
Arthur menatap Inggrit kebingungan. Ia jelas tak mengerti dan tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Inggrit. Ia sadar kalau gadis yang ada di depannya saat ini sedang dirundung kesedihan, dan pikirannya pasti sedang sangat kacau.
Mengingat, selama ini, Inggrit belum pernah mendapatkan penglihatan yang menunjukkan masa depan secara langsung dan akurat.
Arthur menghela nafasnya pelan, lalu kembali memperlihatkan Indi, adegan drama menjijikan yang selalu dibencinya. Arthur menggengam kedua tangan Inggrit.
“Aku tahu kau saat ini penuh dengan kesedihan. Tapi kita tak harus pergi meninggalkan tempat ini. Apa kau lupa, kalau kau adalah salah satu orang yang kala itu begitu bersemangat untuk membangun tempat ini,” jelas Arthur.
Inggrit menunduk. Matanya jelas tampak ragu, untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Indi jelas tidak pernah paham ini semua akan mengarah pada hal apa.
Ia bahkan baru tahu, kalau Ibunya sewaktu muda dulu, pernah se-ekstreme ini dalam menjalin hubungan. Andai ini bukan akhir dari hidupnya, Indi jelas akan melayangkan jutaan protes pada Ibunya.
Apalagi dengan segala ingatan tentang larangan ibunya dalam berhubungan dengan laki-laki, dan juga tentang segala cerita bohongnya, kalau James adalah satu-satunya lelaki yang pernah hadir dalam hidupnya.
“Aku tahu kau tak akan mempercayaiku,” kata Inggrit pelan.
Arthur menautkan kedua alisnya, tak mengerti tentang kemana arah pembicaraan ini sebenarnya. “Apa maksudmu Inggrit? Pergi dari sini bukanlah cara yang tepat, untuk lari dari kesedihanmu.”
Inggrit melepaskan genggaman tangan Arthur. Matanya kini mulai berair. Indi dapat merasakan kekecewaan dan kesedihan yang mendalam dari Ibunnya.
“Aku terlalu bodoh. Lupakan. Aku akan pergi sendiri dari sini jika kau memang tak mempercayaiku,” kata Inggrit, lalu berjalan meninggalkan Arhur.
“Hentikan!” tangan Arthur kini menahan Inggrit untuk berlalu dari satu\-satunya pintu di ruangan itu.
“Hentikan semua ini Inggrit. Kau hanya tak sedang berpikir dengan jernih saat ini. Sudah ku katakan padamu bahwa semua hal yang terjadi pada Jeannet bukanlah kesalahanmu. Lagipula kita masih belum menemukan bukti kalau dia telah mati dibunuh orang\-orang yang kita lihat. Bisa saja mereka hanya menculiknya, dan saat ini ia masih hidup. Kau tak perlu membebankan dirimu dengan semua itu,”
Kali ini, air mata yang sedari tadi ditahannya membasahi kedua pipinya. Indi yang bahkan tidak sedang berada disitu dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Inggrit. Ada sesuatu yang benar-benar menggangu perasaannya.
“Aku bahkan tahu bahwa kau akan berkata seperti itu. Semuanya sudah kulihat. Aku bisa melihat semuanya Arthur! Karena itu kita harus segera pergi dari sini. Aku tak mau tetap berada disini untuk melihat kejadian yang kulihat, terjadi di depan mataku,” ucap Inggrit, dengan suara yang gemetar pada setiap kata\-katanya.
__ADS_1
Arthur memandang Inggrit dengan prihatin. Ia tak tampak seperti Inggrit yang dikenalnya. “Kau baik-baik saja Inggrit. Kita juga akan baik-baik saja disini. Tak akan ada yang terjadi. Semuanya akan baik-baik saja,”
Detik berikutnya pandangan Inggrit berubah. Kali ini Indi merasakan sedikit amarah dari arah ibunya. “Berhenti mengatakan semuanya akan baik-baik saja, saat kau tidak mengetahui apa-apa. Kalau kau memang tak ingin pergi, tak apa. Aku akan pergi dari sini sendiri. Sebelum semuanya terlambat,” kali ini Inggrit benar-benar meninggalkan ruangan itu, dan Arthur bersama keheningan.
Penglihatan Indi lalu mengabur dengan cepat. Kali ini ia berada di ruangan yang sempit dan gelap. Tempat itu begitu lembap, dan hawanya benar-benar pengap.
Meski begitu Indi merasa familiar dengan tempat itu. Di satu-satunya pintu yang mengarah ke tempat itu, Indi melihat Ibunya dan Arthur, yang dari raut wajah mereka, tampak begitu terkejut dengan apa yang dilihat mereka.
