Indi Go!

Indi Go!
Chapter 10: Episode 43


__ADS_3

Dibaca sampai habis ya, ada bonus diakhir halaman 😉


CHAPTER 10


Liona


Indi tengah tertidur diatas langit ketika Jeannet mengguncang tubuhnya. “Indi bangun! Kita akan mati! Maksudku kalian akan mati! Soalnya aku sudah mati!” katanya sambil berteriak.


Di depan mereka awan hitam pekat tampak mendekat dengan cepat. Angin kencang mulai bertiup. Hal itu membuat Vega kesusahan untuk terbang. Di depan Fanny tampak kesulitan untuk mengendalikan Vega.


“Apa yang terjadi?” tanya Indi.


“Kami sama sekali tak tahu? Beberapa menit yang lalu langit masih begitu cerah, lalu tiba-tiba saja awan gelap dan angin kencang berhembus!” kata Jeannet.


“Kita harus segera turun!” kata Indi pada Fanny.


Rasa mabuk dan mualnya yang dari tadi ditahannya tiba-tiba lenyap begitu saja.


“Sedang kuusahakan dari tadi putri tidur!” teriak Fanny dari balik kemudi.


Satu per satu titik air lalu mulai turun dengan cepat. Vega mulai kehilangan keseimbangan. Sambaran petir lalu muncul dan mengenai sayap kiri Vega. Makhluk itu kehilangan keseimbangan dan mulai jatuh dengan cepat.


“Argh!!!”  Teriak para gadis dengan kompak.


Mereka jatuh semakin cepat ke tanah. “Lakukan sesuatu!” teriak Indi.


“Apa? Mengeluarkan api di tengah hujan?” balas Fanny yang masih sempat sarkatik di kondisi mereka yang kritis.


Di bawah Indi bisa melihat dengan jelas bahwa mereka akan menabrak sesuatu. Sebuah rumah? Tidak, bangunan itu lebih besar. Aku tak ingin mati, aku tak ingin mati, aku tak ingin mati! Batin Indi. Mereka sudah satu meter akan menabrak bangunan itu ketika naga itu tiba-tiba melayang.


Indi perlahan membuka matanya. Aku pasti sudah mati batinnya. Namun tidak. Mereka melayang tepat satu meter di atas bangunan itu. Indi tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Namun kepalanya terasa begitu geli. Dan entah mengapa ia merasa lunglai.


“Kau benar-benar hebat Indi,” kata Liona gugup.

__ADS_1


“Kau menyelamatkan kami.” Sahut Fanny.


“Yeayy Indi! Hampir saja kalian semua menjadi sama sepertiku.” Sambung Jeannet terkekeh.


“Oke, sudah cukup pujiannya. Kita masih mengambang di atas sini, dan kepalaku benar-benar terasa pusing dan geli. Bisakah salah satu dari kalian memberitahu bagaimana cara aku bisa memindahkan kita agar tidak menghantam rumah dibawah?” kata Indi tegang.


Fanny merapalkan sesuatu, lalu sayap kanan Vega bergerak dan membuat mereka menyingkir dari rumah itu. BUK!. Seekor naga, tiga gadis manusia dan satu gadis hantu jatuh tepat di depan suatu rumah besar, di tengah hujan deras. Indi terlalu mual untuk mencerna semua yang terjadi. Tapi tampaknya hanya ada rumah itu di tempat itu, dan Vega saat ini tak dapat terbang.


“Tidak ada pilihan lain? Sama seperti biasanya?” kata Fanny.


Indi mengangguk. Naga itu tampak kesakitan dan gemetaran. Kadang Indi merasa iba dengan naga itu. Ia harus bergerak tanpa mengikuti kehendak dan maunya.


“Bagaimana dengan Vega? Bagaimana caranya kita menyembuhkannya? Berapa lama baginya untuk pulih dengan luka yang ia dapat?” tanya Indi tampak panik.


“Aku sudah memikirkan semuanya sebelum semua keluhan dan pertanyaanmu itu. Saat di dimensi makhluk alam aku sudah meminta beberapa tanaman obat dari para peri dan roh alam. Kalau perkataan mereka benar maka hanya perlu waktu semalam untuk pemulihan Vega, hanya saja kemungkinan aku harus menggunakan semua tanaman obat yang dibawa.” Jelas Fanny.


Indi menghembuskan nafas lega,


“Tidak masalah, yang penting kita sudah ada di negara tujuan kan?”


Angin berhembus semakin kencang. Hujan semakin deras, kali ini diiringi oleh gemuruh dan kilat.


“Kita harus segera masuk!” kata Indi.


“Bagaimana dengan Vega? Kalian punya mata yang masih berfungsi kan? Makhluk itu terlalu besar untuk dibawa masuk ke dalam,” Kata Liona.


“Kalian masuk saja! Aku akan tetap disini menjaganya. Lagipula aku ini hantu. Aku tidak akan sakit, kehujanan, dan memerlukan kehangatan sama seperti kalian manusia lemah.” Sambungnya.


Hi penikmat Indi Go! Tidak terasa Indi Go! Sudah masuk chapter 10 🍾✨👏


Penulis tidak akan bisa sampai sejauh ini tanpa dukungan dan motivasi dari pembaca sekalian yang Budiman. Kedepannya, penulis tetap meminta kesetiaan teman-teman untuk membaca, memberikan vote, berkomentar, dan membagikan cerita Indi Go! Ke teman-teman lain ya! Di Chapter 10 ini, ada surprise untuk para pembaca Indi Go! Apa itu ya?...


Yaps, gambar para karakter Indi Go! Yang digambar langsung oleh penulis :3 Maaf kalau tidak sesuai imajinasi teman-teman ya. Dilarang memperbanyak maupun membagikan gambar tanpa seizin penulis ya.

__ADS_1


Langsung aja guys, dinikmati gambarnya


1.) Indi si pemeran utama. Siswi SMA yang hobi nya kesurupan. Remaja yang benar-benar labil dengan hati dan pikirannya.



Jeannet. Si hantu cilik ompong nan cerewet. Selalu bisa membuat orang lain marah dengan cepat ataupun senyum dengan cepat.



3.) Liona. Si remaja berbadan mungil ini sering dikira anak berusia 10 tahun lho. Wkwkwk enak ya punya wajah baby face.



4.) Fanny. Si gadis keturunan Jepang yang sangat populer di kalangan hantu ( khususnya hantu di UCI)



5.) Catherine. Gadis hitam manis yang hobinya memanah para fakboi :v



6.) Lisa. Tipikal cewek yang terlalu susah untuk didapatkan :v. Paling anti dengan fakboi :v



7.) Rico. Tipikal sweet boy yang bisa bikin cewek-cewek jatuh hati dan kena kolesterol :v



Okey, sekian hadiah dan wajah-wajah dari karakter Indi Go! Buat kalian yang masih mau lihat karakter lainnya, silahkan komen ya. Gambar karakter lainnya akan diupload di Instagram penulis


@ian_katili

__ADS_1


Terima kasih semuanya!


__ADS_2