Indi Go!

Indi Go!
Episode 57


__ADS_3

***


“Ketahuilah, aku tak memiliki dendam pribadi padamu. Tetapi demi kebaikan yang lainnya,” kata Lisa, kali ini terdengar sedikit keresahan dalam suaranya.



“Tidak ada namanya kebaikan selagi kau mengorbankan yang lain. Dan sepertinya kau tidak pandai dalam hal itu,” kata Indi.


Mata biru Lisa lalu memandang Indi kesal, “Kau akan menyesali perkataanmu.”


Lisa menjentikkan jari. Sontak ayah Indi yang tadinya tak sadarkan diri tiba-tiba berdiri tegap. Matanya terbuka, namun pandangannya begitu kosong. Pikirannya dikendalikan.


Amarah Indi semakin menjadi melihat hal itu. Ayahnya lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Seutas tali.


“Lawan aku sendiri!” kata Indi tegas.


Lisa tersenyum, “Untuk seorang Indigo yang bakatnya hanya terus pergi dan melarikan diri, kau cukup berani rupanya. Ingatlah selama ini kau hanya bisa lari. Apa yang bisa kau lakukan?”


“Dari perjalananku aku sekarang sudah tahu, kalau lari bukanlah cara terbaik dalam menghadapi masalah. Dan ada apa denganmu Lisa? Kau takut denganku?” Indi jelas tak tahu bagaimana ia bisa berkata\-kata sepercaya diri itu.



“Aku tak mau melibatkan tenagaku untukmu. Aku hanya  membutuhkan otakku. Dan, aku merupakan lawan yang terlalu kuat untukmu.”


Detik berikutnya ayah Indi menyerangnya, secara impulsive Indi menghindar ke samping. Ia jelas tak ingin melukai ayahnya. Melihat Indi yang berhasil menghindar membuat ayahnya melempar tali dari tangannya untuk menangkap Indi.


Kali ini ia sengaja tak menghindar. Tali itu mengikat pergelangan tangan Indi. Ayahnya lalu menariknya, namun Indi menahannya.


Indi lalu berteriak, “Ayah berhenti!” perkataan Indi barusan langsung saja membuat ayahnya berhenti bergerak. Melihat hal itu membuat Lisa sedikit keheranan. Secepat kilat Indi memeluk ayahnya.


“Berhenti ayah, kau bukanlah bonekanya. Kau adalah ayahku,” Indi mencurahkan emosinya di setiap kata yang ia tuturkan.


Indi lalu merasakan sesuatu. Ayahnya, ayahnya membalas pelukannya. Kehangatan lalu menjalari tubuhnya.


“Ayah tahu, kau adalah satu-satunya anak ayah,” kata James yang kini telah benar-benar sadar.


Indi melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya. Itu ayahnya. Dia sudah kembali. Indi ingin melontarkan beribu pertanyaan padanya, ketika diingatnya bahwa urusannya belum berakhir.


Indi memalingkan pandangannya pada Lisa. Walau wajahnya begitu datar tapi Indi paham betul kalau ia terlihat murka.


“Kau tau, seharusnya aku berterima kasih padamu karena telah membuatku melewati perjalanan panjang. Karena kau tahu, aku akhirnya menyadari satu per satu kekuatanku, dan cara menggunakannya. Dan satu lagi, hanya orang lemah yang memakai orang lain untuk kemenangannya,”



“Hati\-hati dengan perkataanmu Indi. Aku baru saja memulai pemanasan,”


Indi menatap ayahnya, “Ayah aku tahu ini semua tampak aneh bagimu, tapi aku mohon agar kau bisa pergi dari tempat ini, sampai semuanya berakhir,”

__ADS_1


“Indi,” kata James, wajahnya jelas terlihat khawatir. Kedua matanya tampak berkaca\-kaca. Ia lalu menghela nafas panjang, lalu menyimpulkan seutas senyum. Ia meletakkan tangannya di kedua pundak Indi.



“Aku ayahmu, aku hanya mau kau tahu ini. Kalau aku selalu menyayangimu.”


Indi merasakan kehangatan yang menjalar ke wajahnya, ia lalu berhasil tersenyum.


“Apa kau sudah selesai? Tidakkah kau belajar dari perjalananmu untuk tidak pernah berpaling dari lawanmu?” Lisa melangkah mendekati Indi. Ayah Indi kini sudah berada di luar rumah.



“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sudah bertempur sejak tujuh tahun. Seorang lawan pasti sudah tahu sejauh mana kekuatan lawannya.”


Indi sudah memikirkan hal itu. Ia belajar banyak hal dalam menggunakan kemampuannya selama perjalanan. Kali ini ia percaya diri dengan kemampuannya sebagai seorang Indigo.


Setidaknya kali ini ia tahu, bahwa ketidaknormalannya adalah sesuatu yang selama ini tetap membuatnya hidup, dan berguna suatu hari.


Ia ingat perkataan Catherine tentang para cerebellum: Suara atau bunyi dapat mengalahkan mereka. Satu lagi, jangan pernah melawan mereka dengan strategi, tetapi gunakanlah intuisi.


Sedetik kemudian Lisa tampak mengayunkan sesuatu, tapi insting Indi bergerak untuk menghindarinya. Tubuhnya tampak berpikir untuknya. Indi lalu merasakan sesuatu. Di lengannya kini muncul luka goresan.