“Kau. Aku tidak menyangka kalau kau melakukan semua ini. Ternyata selama ini kaulah dalangnya. Semua penglihatan yang kulihat ternyata, benar,” ungkap Inggrit dengan nada tak percaya.
“Hentikan semua yang kau lakukan ini Ma\-“
Penglihatan itu lalu diinterupsi oleh sesuatu.
Pandangan itu menggelap dan mulai mengabur. Indi merasakan guncangan pada tubuhnya.
Indi, Indi, Indi!
***Indi, Indi, Indi***!
Suara itu semakin kuat didengarnya, begitu pula dengan guncangannya.
***Indi, kau harus segera bangun, atau kita akan berakhir disini***!
Kedua mata Indi terbuka. Hanya ada hamparan langit gelap yang kini dilihat Indi. Apa sudah tiba di surga? Batin Indi.
“Indi!” secara tiba\-tiba Jeannet menoleh tepat di depan wajah Indi.
“Jeannet? Kenapa kau juga bisa berada di surga?” tanya Indi pelan.
__ADS_1
“Karena kau masih di bumi bodoh! Tolong jangan dulu kembali dengan kebodohanmu saat ini. Kita ada di posisi yang super duper sangat amat teramat genting!” tuturnya dengan sedikit berteriak.
Jeannet lalu membantu Indi untuk duduk. Barulah Indi menyadari kalau ia tidak berada di alam lain. Ia masih berada di tempat yang sama. Ia belum mati. Indi mengedarkan pandangannya.
Di dapatinya Rico tak jauh dari situ. Namun ia tampak tergeletak di tanah, tak berdaya. Apa dia mati? Batin Indi. Pandangan Indi lalu menangkap sesuatu yang mengejutkannya. Tepat di sampingnya, Catherine terbaring begitu lemah. Wajahnya pucat. Bibirnya biru.
“Apa yang terjadi pada Catherine?” tanya Indi, nadanya panik.
Mendengar pertanyaan Indi, membuat Jeannet berkaca-kaca. Hantu cilik itu lalu menggeleng dengan cepat. “Kita akan membahas hal itu nanti. Tapi untuk saat ini, kau harus membantuku untuk membawa Catherine dan segera pergi dari sini,” kata Jeannet mulai panik.
“Apa maksudmu? Kemana kita harus pergi,”
“Kemanapun. Yang jelas kita harus segera pergi dari sini, dan menyelesaikan apapun yang harus kau selesaikan. Atau mereka akan mendapatkan segera mendapatkan kita, dan kita akan mendapatkan apa yang ku sebut dengan M A S A L A H,”
Indi masih tak mengerti apa yang terjadi, ada ratusan pertanyaan yang kini mengitari kepalanya, tapi ia tau saat ini bukanlah waktu yang tepat untu berargumen dengan hantu cilik itu.
Segera ia berdiri dan mencoba mengangkat Catherine. Dia berat, keluh Indi, lengkap dengan raut wajahnya. Jeannet yang melihatnya berdecak, dengan dua tangannya di pinggang.
“Apa kau bodoh atau lupa ingatan? Gunakan kekuatan supermu untuk mengangkatmu? Jelas kau harusnya bisa melakukan hal yang lebih saat ini,” keluhnya.
Indi jelas sangat ingit menjewer atau mungkin menarik bibir kecil si hantu cilik saat ini juga. Namun situasi saat ini memaksanya untuk bersabar. Meskipun ia sempat sepemikiran juga dengan apa yang dikatakan oleh Jeannet barusan.
Ia melirik Jeannet dengan ujung matanya. Lalu mencoba focus pada kekuatannya untuk mengangkat Catherine. Detik berikutnya ia benar-benar terkesima dengan apa yang dilakukannya.
Tanpa perlu berkeringat ataupun mengerahkan seluruh kemampuannya, Indi sudah dapat membuat Catherine melayang beberapa meter dari atas tanah. Sebelumnya ia tak pernah bisa melakukan hal ini, tanpa kelelahan maupun efek samping.
Indi kemudian melemparkan tatapan takjub pada Jeannet, yang dibalasnya dengan tatapan mengejekknya. “Tak perlu sombong. Semua itu bukan hasil bakat alamimu,” cibir Jeannet.
“Sekarang, kita harus ke arah mana?” tanya Indi.
__ADS_1
Jeannet mengarahkan jarinya, dan menunjuk ke arah utara hutan itu. “Kita harus kesana, dan menjumpai yang lain. Ku harap mereka baik-baik saja,” kata Jeannet.
“Tak perlu. Kalian tak perlu kemana\-mana,” ucap suara seseorang yang menginterupsi.