Indi Go!

Indi Go!
Episode 27


__ADS_3

Aku hendak mendengarkan apa yang dikatakannya, hanya saja apa pun yang hendak dikataknnnya tersela, oleh suara-suara yang sangat mengganggu Indi.


“Apakah kau mendengar itu?” Tanya Indi.



“Apa? Dari tadi yang kudengar hanya suara jangkrik, dan seretan sepatu Liona.” Jelas Fanny.


Indi kembali mendengarkan, kali ini ia mencoba untuk focus pada suara itu. Ia mengikuti asal suara, yang membuat Fanny dan Liona harus bersusah payah mengikutinya, dengan menabrak pohon, karena gelapnya malam.


Suara yang di dengar Indi tampak familiar. Ia sering mendengar suara itu di UCI. Waktu ia kecil, terkadang ia mendengar suara yang sama. Suara yang bunyinya sama seperti lonceng kecil.


Setelah tersandung beberapa pohon, dan beberapa kata umpatan, sekitar beberapa meter, Indi melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan mungkin, hal itu adalah salah satu impiannya sejak dulu. Warna-warni dari makhluk kecil bersayap, yang tampak seperti kunang-kunang. Lebih besar tentunya dari kunang-kunang.


“Peri!” seru Indi.


Sedari dulu ia selalu bermimpi untuk bertemu dengan peri. Hal itu tentunya bukan hanya mimpinya saja, tetapi mimpi dari hampir seluruh anak perempuan di dunia.

__ADS_1


Ia kadang sering mengutuk dirinya dan dunia. Kenapa harus makhluk buruk yang sudah mati menjadi tamu hariannya. Kenapa bukan bangsa peri, atau mungkin duyung. Indi masih begitu terkesima dengan apa yang dilihatnya. Ia bahkan tak bergeming selama beberapa menit.


“Indi!” seru Fanny.


Hal itu membuatnya tersadar, meski masih sedikit terkesima, “Baguslah kalau kita bertemu para peri, kau bisa meminta bantuan mereka, setidaknya untuk mengisi perut.” jelas Fanny.


Indi menyadari bahwa mereka belum makan apapun setelah insiden bus pagi tadi. Menurut pelajaran “Bangsa Peri” yang ia dapatkan di UCI. Para peri adalah mahkluk alam yang hubungannya baik dengan manusia.


Oh ya, buat kalian yang mungkin tak percaya dengan adanya bangsa peri, maupun beberapa makhluk mitologi, kemungkinan besar kalian harus mulai percaya. Kalian mungkin tak bisa melihatnya, tapi beberapa orang bisa, dan yang lainnya hanya dapat merasakan aura mereka.


Ada segerombolan peri yang dilihat Indi. Ia penasaran, apa yang dilihat Fanny dan Liona? Kalau mereka adalah orang pada umumnya, kemungkinan mereka akan memandang Indi sebagai orang gila, dan memasung kakinya. Atau kemungkinan yang terburuk, membiarkannya telanjang di jalanan.


“Ha?” Indi mendengar sesuatu seperti dengungan capung, ayolah, siapa yang bisa mendengar suara dari makhluk yang besarnya tak lebih dari seekor kupu\-kupu kecil.



“Aku tak dapat mendengar kalian!” teriak Indi, yang sepertinya membuat beberapa peri tampak terpental.

__ADS_1


Tunggu apa mereka mengerti dengan apa yang kukatakan barusan? Batin Indi. Anak Indigo yang terlahir sebagai seorang naturae mungkin bisa melihat makhluk-makhluk mitologi, tapi untuk berkomunikasi dengan mereka, sepertinya membutuhkan program professor dari bahasa Peri dan makhluk mitologi lainnya.


Peri-peri itu lalu beterbangan tampak menginstruksikan sesuatu, lalu terbang ke arah utara. Indi tak mengerti dengan perilaku peri, tapi sepertinya mereka mau agar Indi mengikuti mereka.


“Hei Indi, kau mau kemana?” Tanya Liona, yang tampaknya terlalu lelah untuk mencerna semuanya.



“Apa mereka akan memberikan kita makanan?” sahut Fanny.



“Entahlah, tapi sepertinya begitu.Dengar, akan memakan waktu semalaman bagi kita untuk tetap melanjutkan perjalanan ke kota. Dan, aku yakin kita semua kelelahan dan kelaparan. Kita tak memiliki jalan lain, selain percaya pada mereka, setidaknya kita tahu bahwa bangsa peri adalah bangsa yang baik dengan manusia.” Jelas Indi, yang diikuti oleh anggukan Fanny dan Liona.


Mereka lalu terus berjalan beberapa kilometer ke utara, melewati hutan (familiar dengan peri) mengikuti para peri, sampai terlihat jalan dua jalur yang tampaknya jarang dilewati di antara pepohonan. Di seberang jalan berdiri sebuah bangunan, yang tampak seperti kedai dan mungkin juga penginapan.


Para peri lalu berhenti tepat di depan tempat itu, lalu terbang kembali ke hutan. Indi tampak terlalu lelah untuk bertanya maupun kembali mengikuti para peri. Mereka butuh istirahat.

__ADS_1


Tempat itu tampaknya tidak seperti kedai pada umumnya. Sepertinya tempat itu merupakan jenis toko barang di tepi jalan yang biasanya menjual souvenir. Hanya saja souvenir yang dipajang di tempat itu tampak aneh.


Gedung utama tempat itu berupa gudang rendah yang panjang, di kelilingi dengan etalase-etalase kayu, yang memajang sayap berbagai jenis kupu-kupu, taring, tanduk, bola mata? Di meja kasie tepat depan dari balik pintu, terdapat papan pendanda, tertulis SOUVENIR LANGKA.


__ADS_2