan energi yang tidak sedikit, namun ia masih dapat mengontrolnya.
Hembusan itu sangat kuat, bahkan membuat beberapa pohon pinus bergoyang. Hanya saja, di depan Indi, Noella tampak begitu tenang. Ia sama sekali tidak bergeming dengan apa yang baru saja dilakukan Indi. Bahkan jubahnya pun sama sekali tidak bergerak.
__ADS_1
Raut Indi berubah penuh dengan keherenan. Ada dua hal yang membuatnya terheran-heran. Pertama, bagaimana bisa ia melakukan hal yang baru saja ia lakukan, tanpa merasakan apapun sama sekali. Kedua, bagaimana mungkin dengan apa yang baru saja ia lakukan, Noella sama sekali tidak bergeming.
Bagaimana mungkin ia sama sekali tidak terpengaruh? Batin Indi.
Di depannya, Noella menyingkapkan jubah yang menutupi kepalanya. Wajahnya menyimpulkan senyuman lebarnya. Matanya memicing mengikuti garis senyuman.
“Kau masih terlalu cepat seratus tahun untuk dapat mengalahkanku. Bersiaplah untuk menjadi boneka spesialku.”
\*\*
**Bonus:
Berikut adalah gambar beberapa karakter original yang dibuat langsung oleh author, yang mungkin bisa kalian jadikan wallpaper ataupun souvenir dari novel ini :v
selamat menikmati.
**
**
__ADS_1
**