
Detik berikutnya, Indi dapat merasakan keheningan. Sebuah kilasan peristiwa saat ini tengah berputar di depan kedua matanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Indi.
Di depannya, Indi dapat melihat sebuah rumah yang dibangun dari kayu, berdiri diantara rimbunnya pepohonan, yang Indi tak tahu namanya (Ia sering mengulang dalam mata pelajaran Biologi). Di depan halaman rumah itu, tampak seorang anak perempuan, yang menurut Indi berusia sebelas atau mungkin dua belas tahun, tengah bermain di bawah sebuah pohon, bersama sebuah boneka yang menurut Indi terlalu mengerikan untuk sebuah boneka, dan terlalu aneh untuk dimainkan anak seusianya.
Indi tak dapat melihat wajah anak itu dengan jelas dari tempatnya berdiri, namun ia tahu kalau penampilan anak itu juga cukup aneh untuk tolak ukur masa modern. Ia mengenakan baju terusan berwarna hitam, yang panjangnya hampir menyapu dedaunan setiap kali ia berjalan. Rambut hitam bergelombangnya dibiarkannya terurai menyentuh kedua bahunya. Melihat semua hal itu membuat Indi sedikit merinding, karena tempat itu mengingatkan Indi pada setiap scene di banyak film horror yang pernah ia tonton. Bagaimana tidak? Rumah kayu besar yang berada diantara pepohonan, dihuni oleh salah satu anak dengan pakaian serba hitam yang tampaknya senang dengan boneka yang tampaknya Peranakan dari Chucky dan Annabelle.
__ADS_1
Pintu rumah itu lalu terbuka, sosok wanita tua lalu keluar dari dalam rumah itu. Namun setidaknya Indi dapat bernafas lega. Karena walaupun tampak sudah berumur enam puluh tahun atau mungkin lebih, wanita tua itu tampak normal dan penuh kehangatan.
Ia mengenakan kemeja berlengan pendek model orang tua pada umumnya, berwarna merah muda yang tidak mencolok, ditemani dengan rok yang menutupi lututnya berwarna ungu yang juga tak mencolok. Rambutnya pendek hanya menutupi kedua telinganya namun tertata dengan rapi, dan masih berwarna hitam untuk tolak ukur wanita tua. Wanita itu tampak terlalu modern untuk gadis itu.
“Sayang sudah saatnya untuk masuk, sebentar lagi tamu kita akan datang,” teriak wanita tua itu dari depan pintu.
__ADS_1
“Kau benar Lorensia. Kita tidak harus melakukannya hari ini. Biarkan saja wanita tua itu menggerutu,” ucapnya yang tebak Indi pada boneka itu.
Oke, anak gadis itu jelas benar-benar sangat aneh dan sedikit menyeramkan, mengingat ia benar-benar berbicara pada sebuah boneka mengerikan. Anak itu lalu dengan sengaja menggerakkan kepala boneka itu, lalu tersenyum riang.
“Aku tahu. Orang itu tidak pantas untuk menerima pertolongan dari kita. Sebaiknya kita segera pergi dari sini,” ucap gadis aneh itu pada bonekanya atau mungkin dirinya sendiri kemudian beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
Penglihatan itu lalu mengabur, dan Indi tetap tak dapat beranjak dari tempatnya berdiri. Detik berikutnya yang Indi lihat adalah sebuah ruangan nan gelap, oke mungkin tidak seutuhnya gelap, hanya ada satu sumber penerangan di tempat itu. Sebuah lentera yang tampaknya sudah terlalu tua untuk masa itu. Meskipun Indi tau kalau apa yang dilihatnya berasal dari masa lalu. Dibalik remangnya cahaya ruangan itu, Indi dapat melihat siluet seorang gadis di pojok ruangan itu. Ia duduk dengan melingkarkan kedua tangannya pada lututnya. Dari tempatnya berdiri, Indi dapat dengan jelas mendengar suara isak tangisnya.
“Maafin Noella, Maafin Noella,” isaknya.