Dia menggunakan pedang tak terlihat batin Indi. Mata Indi lalu menangkap sesuatu. Seutas tali. Pikiran Indi lalu berfokus pada tali itu. Tali itu lalu melayang dengan cepat dan berputar menuju Lisa. Tetapi, Lisa sama cepatnya.


“Kau benar\-benar berkembang,” kata Lisa.



Seperti tahu dengan gerakan Indi berikutnya. Lisa tampak mengarahkan salah satu tangannya ke arah meja kaca di depan sofa, lalu membuatnya melayang dan melaju menuju Indi, yang membuat Indi tampak benar-benar tersudut.


Indi memfokuskan semua Indranya. Ia bahkan kini bisa merasakan hembusan dan tarikan nafasnya. Meja itu lalu terhempas ke dinding tepat di belakang Lisa. Hal itu tampaknya membuat Lisa sedikit lengah.


Indi lalu kembali mengarahkan tali yang ada di belakang Lisa, tetapi Lisa sudah menebak gerakan itu. Dia mengangkat salah satu  jarinya lalu tali itu menjadi tercerai berai di lantai.


Ia lalu mengangkat salah satu tangannya, membuat Indi melayang satu meter di udara, lalu membantingnya ke dinding. Indi merasakan sakit di punggungnya. Ia mendengar bunyi mendesing di dalam kepalanya.


“Indi!” teriak James, yang kini sudah berlari menuju Lisa.



“Ayah jangan” erang Indi, yang kin penglihatannya mendua.


Sedetik kemudian Indi melihat ayahnya melayang lalu terbanting  di jendela depan. Dada Indi serasa baru dihantam balok besar. Aliran darahnya berpacu dengan cepat.


Indi berhasil berdiri. Ia tak bisa mengalihkan pandangan dari Lisa. Amarah terlihat jelas dari sudut mata Indi.


Dari luar rumah Indi mendengar, suara beberapa orang yang tampaknya sudah berkumpul di depan rumahnya.

__ADS_1



“Sepertinya telah terjadi sesuatu di rumah dokter!” seseorang berteriak.



“Kalian juga dengar yang barusan kan?” ucap yang lainnya.



“Aku tak ingin melakukan hal tadi, kalau kau bisa lebih bekerja sama,” kata Lisa. “Aku sudah tak ingin lagi melanjutkan hal ini kalau kau menyerah sekarang.”



Setiap Indra di tubuh Indi bergejolak. Ia merasakan tekanan yang lebih pada pikiran dan batinnya. Sekarang tampaknya ia benar\-benar memahami bagaimana cara kerja seorang cerebellum dalam membaca pikiran seseorang.


Indi benar-benar merasakan kalau ia sedang terjaga penuh,  memerhatikan setiap detail. Ia bisa melihat bagian tubuh Lisa yang menegang. Ia bisa tahu gerakan yang akan dia lakukan berikutnya.


Pada saat yang sama, ia sadar akan ayahnya yang berada beberapa meter di beranda rumah. Ia merasakan pembicaraan beberapa orang diluar rumah yang mulai berkerumun. Di antara kerumunan  beberapa diantaranya tampak tengah berusaha menghubungi polisi atau pun security kompleks.


Indi lalu berlari secepat mungkin ke halaman belakang rumah, tetapi Lisa bergerak cepat. Ujung pedang tak terlihatnya merobek lengan baju dan menggores lengan Indi. Indi mencoba mengatur nafasnya.



Dari luar rumah Indi mendengar suara security kompleks berteriak, “Apapun yang kalian lakukan keluarlah sekarang!”


Suara barusan tampaknya menarik perhatian Lisa. Ia menutup kedua matanya. Dia lalu menyapukan tangan dan membuat seluruh kerumunan orang yang ada di luar terjatuh.


“Sekarang kita bisa lebih serius.”



Lisa lalu maju dia membacok. Indi berhasil membaca gerakannya, dan menghindar. Hal itu membuatnya cukup dekat untuk menyerang, Indi lalu berhasil menyentuh Lisa. Walau akhirnya ia terdorong oleh telekinesis Lisa, dan membuatnya kembali terjatuh.



“Sekarang semuanya akan berakhir disini Indi. Aku akan membawamu kembali ke UCI. Percuma untuk melawan. Walaupun sekarang kau sudah menguasai salah satu kemampuan cerebellum tetapi kau masih jauh dari mengalahkanku,” kata Lisa yang kini berjalan mendekati Indi.


Indi menatap Lisa tampak putus asa. Lisa lalu mengangkat pedang tak terlihatnya, tampak hendak melakukan sesuatu. Tepat ketika Indi merasakan ujung pedang itu berada di keningnya, Lisa tampak tidak bergerak.


Indi mengatur nafasnya. Ia mencoba berdiri dengan kesusahan. Ia lalu menatap kedua mata Lisa, “Doll Viventem”  kata Indi.


***


Gimana Episode kali ini guys? Sengaja author bikin panjang agar pembaca puas dengan pertarungan Indi kali ini. Jangan lupa untuk vote, comment, dan share Episode ini dan cerita Indi Go! Ya, agar author bisa lebih semangat untuk menulis!


Thanks for reading!

__ADS_1


__ADS_2